Dialog Imajiner Mughni dan Tuhan
(Seputar Ampunan Tuhan)
Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Mughni yang merasa begitu malu untuk memohon ampunan kepada Tuhan, dia begitu bingung apakah Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang banyak dan besar-besar?. dia memang meyakini bahwa Tuhan akan mengampuni dosa hamba-hamba-Nya. tapi disisi lain, banyak orang yang berkata, “Jika kita sering memohon ampunan Tuhan, namun setelah itu berbuat dosa lagi, memohon ampun lagi, berbuat dosa lagi, maka sama saja kita sedang ‘mempermainkan’ Tuhan.” atau sering disebut orang dengan ‘Taubat sambel’

Maka Tuhan pun merasa kasihan terhadap Mughni atas kebingungan yang dilandanya. sehingga pada suatu malam Tuhan mendatangi Mughni dalam mimpinya. maka terjadilah dialog antara Mughni dan Tuhan sebagai berikut:

Tuhan :    Aku lihat kamu sedang bingung?

Mughni :    Betul.

Tuhan :    Apa yang sedang menyerang fikiranmu wahai hamba-Ku?

Mughni :    Begitu banyak kedurhakaan yang aku perbuat kepada-Mu, aku sering beristighfar atas dosa yang aku lakukan, namun setelah itu aku tak kuasa mengendalikan hawa nafsuku sehingga berbuat dosa lagi, kemudian aku beristighfar lagi, dan berbuat dosa lagi. terus saja seperrti itu. apakah dengan begitu Engkau merasa aku ledek dan kupermainkan?

Tuhan :  Justru Aku senang melihat kamu terus memohon ampun kepada-Ku, walau pun setelah itu kamu berbuat dosa lagi.

Mughni :   Kenapa begitu? para ustadz selalu bilang, bahwa yang aku lakukan itu sama dengan mempermainkan-Mu?

Tuhan :    Sebetulnya yang Aku inginkan adalah taubat seperti itu.  aku ingin bertanya kepadamu, apakah ada seorang manusia yang setelah dia bertobat kepada-Ku, kemudian dia tidak berbuat dosa lagi?

Mughni :     Ya pasti tidak ada..! Karena Engkau sendiri yang menciptakan manusia untuk condong kepada kebaikan dan keburukan, sebagai ciri kesempurnaan manusia dibandingkan makhluk-Mu yang lain.

Tuhan :    Nah itu kamu tau..! jadi yang aku maksudkan ‘Taubatan Nashuha’ adalah bukan setelah bertaubat dia terus berhenti dari dosanya, tapi ‘Taubatan Nashuha’ adalah setelah dia berbuat durhaka kepada-Ku, maka dia merasa bersalah kepada-Ku, dan memohon ampuan-Ku, juga dia tidak berlaku congkakterhadap-Ku. walau pun setelah itu dia mengulang kembali dosanya. ingatlah mughni..! sesungguhnya Aku tak pernah bosan menerima taubatmu, sehingga kamu sendiri yang merasa bosan untuk bertaubat kepada-Ku.

Mughni      : Bagaimana jika dosa yang aku perbuat adalah dosa-dosa yang besar?

Tuhan :       Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa setinggi langit, sebesar gunung, dan sebanyak buih lautan, kemudian kamu mengharap maaf-Ku, niscaya akan Aku maafkan kesalahanmu itu. dan Aku tidak akan perduli lagi dengan dosa-dosamu itu.

Mughni      :    Tapi kenapa banyak manusia, bahkan mereka dianggap orang yang berilmu, selalu berkata kepada saya, “Allah tidak akan mengampunimu, karena dosamu terlalu banyak. dan yang pantas untukmu hanyalah neraka jahannam”?

Tuhan :  Orang yang berkata seperti itulah yang tidak Aku sukai. merekalah yang membuat hamba-hamba-Ku berputus asa dari kasih sayang-Ku. mereka seakan-akan menuduh-Ku sebagai Tuhan yang mudah tersinggung, Tuhan yang kejam, dan Tuhan yang mudah murka atas kedurhakaan yang hamba-Ku perbuat. padahal mereka tahu bahwa kasih-sayang-Ku lebih besar daripada murka-Ku.

Mughni :   Kalau begitu, terima kasih atas anugrah yang Engkau berikan selama ini, maaf jika aku tidak suka bertaubat kepada-Mu, aku hanya mampu memohon ampun saja.

Tuhan :   Kenapa seperti itu?

Mughni : Wahai Tuhan, jika aku bertobat, seakan-akan aku berucap pada-Mu “Wahai Tuhan, aku berjanji tak akan mengulang kembali perbuatan dosaku” padahal aku sangat tahu keburukan perangaiku. karenanya aku tak ingin bertobat kepada-Mu. aku sudah malu untuk mengkhianati-Mu.

Tuhan :    baiklah kalau itu alasanmu. tolong sampaikan salam-Ku kepada hamba-hamba-Ku yang sering berbuat durjana. bilang kepada mereka ‘bahwa aku menunggu mereka di pintu ampunan-Ku’

 

Catatan: dialog ini hanyalah sebuah imajinasi saja, dan bukan berati saya sudah bertemu Tuhan.

Wallahu’alam