Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Kali ini saya ingin coba membahas masalah syukur dan kuffur. Bagi anda tema ini mungkin sudah using, sudah terlalu kuno, sangat teramat jenuh, karena memang dari dulu para ulaa, kyai, dan santri selalu mengutarakan masalah ini pada setiap ceramah dan khutbahnya.  Walau pun tema ini sudah teramat klasik, mudah-mudahan anda tak pernah bosan membahas masalah ini, layaknya anda tak bosan menjalankan sholat yang sudah anda lakoni dari umur lima tahun sampai sekarang kepala empat, dan seperti halnya anda tak jenuh mengaji dan menggali ilmu al-Qur’an walau pun dari empat belas abad yang lalu isinya itu-itu melulu. Saya selalu yakin, jika kita membahas satu tema yang sama secara berulangulang, maka akan menimbulkan pemaknaan-pemaknaan yang baru.

Syukur bukanlah hanya mengucap Alhamdulillah, atau hanya sebatas mengatakan terima kasih, dan bukan pula mengatakan, ‘Mariah kita panjatkan puji dan syukur’. Syukur adalah perkara yang sulit kita lakukan, sedangkan kufur adalah hal yang mudah kita selenggarakan setiap hari. Ibnu ath-Thaillah dalam al-Hikamnya mengungkap masalah syukur, menurutnya, ada tiga hal yang harus kacumponan sehingga kita mencapai derajat syukur: Kita mengetahui pemberi nikmat, merasakan manfaat nikmat tersebut, dan juga berterima kasih kepada sang pemberi nikmat lewat hati, lisan, dan gerak. Misalkan begini: orang tua anda memberikan uang untuk membayar kuliah, kemudian anda rasakan bahwa uang itu memang diperlukan dan sangat bermanfaat, setelah itu anda belanjakan uang itu betul-betul untuk biaya kuliah, maka anda adalah orang yang bersyukur. Sebaliknya, jika uang itu malah anda pakai untuk berfoya-foya, dihabiskan pada hal-hal yang sebetulnya tidak ada manfaatnya sama sekali bagi anda, maka telah kuffurlah anda.

Allah anugrahkan akal kepada kita, tapi tidak kita pakai untuk memikirkan keagungan-Nya, malah disimpan terus di almari besi, kuffurlah kita. Allah memberikan hati, tapi tidak kita gunakan untuk merasakan berbagai kemahaan-Nya, malah berlagak pilon, kuffurlah kita. Allah menitipkan kita mata, tak pernah kita mau melihat berbagai kedzaliman yang diselenggarakan, dan tak ada niat untuk mau menyumbangkan perubahan terhadapnya, malah kita pura-pura buta, kuffurlah kita. Allah meminjamkan kita kaki, setiap hari kita hanya membuat kerusakan dan kerusakan, kuffurlah kita.

Teringat sebuah prinsip teman saya bahwa syukur adalah tameng kehidupan. Ya, syukur adalah perisai, syukur adalah penahan. Syukur menjadi tameng dikala Tuhan akan murka, syukur menjadi tameng dikala Tuhan akan ngahesekeun turunnya rejeki. Syukur adalah tameng dari cemoohan manusia. Syukur adalah tameng dari cibiran manusia. Syukur adalah tameng dikala alam semesta akan melindas. Syukur pun adalah tameng saat Tuhan Pemilik Semesta berniat untuk menimpakan azab-Nya kepada kita.