Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Seandainya dimensi waktu kehidupan ini hanya dunia, seandainya hidup ini sekadar jatah usia kita, maka rumahnya yang harus terendam banjir dan diterjang gelombang tsunami adalah rumah para koruptor, pengkhianat-pengkhianat amanat rakyat, para pendusta masyarakat, serta orang-orang yang lakunya menyakiti hati Tuhan. Tapi yang terjadi tidaklah demikian, banyak orang-orang kecil dan masyarakat jelata yang rumahnya diamuk oleh gempa bumi, disiksa oleh banjir, diobrak-abrik oleh tsunami, dan harus diusir oleh longsor. Sebaliknya, banyak manusia pembuat makar yang terus-menerus bermain culas, serta bajingan-bajingan yang selalu menggerogoti hak orang lain tidak terkena musibah sama sekali.

Untung Allah anugrahkan akal guna mencongkel ilmu dan hikmah dari setiap ketetapan-Nya. Seorang fakir yang bersusah payah bekerja sejak kecil untuk membiayai sekolahnya sendiri, sampai akhirnya dia tidak hanya mendapatkan gelar sarjana, bahkan ia pun sukses meraih gelar doctor. Menjelang wisuda kedoktorannya, sekaligus menjelang hari pernikahannya, ia menjadi korban amukan tsunami sampai Tuhan mencabut nyawanya. Orang tuanya menangis tersedu-sedu, dan sesekali tertawa, meluapkan kesedihan yang tak terhingga. Mungkin tangisan mereka akan mereda jika telinga nurani mereka mau mendengar ucap Tuhan: “anakmu itu hamba teladan didepan mata-Ku, ia lulus cumlaude. Jadi Indonesia yang kotor tidak berhak mengotorinya sedikit pun. Maka Kuambil ia untuk menjadi salah satu kekasihKu..”

Kaya tidak berarti jaya di mata Tuhan, dan miskin tidak berarti hina dihadapan-Nya. Kita biasanya suka salah menduga, orang yang herusnya dikutuk malah kita puji, dan orang yang seharusnya kita puji malah kita kutuk habis-habisan. Yang mati karena dilindas banjir, disergap tanah longsor, ditikam badai, mungkin mereka sedang ditagih hutangnya oleh Allah, supaya halal bihalal dengan-Nya, dan kalau mereka mengikhlaskan keadaan karena musibah itu, maka kasih dan syurga Allah menantinya. Dan adapun yang selamat dari musibah itu, bukan berarti mereka diselamtkan oleh Tuhan. Mungkin Allah membiarkan utang-utang mereka semakin besar dn menumpuk, untuk suatu saat nanti dengan leluasa Allah melumuri wajah-wajah mereka dengan api jahannam, jika dengan adanya musibah itu mereka tak mau mengambil pelajaran dan memperbaiki diri.

Kita yang tidak terkena musibah, jangan merasa GR dan angkuh, dan yang terkena musibah janganlah merasa menderita atas ketetapan-Nya itu. Jangan sakiti hati Tuhan dengan ngarasula atau neuteulih atas setiap kehendak-Nya. Dengan banyaknya berbagai musibah, bukan berarti Tuhan sedang murka kepada kita, Tuhan terlalu besar dan agung untuk terganggu oleh pengkhianatan dan kemunafikan kita selama ini. kalau Tuhan murka, alangkah sepelenya kadar kemurkaan-Nya itu: sekadar banjir, longsor, kebakaran, tsunami, ataupun ditinggal orang yang dikasihi, padahal kebusukan hati, kepincangan akal, kebokbrokan moral yang kita selenggarakan bersama-sama selama ini, justru sudah sangat melebihi kebiadaban umat-umat terdahulu. Oleh karena itu, jika musibah musibah yang terjadi akhir-akhir ini di Negara kita pertanda bahwa Tuhan sedang murka, harusnya dari dulu-dulu Indonesia ini dilindas air bah raksasa seperti kaum Nabi Nuh, atau dijungkirbalikan Negara kita ini seperti kaum Nabi Luth.