Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Pohon besar yang berdiri gagah di kampus tercintaku membelai sejuk seluruh tubuh, kicauan burung-burung liar mendendangkan syair kesepian, obrolan sahabat-sahabatku tanpa lelah mengiringi pekanya telinga. Sedang aku terduduk diatas bongkahan batu dalam keadaan termenung, mengitari alam sekitar. Namun tiba-tiba kulihat seorang wanita berjalan dihadapanku dengan membungkukan badan diiringan kata, ‘punten’. Serentak aku dan kawanku menjawab hormatnya itu dengan mengucap ‘mangga..’.

Kemudian wanita itu merehatkan tubuhnya dengan duduk disamping kawan perempuannya. Aku menundukan kepala tanpa kata dan bahasa, terus bertanya-tanya siapakah wanita ini?. Wajah sejuk dan harum tubuhnya begitu bertahta dalam ubun-ubunku. Tanpa berfikir panjang aku segera menghampirinya, aku berjongkok di depannya tanpa rasa malu dan bertanya, ‘Siapakah namamu?’ dia menjawab dengan sedikit tertawa, ‘namaku mangga..’. tatapan matanya yang dibalut celak, serta senyumnya yang manis betul-betul membekas dalam ingatanku. Ya aku akui.. bahwa aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak lama setelah itu aku menjelma menjadi seorang penyair dan kemudian aku lantunkan sebuah puisi..

Dirimu melewatiku yang terduduk

Segeralah wajahku tertunduk

Dirimu memancarkan cahaya ufuk

Walau dengan badan membungkuk

 

Tatapanmu meruntuhkan hatiku

Dalam ketidaktahuanku siapa dirimu

Tanyaku padamu yang tak tahu malu

Membuatmu tertawa tersipu

 

Rasa cinta dalam dada mulai tersepuh

Dengan hati keras yang telah melepuh

Yang selama ini selalu berdiri angkuh

Membuat diriku melayang jauh

 

Bibir ini terus mendendangkan namamu

Mata ini terus membayangkan senyumanmu

Telinga ini terus mendesirkan tawamu

Hati ini pun runtuh merasakan tatapanmu

13/07/10-02.29