Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Tak lelah aku goreskan tinta hitam diatas lembaran kertas putih. Mengenang kembali guruku tercinta KH. Q. Ahmad Syahid pengasuh pondok pesantren al-Qur’an al-Falah. Dan enam tahun yang lalu aku menjadi santrinya yang cukup badung. Berbagai hukuman dari pondok pernah aku dapatkan, mulai dari digunduli karena melindungi teman yang merokok, disuruh mengahafal 30 hadits karena tertangkap basah sedang berpacaran, dan juga dipukul pake rotan karena membuat sarang diatas langit-langit asrama. Tapi biarlah itu menjadi kesaksianku kelak.

Suatu ketika aku mengikuti pengajian rutin yang biasa dipimpin lagsung oleh beliau. Dalam pengajian itu dia menceritakan kepada kami tentang keunggulan umat Muhammad SAW, disbanding umat nabi yang lain. Dan aku ingin mengutip kembali apa yang beliau katakan ketika itu. “Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah Qalam. Qalam bertugas menuliskan nasib semua manusia, mulai dari umat Nabi Adam sampai umat Baginda Muhammad. Allah pun menyuruh Qalam menuliskan, ‘Hai Qalam, tulislah! Umat Adam yang taat pada-Ku, syurgalah balasannya. Dan umat Adam yang durhaka pada-Ku, Jahannamlah yang pantas untuknya.’ Dari umat Adam sampai umat Isa, Allah mengatakan hal yang sama kepada Qalam tentang nasib mereka kelak, namun dikala Qalam akan menuliskan hal yang sama tentang umat Muhammad bahwa yang taat akan mendapatkan syurga, dan yang durhaka akan menempati neraka, maka Allah murka kepada Qalam,Hai Qalam, bertingkah sopanlah engkau kepada umat Muhammad kekasihku, tulislah! Bahwa umat Muhammad yang taat kepada-Ku akan Aku karuniakan syurga, dan umat Muhammad yang durhaka pada-Ku, maka sesungguhnya pintu taubatKu masih terbuka lebar.’”

Selesai menceritakan tentang keistimewaan Muhammad dan umatnya dihadapan Allah itu, beliau tertunduk, dan air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang lembut. Sepengetahuanku, ini bukan kali pertama beliau menangis saat menceritakan Kanjeng Nabi Muhammad, tapi setiap beliau menceritakan tentang keagungan pribadi Muhammad, beliau selalu meneteskan air mata. Aku melihat ada kerinduan yang menggebu, dan cinta yang begitu mendalam dalam diri beliau kepada Rasul Pamungkas itu. Dan sepertinya beliau sangat menyadari adanya jalinan cinta segitiga antara kita, Muhammad, dan Allah. Allah sangat mencintai Muhammad, dan Muhammad pun sangat mencintai Allah. Allah mencintai kita, dan kita terus berusaha untuk mencintai Allah. Muhammad sangat mencintai kita, dan kita terus berusaha untuk mencitai Muhammad. Ya, ada Love Triangle antara kita, Muhammad, dan juga Allah.

Saat menjadi santrinya beliau (Mudah-mudahan sampai sekarang aku masih dianggap santrinya), aku telah banyak menyaksikan akhlaq beliau yang indah, dan itulah manifestasi dari kerinduan dan kecintaannya kepada Baginda Rasulullah Muhammad. Tak berlebihan kiranya jika aku  menyebut beliau sebagai Pcinta Muhammad SAW. Aku pun mencintai Muhammad. Tapi aku belum benar-benar mengikutinya. Aku masih takut dan terus-menerus tergantung pada kekuasaan-kekuasaan kecil disekitarku. Aku kecut pada atasan. Aku tunduk pada benda-benda. Aku bersujud pada uang, dan pada begitu banyak hal yang picisan-picisan.

Kumulai pekatkan pena
Di atas lembaran putih
Berlinang cucuran air mata bahagia
Tuk kenangkan Muhammad yang kucinta

Yang menebarkan kasih
Dari kuli hingga raja
Rumput sampai gajah
Bajingan, ulama, langit, bumi, jin, malaikat

Kenangkan Muhammad yang kucinta
Pembuka apa yang tertutup
Penutup apa yang terdahulu
Penegak kebenaran dengan kebenaran

Ya Rabb. Muhammad-kan Hamba