Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintangan penuh darah penuh nanah..’ itulah salah satu syair Iwan Fals berjudul ‘Ibu’ yang menggema di telinga masyarakat Indonesia. Syair itu mengingatkan para pendengarnya bagaimana perjuangan seorang ibu yang sepertinya Tuhan memang fitrahkan dalam dirinya untuk selalu menumpahkan dan melimpahkan semua kasihnya untuk sang buah hati. Walau harus rela menitikan keringat dan air mata, yang terpenting si buah hati merasa aman dan damai dalam pangkuannya.

Ibunda yang mengobati kaki kita waktu penuh luka karena tersandung batu saat bermain bola. Ibunda yang menyeka keringat disaat kita kelelahan sehabis pulang sekolah. Ibunda yang bersusah payah mencuci dan menyetrika baju-baju kita. Ibunda yang dengan setia menunggu sampai kantuk karena kita belum pulang sekolah. Ibunda yang ikhlas tidak tidur demi menjaga kita yang sedang sakit. Ibunda yang menangis disaat kita dimarahi tetangga karena memecahkan kaca jendela miliknya. Ibunda yang memeluk disaat kita benar-benar butuh perlindungan. Dan ibunda-lah yang tak bosan menyapa Tuhan agar kita dijadikan sebagai anak yang sholeh/sholehah. Maka pantaslah jika Kanjeng Nabi Muhammad menyebut ibu sebanyak tiga kali dibanding ayah yang hanya sekali dalam sabdanya.

Ibu selalu bersedih saat kita kesakitan, ibu selalu merasa terluka disaat kita berdarah, ibu selalu menghibur disaat kita menangis, ibu selalu memeluk disaat kita menggigil kedinginan,  ibu sangat bergembira tatkala kita tertawa, dan ibu selalu mengucap syukur saat kita berbahagia. Allah menitipkan kunci syurga di telapak kaki ibu, namun hal itu tak menjadikannya kebanggaan dan kekuasaan atas kita, melainkan dijelmakannya menjadi kasih sayang tak terhingga, diolahnya menjadi kelapangan hati yang begitu luas, dan diraciknya sehingga menjadi persediaan maaf yang tak kunjung habis.

Maka buatlah ibunda tersenyum bahagia karena kebaikan hidup kita, dan wujudkanlah senyumannya menjadi kasih sayang yang dilimpahkan kepada seluruh manusia, agar syurga betul-betul menghampar di masa depan kita. Dan biarkan ibunda menitikan air mata karena kesuksesan kita, untuk kemudian kita olah tangis itu menjadi taburan wewangian ke sekeliling kita, sehingga istana emas di hari depan mau menanti kita dengan sabar. Namun jika ibunda menangis oleh kepahitan yang kita ciptakan melalui perbuatan-perbuatan durhaka, maka suara rintihan  dari kedalaman hati ibunda akan menjelma menjadi lengkingan-lengkingan terompet amat keras dan memekakkan langit, dan itu membuat ribuan malaikat naik pitam, sehingga mereka beramai-ramai turun ke bumi mengumpulkan batu-batu untuk ditumpuk menutupi jalan di depan kita.

Ibu akan selalu memaafkan kedurhakaan-kedurhakaan kita, namun jangan sampai kita terus menerus menyakiti hatinya yang suci. Karena setiap pemaafannya atas setiap kesalahan kita, itu akan digenggam erat-erat oleh para malaikat untuk diusulkan kepada Allah agar dijadikan kayu bakar neraka kita. Dan jika jiwa beliau kita tusuk terus menerus oleh pisau kebusukan kita, maka Allah akan merubah peran-Nya dari Sang Penabur Kasih menjadi Sang Pengancam dan Sang Penyiksa Yang Maha Dahsyat.

Ummi…

Aku aneh…?

Tak pernah kau sesal

Padahal aku selalu buatmu sesal

Ummi

Aku aneh…?

Hitam kelamku slalu kau tutupi

Dengan kasihmu

Ummi

Aku aneh…?

Kau tau aku tak bisa balas

Tapi kau tak pernah berbelas

Semoga maha penentu. Meridhoi ridhomu