Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Apabila berucap, lain di bibir lain pula di hati. Saat berjanji, tak bosan-bosannya untuk mengingkari. Dan ketika dipercaya untuk memegang sebuah amanat, maka pengkhianatanlah yang terus diterapkan. Itulah ciri orang munafik yang pernah disabdakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW 14 abad yang lalu. Kemunafikan itu dibahasakan lagi oleh orang Sunda dengan ‘jasad iman, ati mungkir’

Sehubungan dengan lebih besarnya kemarahan Tuhan kepada orang munafik dibandingkan kepada orang kafir, mungkin bisa kita logikakan seperti ini: jika kita melihat kobaran api, kemudian disaat diidentifikasi itu benar-benar api, tinggal kita panggil pemadam kebakaran untuk memadamkan apa itu, maka semuanya akan selesai. Namun jika kita melihat api, kemudian kita panggil pemadam kebakaran dan menyediakan ember yang berisi air, namun ternyata itu bukanlah api..! susahnya bukan main. Lebih baik kita melawan seribu penguasa yang kejam, berperang melawan pemimpin yang dzalim, daripada bersahabat dengan orang yang kita anggap ulama, ternyata adalah penipu, kita anggap dia sebagai tokoh teladan, ternyata ia adalah maling kelas kakap, kita anggap dia sebagai panutan, ternyata ia adalah tikus besar yang menggerogoti kekayaan kita. Saya yakin anda akan memilih berteman dengan Fir’aun, daripada bersahabat dengan orang yang kita sangka sebagai Musa, ternyata ia lebih Fir’aun daripada Fir’aun.

Hari ini betapa sulitnya kita membedakan mana orang yang benar-benar baik, dan mana orang yang munafik. Kita sudah tak mampu lagi memisahkan mana siang mana malam, mana lunglai mana tegak,  mana ke depan mana ke belakang, mana batang mana ranting, mana kepala mana kaki mana kyai mana bajingan, mana ulama mana maling, mana guru mana penjilat, mana teman mana pengkhianat, mana pemimpin mana penguasa, sungguh sulit membedakan semuanya itu.

Munafik itu sangat banyak lapisannya. Di wilayah tertentu ia suatu yang tak mudah dihindari. Di wilayah lain ia suatu kewajaran, dan di wilayah yang lain ia adalah suatu keharusan dan kewajiban. Ada kemunafikan yang betul-betul kemunafikan. Ada kemunafikan yang separuhnya kejujuran. Ada kejujuran yang kelihatannya adalah kemunafikan. Ada kemunafikan yang Nampak seperti kejujuran. Ada kemunafikan yang jujur. Ada kejujuran yang munafik. Ada kemunafikan yang dilindungi kejujuran. Ada kejujuran yang dilindungi kemunafikan. Dan ada kemunafikan yang popular dan menjadi kelaziman umum, sehingga tidak lagi dianggap sebagai kemunafikan.