Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Aku tak mengerti kenapa kegoblokan dan ketololanku itu tak pernah hilang, sedang maut tak mau pergi karena selalu siap menjemputku kapan pun dan dimana pun. Aku semakin kebingungan saat menyadari diri yang terus berlaku binal dan makar terhadap yang dilihat olehku selama ini, menyakiti hati manusia menjadi santapanku sehari-hari, menipu dan main culas begitu mengiringi setiap langkahku, kemunafikanku semakin menjadi disaat bercengkrama bersama kawan-kawan sendiri, dalam kegalauan aku hanya bertanya satu hal pada diriku, ‘Apakah dalam keadaan seperti ini engkau tak akan malu jika suatu saat nanti menghadap Tuhan Pencipta Adamu?’

Aku  terus bertanya-tanya seseungguhnya apa yang terjadi padaku selama ini, sehingga Firman Tuhan selalu aku cuekkan, dan Sabda Rasul aku anggap sebatas guyonan. Tuhan kuakui, tapi tidak sungguh-sungguh. Allah disebut-sebut tapi formal dan iseng-iseng saja. Nama agama dijunjung, tapi ajarannya hanya dilaksanakan sebatas kondusif  terhadap kepentingan pribadi dan kelompokku. Agama aku suruh menyesuaikan diri terhadap keperluanku. Nabi aku rekrut untuk mengikuti dan membenarkan langkah-langkahku. Bahkan Tuhan pun aku angkat menjadi karyawan yang bekerja untuk karier pribadi dan sukses ekonominya.

Aku bersyahadat, tapi dalam kenyataannya aku justru menyakiti pihak yang disyahadati. Aku shalat, namun tak pernah tahu untuk apa aku bergerak-gerak seperti itu. Aku merindukan ramadhan, karena akan memiliki pakaian baru untuk kubanggakan dihadapan orang lain. Aku zakat, karena takut disebut kikir. Aku ingin berhaji, namun kandungan niatku tanah suci hanya akan kujadikan tempat refresing dan jalan supaya memperoleh gelar bergengsi di mata masyarakat. Aku kuliah sebatas mengharapkan selembar kertas bernama ijazah dan agar memperoleh pekerjaan. Aku mengajarkan ilmu kepada orang lain agar paling tidak mereka menganggapku seorang yang berpengetahuan luas. Aku pergi ke masjid karena takut dikatakan oleh masyarakat sebagai orang yang tak menghormati rumah Tuhan. Aku berlagak mendengarkan jika dinasehati padahal sebetulnya dalam hati aku berkata: ‘Kau tau apa?’. Aku bersedia menasehati agar disebut orang bijak.

Aku mengusir macan untuk aku macani sendiri. Aku membungkuk-bungkuk di depan manusia sembari dipinggangku terselip pisau kedengkian untuk siap menebas leher-leher mereka. Aku memukuli maling karena kenapa bukan aku yang maling. Aku mengkritik penguasa dzalim sambil diam-diam ingin juga berkuasa seperti dia. Aku mengacung-acungkan jari telunjuk tangan kananku sedangkan tangan kiriku menerima uang suap. Aku sebarkan keindahan Tuhan karena aku menginginkan kebanggaan atas tampilnya wajahku sendiri. Aku tembangkan bait-bait puisi-Nya karena aku memimpikan sanjung puji atas siapa aku. Aku berjuang demi tegaknya keadilan Tuhan bukan demi tegaknya keadilan itu sendiri, melainkan karena aku dan golonganku memerluakannya. Dan jika aku kibarkan bendera demokrasi, sebenarnya bukan demi tumbuh seburnya demokrasi itu, tapi memang ada kekuasaan yang hendak aku raih.