Oleh : Drs H.R.Hidayat Suryalaga

Bismillahirrohmanirrohim.

Purwawacana:

Tema Dasar Kegiatan PRABU kali ini adalah :”Mewujudkan Nilai-Nilai Religi, Akademik dan Budaya dalam Tatanan Sosial” dan tema materi yang dipercayakan kepada saya adalah   “Relevansi Budaya Sunda dalam Kehidupan Generasi Muda”. Untuk menyamakan persepsi, terasa perlu dijelaskan beberapa pengertian dari judul tulisan di atas, yaitu:

  • Relevansi, keterkaitan, hubungan; bisa dimaknai sebagai sebab-akibat; khusus pada wacana ini diartikan pula untuk mencari azas kemanfaatannya.
  • Budaya, usaha manusia dalam mewujudkan KEMANUSIAANNYA secara utuh.
  • Sunda, etnis yang mempunyai ciri-kebudayaan Sunda. Bisa dilihat secara religi (Islam: Al Hujuraat : 13, Ar Ruum :22), genetika, geografis, maupun sosio-kultural.
  • Kehidupan Generasi Muda, penulis maksudkan sebagai perilaku dan cara berfikir  insan-insan yang tengah menapaki kehidupannya untuk pada waktunya menjadi manusia yang LUHUNG ELMUNA – PENGKUH AGAMANA dan JEMBAR BUDAYANA.

Di bawah ini penulis uraikan secara garis besar. Penjelasannya akan kita  bincangkan pada kesempatan berdialog.

1.      Tentang BUDAYA  (kultur, culture) telah  banyak pengertian yang dibuat  para akhli. Semua bermuara pada bagaimana MANUSIA mewujudkan KEMANUSIAANNYA; yaitu cara yang ditempuh manusia  untuk mencapai kebahagian dan kesejahteraan lahir batin selama hidupnya di dunia.

Hasil dari Budaya/kebudayaan akan mewujudkan PERADABAN (civilization) yaitu kualitas kehidupan masyarakat yang sejahtera lahir-batinnya.

Inti sari dari peradaban adalah MORAL (Akhlak). Suatu bangsa disebut berperadaban luhur bila kehidupan masyarakatnya menampakkan moral yang luhur (Akhlakul Karimah), maka disebut masyarakat yang BERADAB yaitu  masyarakat MADANI yang MARDOTILLAH.

2.      Ada lima penanda MORAL manusia  yang harus dijadikan acuan berperilaku hidup agar menjadi masyarakat yang berperadaban luhur yaitu:

  • MORAL MANUSIA terhadap TUHANNYA (MMT) ditandai dengan kualitas IMTAQ
  • MORAL MANUSIA terhadap  PRIBADINYA (MMP) ditandai dengan kualitas SDM.
  • MORAL MANUSIA terhadap MANUSIA lainnya (MMM) ditandai dengan kualitas silaturahmi-kemanusiaannya.
  • MORAL MANUSIA terhadap ALAMNYA (MMA) ditandai dengan kesadaran ekologi/lingkungan hidupnya.
  • MORAL MANUSIA dalam mencapai kebahagiaan LAHIR BATINNYA (MMLB) ditandai dengan etikanya, tahu batas, menghargai Hak Azasi Manusia (HAM) dan melaksanakan Kewajiban  Azasi Manusia (KAM).

Masyarakat yang tidak BERPERADABAN (tidak bermoral/tidak berahklak) akan disebut sebagai masyarakat yang  BIADAB. (tidak beradab).

3.      Pesan-pesan atau kandungan kelima moral di atas akan diwudjukan dalam karya-karya budaya bangsa itu, dalam bentuk  karya seni, ilmu pengetahuan dsb. Jadi pesan moral akan dibungkus dengan kemasan fisik, yaitu beragam seni-budaya yang dapat diindra.  Oleh karena itu untuk dapat mengetahui PESAN MORAL yang dikandungnya, kita harus lebih dulu  mengenal  aspek-aspek SENI BUDAYA tsb (untuk kita adalah seni-budaya SUNDA), selanjutnya mampu mengambil dan memanfaatkan kandungan nilai moralnya dengan kaidah 5 M di atas.

4.      Bila kita telah mampu mengambil dan memanfaatkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam Seni-Budaya Sunda, serta mampu melaksanakannya dalam perilaku kehidupan kita (termasuk GENERASI MUDA), maka diharapkan  dapat terwujud masyarakat / Generasi Muda dengan penanda jati diri yang:

  • CAGEUR , sehat dan sejahtera lahir batinnya.
  • BAGEUR, perilakunya tidak melanggar HUKUM AGAMA, HUKUM NURANINYA, HUKUM POSITIF/NEGARA dan HUKUM MASYARAKAT/ ADAT.
    • BENER, jelas dan terarah tujuan hidupnya sebagai manusia yang bermoral.
    • PINTER, mampu mengatasi perjuangan hidupnya dengan cara yang baik dan benar.

(Karakter pelengkap lainnya : Teger, Pangger, Wanter, Singer, Cangker, Jujur dsb)

5.      Aspek Budaya Sunda yang harus kita kenal dan pelajari, menurut C.Cluckhohn dan Prof.Kuncaraningrat (1976) bisa dikelompokkan dalam aspek;

  • Adat istiadat dan Religi(agama,kepercayaan) > masyrakatSunda
  • Bahasa > Sunda.
  • Seni > Sunda.
  • Sitem kemasyarakatan > Sunda.
  • Matapencaharian > masyarakat Sunda
  • Ilmu Pengetahuan > masyarakat Sunda.
  • Peralatan > di masyarakat Sunda

 

6.      Untuk mencoba mencari relevansi budaya Sunda dengan kehidupan Generasi Muda baik sebagai mahasiswa FISIP Unpas dengan semua jurusannya atau sebagai anggota masyarakat lokal/Daerah, Nasional maupun anggota masyarakat Dunia/ Internasional, bisa kita simak beberapa contoh nilai yang dikandung dalam budaya Sunda, sehingga kita bisa menyeleksinya apakah masih bisa dimanfaatkan dalam kehidupan jaman sekarang (mungkin harus reaktulisasi, revitalisasi, reposisi/reformasi, fill in atau malah mungkin di-delete). Sebab seni budaya akan menggambarkan kehidupan manusia pada jamannya masing-masing.

7.      Beberapa contoh nilai kearifan Moral yang terkandung dalam Budaya Sunda:

  • Adat Istiadat : tentang kearifan  Lingkungan Hidup di Masyarakat Baduy/ Rawayan/Kp.Naga
  • Religi/ Nilai-nilai Religi Sunda yang sesuai dengan Kaidah Islam.
  • Bahasa : sebagai alat komunikasi dengan masyarakat lokal serta perekam kebudayaan.
  • Seni : sebagai ungkapan rasa keindahan dan religi, contoh dalam Ibing, Penca, TS Cianjuran, makanan, dsb
  • Sistem Masarakat : contoh sistem masyarakat Baduy. Leadership Prabu Siliwangi. Proses  bermasyarakat yang SILIH ASIH-ASAH dan ASUH.
  • Sistem Ilmu pengetahuan: berladang, arsitektur. dsb.
  • Sitem Peralatan : panday besi dsb.

( Penjelasan disampaikan pada sesi dialog)

 

KESIMPULAN:

Pada tanggal 22-25 Agustus 2001 , di Bandung/Gedung Merdeka telah diadakan KIBS ke-I (Konferensi Internasional Budaya Sunda) yang diikuti lebih dari 500 peserta dari berbagai disiplin elmu dan etnis. Pemakalah yang mempresentasikan karya tulis cukup banyak dari generasi muda dan juga dari generasi yang lebih tua. Pemakalah dari luar negeri tercatat ada 15 orang dengan bermacam disiplin ilmu. Kesimpulan yang dihasilkan dari KIBS ke-I tersebut mencakup 8 bidang, yang semuanya menggambarkan betapa luas dan beragam pekerjaan yang harus kita garap sesuai dengan bidang keilmuan dan kemampuannya masing-masing. KIBS ini merupakan gerakan kebudayaan Etnis yang pertama di Indonesia dari sekian ratus suku bangsa.  Hal ini pun telah menjadi penanda yang jelas bagaimana Relevansi Budaya Sunda dalam Kehidupan generasi Muda serta kehidupan Berbangsa baik lokal-nasional maupun global/internasional.

Tetapi itu semua sangat tergantung dari kesadaran diri pribadi masing-masing dalam mengeksiskan/mengaktualisasikan/ mengimplementasikan nilai-nilai Moral yang terkandung dalam Budaya Sunda.

Kata orang bijak caranya adalah “MULAILAH DARI DIRI PRIBADI – IBDA BIN NAFSI – GNEAUTI SE AUTON  –  AWIT TI DIRI PRIBADI”.

 

Alhamdulillahhirrobbil’alamin.

}