Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, sampai hidup yang akan berganti menjadi mati..!. begitu banyak yang aku lakukan selama itu, mulai dari berlaku munafik, berlaku bajingan, berlaku tolol, menindas, memonopoli, mengeksploitasi, menggerogoti harta yang bukan hakku, menjilat pantat atasan, dan apa pun yang bentuknya makar.  Aku tak ingin menyebutkan kebaikan-kebaikan yang  sudah diperbuat, biarkan itu menjadi wewangian bagi setiap langkahku. Namun yang paling penting pada saat ini adalah bagaimana aku menjadi seorang Raja yang memimpin seluruh budak yang bersarang pada diri.

Aku sedikit kenangkan bagaimana Kanjeng Nabi Muhammad berhijrah (berpindah) dari Mekkah al-Mukaromah ke Madinnah al-Munawarroh bersama para sahabatnya untuk memulai hidup yang baru tanpa ada pemboikotan, penindasan dari para Kafir Quraisy ketika itu. Mereka rela menginggalkan harta, keluarga, dan apa pun yang bagi mereka penting demi menggapai ridho yang dijanjikan Tuhan Maha Pengasih.

Ada ilmu yang aku ambil dari sejarah hijrahnya Rasulullah ini, aku harus menghijrahkan diriku  yang busuk menjadi penabur wangi, sewangi cinta-Nya. Dari yang hanya marah-marah menjadi ramah tamah, seramah kasih-Nya. Dari  yang  hobinya pilih kasih menjadi penancap adil, seadil anugrah-Nya. Dari yang senangnya pamrih menjadi pecinta ikhlas, seikhlas belaian-Nya.  Dan menghijrahkan diri mengikuti keinsyafan Adam, ketahanan Nuh, kecerdasan Ibrahim, ketulusan Ismail,kebersahajaan Ayub, kesabaran Yunus, kelapangan Yusuf, kesungguhan Musa, kefasihan Harun, kebeningan Khidir, kesucian Isa, serta kematangan Muhammad.

Duhai Allahku Terkasih.. kemarin hanya badanku saja yang shalat, namun sekarang anugrahilah  agar tubuh, ruh, sukma, ma’rifat, denyut nadi, detak jantung, hembusan nafas, dan seluruh aku sembahyang bersujud kepada-Mu..

Duhai Allahku Terkasih.. kemarin hanya perutku lah yang berpuasa menahan lapar, namun sekarang anugrahilah agar mata dan lihat, telinga dan dengar, mulut dan sabda, hidung dan cium, tangan dan ubah, kaki dan langkah, hati dan rasa, akal dan fikir, serta seluruh aku berpuasa dari sesuatu yang membuat-Mu jengkel..

Duhai Allahku Terkasih.. kemarin yang bedzikir hanya sebatas mulutku saja, laksana seorang dukun yang berkomat-kamit, namun sekarang anugrahilah agar  fu’ad, dhomir, sir, lathifah, dan seluruh aku mengingat akan kemahaan-Mu..