Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

  • Dalam menjalankan kehidupan ini, untuk kepentingan pribadi, keluarga, group, kelompok, komunitas, dan apa pun yang terkait dengan pribadi saya, sungguh-sungguh tidak boleh ada pengemisan, proposal, iklan, promosi, mengajukan diri, mencalonkan diri, atau apa pun saja yang ada frekuensi kepengemisannya.
  • Saya tidak punya keberanian memaknai kata “do’a” sebagai permohonan, permintaan, mengemis kepada Allah, meskipun Allah sangat mendengarkan orang yang memohon kepada-Nya. Pengertian do’a yang agak mendekati tepat atau enak, mungkin adalah menyeru atau menyapa. Berdo’a adalah menyapa Allah. Kita sapa Dia karena Dia tahu persis apa yang kita inginkan dari-Nya. “menyapa” itu statusnya “memberi”, maka lebih potensial untuk dibalas pemberian oleh Allah. Sedangkan “memohon” ya “meminta”, potensi untuk diberi lebih kecil dibanding menyapa. Sekurang-kurangnya begitulah logika saya.
  • Kalau thawaf saya beraninya menjauh-jauh dari ka’bah, karena tahu diri ini kotor tak terkira. Kalau lancing mendekati ka’bah, saya taku Allah Memelototiku sebagai manusia yang tak tahu diri, GR, merasa bersih, merasa pantas dekat-dekat rumah-Nya.
  • Tak ada Nabi punya statement bahwa dirinya baik, tak ada rasul menyatakan bahwa dirinya tidak kotor. Adam menyebut dirinya kotor, juga Yunus. Muhammad menangis dalam sujudnya tiap malam meskipun secara obyektif ia hamper tak berdosa, tak member hak sedikitpun dalam hidupnya pada kerakusan, kesombongan, hedonism, bahkan kepada kekayaan. Allah menyediakan baginya gunung emas dan jabatan Nabi yang raja, Mulkan-Nabiyya, namun dia memilih sebagai abdan-Nabiyya, nabi yang jelata.
  • Allah menyatakan kalimat yang tak perlu ditafsirkan, “Yang kau buang-buang itu bisa jadi baik bagimu, dan yang kau junjung –junjung itu bisa jadi mencelakakanmu”
  • Sopan santu Jawa menyebut Nabi Muhammad dengan kanjeng Nabi. Dalam bahasa Arab: Sayyid, semacam sir, sayyidina Muhammad. Beliau pernah bilang, “saya jangan di sayyid-sayyid-kan” maka masyarakat Muhammadiyah cenderung tidak memakai gelar sayyidina. Panggil ngoko saja: Muhammad. Tetapi kalau kita menyebut pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan dengan “dahlan” saja, “si dahlan”, atau dulu ketika dia masih sugeng kita menyapa beliau “mau kemana lan?”, teman-teman Muhammadiyah banyak yang tidak siap juga.
  • Sudah terpecah dan terkeping sampai seberapa PKB juga NU? Tidak. Kita ambil perspektif lain. Itu bukan bentrok, bukan perpecahan. Itu romantisme demokrasi, itu dinamika ijtihad (perjuangan pemikiran), itu produk wajar dari tradisi berfikir merdeka, salah satu prinsip yang membuat manusia bernama manusia.
  • Kalau jumlah pemeluk Islam ada sejuta, maka dimungkinkan ada sejuta aliran. Dipersilahkan setiap orang memberlakukan tafsirnya masing-masing, dan satu-satunya yang berhak menagih pertanggungjawaban adalah Tuhan.
  • Saya orang yang tidak perduli hokum. Ada hokum atau tidak, saya tidak akan menyakiti hati manusia. Ada KUHP atau tidak, saya tidak akan maling. Ada Jaksa, Hakim, atau tidak, saya tidak akan mencekik anak tetangga. Ada polisi,pengacara atau tidak, saya tidak akan memerkosa wanita maupun kambing betina dan apa-apa saja.
  • 10.  Akal sehat dan nurani di kedalaman dadaku ini sudah cukup mampu menghalangiku untuk tidak berbuat buruk kepadamu, untuk tidak menyakiti keluargamu, untuk tidak mencuri, memerkosa, atau apa pun yang mencelakakan kehidupan kita bersama.