Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Dewasa ini sungguh alam semesta mengeluarkan keluhannya melalui berbagai ancaman terhadap umat manusia.  Semesta ini menjelma menjadi ‘Sang Pembunuh’ orang-orang yang entah bersalah padanya atau tidak, pembunuhan yang dilakukannya benar-benar tak pilih kasih dan membabi buta. Mau bocah, muda, tua, pendosa, orang baik, muslim, Kristen, atau apa pun statusnya ia lahap dengan amukannya. Di Yogyakarta Gunung Merapi memuntahkan isi perutnya berupa lahar dan debu, di Mentawai gempa bumi diiringi Tsunami menghempas penduduk setempat hingga luluh lantak, sehingga hanya ada tangis dan rintihan para korban dan keluarganya. Dan begitu banyak bencana sebelumnya yang terjadi di bumi pertiwi ini. Kalau kata peribahasa sunda, “‘Musibah teh Beledug di belah kidul, jeleger dibelah kaler, sing jorowok di belah kulon, sing koceak dibelah wetan’

Berbagai pendapat mengenai bencana ini dilontarkan oleh para ahli, baik dari ulama, kyai, ustadz, ahli bumi, ahli langit, ahli air, ahli api, dan ahli-ahli yang lainnya. Menurut bapak kyai musibah ini adalah ujian dari Allah untuk para hamba-Nya yang beriman, ditimpal lagi oleh sang ulama yang berteriak bahwa bencana ini adalah peringatan Allah pada orang-orang yang sudah lupa akan ‘syukur’, namun para ustadz tak ingin kalah dengan mengatakan bahwa ini adalah hukuman Allah terhadap umat manusia yang semakin gila dan semakin tidak menjauh dari Allah.

Jika bencana ini adalah ujian, apa indicator yang menunjukkan bahwa kita memiliki peluang dan kepantasan untuk naik kelas, naik pangkat dan naik derajat, sehingga perlu diuji terlebih dahulu? Jika bencana ini adalah peringatan dari Tuhan, karena kita banyak melakukan hal-hal yang Allah merasa jengkel atau ‘keuheul’ dan murka terhadap kita, mana tanda-tanda bahwa kita adalah orang yang sedang diberi peringatan? Mana gejala mawas diri, mana pemandangan intropeksi, mana tanda rasa bersalah, yang membuat kita layak disebut sebagai manusia yang sedang diberi peringatan? Dan jikalau bencana ini menunjukan bahwa kita sedang dihukum oleh Yang Empunya, tak cukup bukti bahwa kita sedang prihatin, sedang sibuk menginsyafi diri, sibuk bertafakur dan mengumpulkan segala kemungkinan perbaikan diri sebagai suatu masyarakat yang sedang dihukum oleh pemiliknya. Pertanda Apa Sesungguhnya ‘Bencana’ Ini?