Oleh Muhammad Nugroho

Ketika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (‘fana) seperti yang dialami para mistikus. Sensualitas dan spiritualitas sebagai proses keberagamaan masih diyakini oleh arus utama (mainstream) agamawan, khususnya Islam, sebagai dua aspek yang berposisi opisisional. Sensualitas yang bisa didefinisikan sebagai pencerapan dengan panca indera diasumsikan fakultas tubuh yang menghalangi perjalangan menuju pintu spiritualitas. Puasa seperti yang dilaksanakan pada Ramadan lalu adalah salah satu cara untuk mengendalikan sensualitas agar tak menutupi pintu ke spiritualitas.

Sebenarnya Islam tak menganut paham asketisme ekstrim, karena itu pengendalian sensualitas dalam puasa bisa dipahami sebagai manajemen sensualitas untuk meningkatkan spiritualitas. Sikap asketisme didefiniskan sebagai sikap yang menolak diri dan menjauhi kesenangan duniawi (Wikipedia: ascetism describes a life characterized by self-denial and abstinence from worldly-pleasures). Sifat komplementaritas sensualitas dan spiritualitas ini kebetulan pernah disinggung sastrawan Mesir Naguib Mahfouz (19-11-2006) yang wafat pada 30 Agustus lalu.

Mahfouz memiliki renungan tentang hubungan antara sensualitas dan spiritualitas yang cukup mendalam. Ini paling tidak menurut analisis novelis dan pemenang Nobel untuk sastra Nadine Gordimer dalam kata pengantar untuk buku Echoes of an Autobiography karya Naguib Mahfouz terbitan Doubleday, 1997. Membicarakan spiritualitas Mahfouz, Gordimer mengatakan bahwa jika sensualitas dalam pengertiannya yang luas bukanlah elemen yang bertentangan, tak terpisah, dari spiritualitas, pada waktu yang sama penerimaan keduanya mengandung pembedaan, sebab hidup sendiri dalam persepsi Mahfouz adalah sebagai sebuah ketegangan antara gairah dan ajaran moral. Sensualitas adalah semangat hidup, daya hidup; di sisi lain pengendalian nafsu adalah cara yang dituntut untuk mencapai spiritualitas.

Menghadapi ketegangan itu, Mahfouz tampaknya memilih sensualitas sebagai bagian dari jalan menuju spiritualitas. Sikap itu tercermin dalam anekdot berjudul The Choice dalam buku Echoes of an Autobiography. Syaikh Abd-Rabbih al-Ta’ih, seorang sufi imajiner, mengatakan: seorang wanita datang kepadaku menanyakan tentang masalahnya. Untuk memberikan jawaban, aku membaca bintang nasibnya melalui pancaran wajahnya dan kujawab. “Di depanmu ada dua jalan; jalan kebajikan dan surga, lalu jalan cinta dan pengasuhan.” Si wanita menjawab sambil tersenyum menawan.  “Sang Pemilik Keagungan telah menyiapkan diriku untuk jalan cinta dan pengasuhan anak, dan aku tak akan menentang keinginan-Nya.” Parabel ini bisa ditafsirkan bahwa Mahfouz memilih jalan cinta daripada jalan syariat.

Penulis menduga bahwa pendapatnya tentang jalan sensualitas itu bersumber dari apresiasinya terhadap hidup, wanita dan agama yang cukup mendalam. Ambisi untuk kehidupan duniawi–yang dalam bahasa Mahfouz “keras tapi menarik”—adalah nada dasar dalam hidupnya, dan itu tercermin dalam karya-karyanya, termasuk eksesnya bila tak tercapai. Prinsip itu tercermin dalam parabel berjudul The Bridegroom dalam buku Echoes. Aku bertanya kepada syaikh Abd-Rabbih al-Ta’ih tentang tokoh idolanya, dan dia menjawab. “Orang bijak yang kesaktiannya ditunjukkan dengan pengabdian kepada masyarakat dan berzikir kepada Allah; pada ulangtahunnya yang keseratus tahun dia menenggak minuman, bernyanyi dan menikahi gadis berusia duapuluh tahun. Dan di malam pengantin datanglah sejumlah malaikat yang memercikkan parfum wangi dari gunung Qaf di ujung bumi.”

Apresiasinya terhadap agama bisa dibaca melalui wawancaranya dengan majalah Paris Review pada 1992. Menurut Mahfouz, agama sangat penting untuk manusia, namun agama seharusnya ditafsirkan dengan sikap pikiran terbuka. Agama harus berbicara tentang cinta dan kemanusiaan. Sikap beragama yang mengedepankan cinta dan kemanusiaan ini sejalan dengan ajaran sufisme, aspek esoterik Islam yang juga banyak mempengaruhi Mahfouz. Walau pernah mengatakan bahwa dia menyukai sufisme sebagaimana dia menyukai puisi yang indah, namun Mahfouz tak menafikan pentingnya sufisme sebagai sumber inspirasi.

Apresiasinya terhadap wanita bisa dibaca dari catatan-catatan berupa parabel, anekdot dan dialog dalam buku Echoes. Bagi Mahfouz, wanita adalah simbol bukan hanya untuk keindahan dan kenikmatan dalam menghidup, tapi juga simbol pembebasan spiritual. Hal ini dipersonifikasikan dalam kata-kata Mahfouz sebagai seorang wanita telanjang dengan setangkai bunga dari sari kehidupan. Simbol ini untuk menghormati perempuan, dan bukannya bias patriarki.

Bagaimana sebetulnya hubungan antara sensualitas dan spiritualitas?  Dr. Taufiq Pasiak, dosen fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado pernah menulis di majalah Azzikra Jakarta bahwa banyak penelitian menemukan bahwa orang-orang yang mempraktikkan kehidupan spiritual yang dalam, atau orang-orang melakukan hubungan seks yang didasari cinta dan keterikatan, dapat memperpanjang umur, lebih terhindar dari stroke dan penyakit jantung, memiliki sistem kekebalan yang lebih baik, serta memiliki tekanan darah yang relatif rendah dibandingkan subyek yang menjadi pembanding.

Masih menurut Dr. Taufiq, pengalaman spiritual dan seksual–bagian dari sensualitas–bagaikan dua sisi dari sebuah koin sirkuit sarafi yang diaktori oleh sistema limbicum, bagian yang paling tua dalam evolusi perkembangan otak yang berhubungan dengan spiritualitas. Riset-riset neurosains membuktikan bahwa kegiatan seksual dan penyatuan mistis (mystical union) melibatkan sirkuit yang sama dalam otak manusia. Struktur neurologis yang terlibat dalam pengalaman spiritual adalah juga struktur yang terlibat dalam pengalaman seksual.

Ketika seseorang merasakan kenikmatan ejakulasi atau orgasme, maka ia seperti sedikit merasakan kenikmatan penyatuan diri (‘fana) seperti yang dialami para mistikus. Dalam konteks di atas, kita bisa berhipotesis bahwa hubungan seks yang didasari atas cinta dan keterikatan merupakan jalan pertama menuju penyatuan diri yang hakiki dengan Yang Dicintai. Masuk akal jika kesamaan sirkuit sarafi yang dipakai ini mewujud juga dalam ekspresi bahasa yang relatif sama. Bukan kebetulan jika istilah dan idiom yang dipakai kalangan mistikus ketika melukiskan penyatuan itu merupakan terma-terma romantisme yang juga dipakai ketika seseorang jatuh cinta.

Memakai cara pandang temuan neurosains mutakhir tersebut, saya menilai pemikiran Mahfouz tentang komplementaritas sensualitas dan spiritualitas memiliki dasar yang kuat.