oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Semalam suntuk aku terus kenangkan wanita yang bernama Mangga itu, dia laksana pencuri yang mengambil hatiku seketika. Ya..ini memang tiba-tiba, aku telah jatuh cinta saat pertama kali melihatnya. Cinta tak membutuhkan waktu lama, jika Tuhan sudah menancapkan cinta itu, apa mau dikata. Akhirnya aku beranikan diri untuk meminta no Handphonenya sekedar ingin lebih dekat dengannya saja. Dalam jangka tiga hari setelah mendapatkan no poselnya, kami sering berkomunikasi baik lewat sms maupun telephone.

Dalam salah satu sms-ku aku tak gentar mengungkapkan isi hatiku, ‘Nenk.. akang ragrag eceng ka nenk.’. aku ingin menghormati hatiku yang berbisik bahwa aku suka padanya. Karena aku tak ingin munafik kepada diriku sendiri. Dia bertanya-tanya padaku, apa arti ‘Ragrag eceng’ itu, aku menyuruhnya untuk mencari sendiri arti kata itu. Sampai suatu malam dia meneleponku dan berkata, ‘Aa telah jatuh cinta padaku’ , aku malu, sungguh malu. Namun ini tak membuatku menjilat ludahku sendiri. Dalam diamku aku bergumam..

Tuhan..

Aku sudah tak tahan sepi

Ingin mulai mencintai

Dia yang ku kasihi

 

Tuhan..

Engkaulah Penunduk Rasa

Engkaulah Pemahat Cinta

Di setiap dada manusia

 

Tuhan..

Aku sangat mencintainya

Tak ingin aku kehilangannya

Selama aku masih bernyawa

 

Tuhan..

Engkaulah Pengukir Kasih

Engkaulah Penghibur Sunyi

Di setiap hati yang mencintai

13/07/10-03.08