Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Puasa adalah pekerjaan menahan diri di tengah kebiasaan melampiaskan, atau mengendalikan diri di tengah tradisi melimpahkan. Puasa tidaklah sebatas menahan diri dari makan, minum dan syahwat dari mulai terbitnya sang fajar, sampai terbenamnya sang surya. Makna puasa tidaklah sesempit dan sesederhana itu, namun lebih luas dan lebih dalam dari yang selama ini diartikan oleh sebagian besar masyarakat.

Saat kita berpuasa, berarti kita sedang belajar menahan diri untuk tidak menindas orang, untuk tidak menyakiti orang , untuk tidak memperkosa alam, untuk tidak memunafikkan diri, dan untuk tidak terus-menerus memelihara kedunguan serta ketololan yang sengaja dipelihara dirinya. Puasa selalu hadir kepada kita kapan saja dan dimana saja, puasa tidak menutup diri kepada siapa pun kita, apa pun kedudukan social kita, dan juga apa pun agama kita, bahkan puasa pun bisa hadir ke bukan manusia.

Jika puasa kita maknai sebagai pengendalian dan penahanan diri, maka puasa tidak hanya dilakukan saat bulan Ramadhan saja, namun harus kita lakukan disetiap gerak dan langkah sepanjang hidup di dunia fana ini. Puasa Ramadhan ‘hanyalah’ sebuah acuan. Sebuah contoh soal metodik tentang kebutuhan manusia untuk menahan, menyaring, menjernihkan, membeningkan, dan mensublimasikan apa pun saja yang terjadi dalam sebelas bulan sebelum Ramadhan.

Ramadhan adalah kesempatan untuk berlatih puasa dan mengingat kembali bahwa dalam kehidupan nyata sangat mungkin kita harus menjalankan puasa-puasa. Sedangkan petinju yang empat bulan sekali bertanding sekedar 12 ronde saja perlu tiga bulan berlatih. Apalagi kita yang harus bertanding melawan hawa nafsu seumur hidup. Maka Tuhan member peluang kepada kita semua untuk berlath agar kita sempat memperbarui kesadaran sikap dan moral kita.

Allah menunjukkan kepada manusia bahwa puasa adalah prisip dasar untuk menjalankan hidup. Puasa adalah menahan diri, mengendalikan, dan menyaring. Karena prinsip dasar kehidupan bukanlah melampiaskan, meloskan, atau menghabiskan. Hancurnya dunia ini diakibatkan oleh manusia yang tidak mau membiasakan dirinya untuk selalu berpuasa (menahan diri), silahkan baca koran, tontonlah televisi, saksikanlah peperangan, perebutan, penggusuran, pembongkaran, dan penindasan, kemudian mengobrolah dengan teman kita, berbicaralah tentang segala keadaan yang terjadi di muka bumi ini, maka kita akan menemukan pertanyaan yang sama: kenapa manusia sangat tidak bisa menahan diri?.

Tatkala manusia berpuasa (menahan diri), maka secara otomatis dia telah mengikuti akhlaknya Allah, karena Dia selalu sedemikian menahan diri. Bukankah dengan tumpukan dosa kita, tidak pantaskah Allah dari dulu-dulu murka dan melindas kita semua. Allah memberi contoh amat dahsyat soal mengendalikan diri. Dengan amat setia Allah menerbitkan matahari tanpa peduli apakah kita pernah mensyukuri terbitnya matahari atau tidak.

Begitu Allah sangat menahan diri. Dia tetap memperkenankan kita berbadan sehat, bernapas, dan bergerak. Bukankah Dia sangat menahan diri, dengan tetap menerbitkan matahari, mengalirkan air dan menghembuskan angin, seolah-olah tidak peduli betapa malingnya kita, betapa munafik dan kufurnya kehidupan kita.