oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Semilir angin malam memaksa masuk ke dalam tulang dan sumsumku yang semakin rapuh. Longlongan binatang malam menggema di setiap penjuru asa. Bintang dan bulan yang setia menumpahkan cahayanya pada sang bumi, terus menemaniku yang sedang ada dalam lamun dan resah. Seraut wajah terus-menerus menghias dua kelopak mataku, suaranya begitu menancap dalam gendang telinga, dan harum tubuhnya sangat menusuk hidungku. Ini memang khayal, memang bayang, tapi seolah begitu nyata.

Ah.. ada apa ini? Gundahku begitu kuat menujunya, resah memaksaku untuk melangkah kepadanya, dan risauku mendobrak rasa untuk segera memeluknya. Ah aku tidak mengerti dengan keadaanku sekarang ini. Aku coba menenangkan jiwa yang ada dalam keresahan yang begitu nyata, aku mulai menyalakan sebatang rokok yang dari tadi memelototiku, dan kureguk kopi susu hangat buatan ibunda. Dengan keadaan seperti ini, segera saja aku melantunkan sebuah syair, dan pendengarnya adalah semesta..

Bibirku merindumu

Wajahku merindumu

Telapakku merindumu

Kulitku merindumu

Dagingku merindumu

Tulangku merindumu

Uratku merindumu

Darahku merindumu

Nafasku merindumu

Jiwaku merindumu

Mimpiku merindumu

Ruhku merindumu

Sirrku merindumu

Seluruh aku merindumu

13/07/10-11.50