Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Telepon itu masih aku genggam, suaranya masih terdengar lirih saat dia mengetahui arti kata-kata itu dan mengungapkannya padaku. Dengan rasa berdebar-debar, aku bertanya apa jawabannya setelah mengetahui bahwa aku mencintainya?. Dia hanya menjawab, ‘kita jalani saja..’ ah.. sungguh jawaban yang tak jelas, tanpa ada keputusan dia menolak atau menerima, aku tak tahu…!

Kadar rasa cintaku benar-benar memuncak, walau jawabannya tak jelas aku bertekad untuk menjalani hubungan tanpa status ini, sesuai yang dia harapkan. Walau sebenarnya aku membutuhkan status agar tak ‘melirik’ kemana-mana lagi. Aku meminta agar besok kita bisa bertemu, dan ia setuju. Kita sepakat bahwa esok hari akan bertemu di warung bubur kacang depan kampus.

Dialah cinta pertamaku di kampus, dialah wanita yang seketika memborbardir ulu hati. ditemani Semilir angin malam yang memaksa masuk ke dalam tulang dan sumsumku yang semakin rapuh, longlongan binatang malam yang menggema di setiap penjuru asa, serta bintang dan bulan yang setia menumpahkan cahayanya pada sang bumi, aku goreskan tinta pada selembar kertas putih dihadapanku..

Untuk yang tercinta

Aku tulis sedikit puisi

Untuk kenangkan keelokan wajahmu

Untuk yang tercinta

aku tulis sedikit puisi

untuk kenangkan getaran suaramu

Untuk yang tercinta

Aku tulis sedikit puisi

Untuk kenangkan keharuman tubuhmu

Untuk yang tercinta

Aku tulis sedikit puisi

Untuk kenangkan bahwa engkaulah asmara itu..