Oleh : Sanghyang Mughni Pancaniti

“Manusia itu terkena ‘owah gingsir’“. Itulah salah satu kalimat yang diucapkan oleh ‘Kolot Baheula’. Owah gingsir berarti manusia itu tidak diam dalam satu martabat, tidak diam dalam satu sifat atau tabi’at. Manusia adalah makhluk kemungkinan dan bukan makhluq kepastian seperti Malaikat dan Setan. Semenit bisa ganti, datu jam bisa berubah. sekarang iman, besok bisa munafik. sekarang munafik, besok bisa jadi beriman. sekarang ulama, besok bisa jadi bajingan. sekarang penjahat, besok bisa jadi orang baik. Itulah manusia yang selalu berubah-ubah, tak pernah pasti.

Kita sering melihat seseorang yang selalu berlaku durjana, dengan mudah kita vonis dia sebagai bajingan tengik dan pasti mendapat murka Tuhan. dan jika kita lihat seseorang yang rajin mengabdi kepada Tuhan, maka kita sebut dia sebagai orang sholeh dan pasti masuk syurga. Pernahkan anda mendengar seorang manusia yang membunuh hingga ratusan jiwa, namun pada akhirnya dia dimasukan ke dalam syurga? atau seorang pelacur yang mendapatkan kasih Allah karena menolong seekor anjing yang kehausan?, dan apakah anda pernah mendengar seorang ulama yang bernama Bashirsha? karena ketaatannya beribadah, Allah anugrahkan dia murid-murid yang sakti? namun apa yang terjadi, diakhir hidupnya dia telah berlaku kufur kepada Allah, hingga Allah masukan dia ke dalam neraka.

Apa pun yang dilakukan seseorang sebelum tiba ajalnya, itu adalah proses dan bukan hasil akhir.  Maka terhadap yang berlaku jahat, janganlah kita hina dan hujat, apalagi sampai dijauhi. namun temanilah mereka untuk menanti kasih sayang Tuhan, supaya segera mengeluarkannya dari kubangan tersebut. Dan terhadap orang baik, temanilah supaya ia tetap istiqomah dalam kebaikannya, jangan memujinya secara berlebihan, karena itu sama saja dengan membiarkan ia membusungkan dada. Rasulullah pernah memberi saran jika seseorang terpaksa harus memuji saudaranya, “Jika kamu terpaksa harus memuji saudaramu, maka katakanlah, ‘Aku mengakui bahwa dia adalah orang baik, namun dihadapan Tuhan dia seperti  apa aku tak tahu'”.

Janganlah tergesa-gesa memvonis seseorang, karena kebaikan atau keburukan seseorang tidak hanya bisa dilihat dari yang sedang dilakukannya,  tapi kata harus tahu konteks-konteks yang melatarbelakangi kenapa dia belaku seperti itu, alasan-alasan yang menjadikan ia berbuat itu, dan kandungan niatnya yang terletak di dalam hati yang sangat jauh dan dalam. misalkan begini, suatu saat kita melihat seseorang sedang menegak minuman keras, jangan langsung kita tuduh dia sebagai pemabuk atau pelaku dosa. Bagaimana jika dia menegak minuman itu karena terpaksa? atau karena lupa akan dirinya?, bukankah Allah akan mema’lumi umat Muhammad yang berlaku dosa namun didasari oleh keterpaksaan dan lupa?. Ammar bin Yasir salah seorang sahabat nabi pernah terpaksa mengakui Latta dan Uzza sebagai Tuhan, karena dia tidak tega melihat ayah ibunya disiksa habis-habisan oleh Kafir Quraisy di depan matanya. dia berkata seperti itu supaya orang-orang Kafir Quraiy melepaskan ayah ibunya. Ketika Rasulullah mengetahui kejadian itu, beliau malah berkata, “Jika mereka menyuruhmu lagi berkata seperti itu, maka katakanlah..” ini berarti dalam konteks-konteks tertentu, segala sesuatu itu bisa terbalik. yang haram bisa jadi halal, dan yang halal bisa jadi haram.

Agar bijak kita menghakimi sesuatu, kita harus mengikuti cara Allah. Dia itu ‘Aalimul Ghaibi Wa Syahadah’, selain Dia mengetahui yang ghaib, Dia pun menyaksikan keghaiban itu. jadi kita jangan hanya sebatas tahu, tapi masukilah masalah itu, telitilah dengan bijak, agar tak terjadi fitnah sana-sini. Jangan bilang kopi itu tidak enak, jika belum pernah minum kopi. jangan pernah bilang kalau Bandung itu indah, jika belum pernah menginjakan kaki di Bandung.

Wallahua’lam..