H.R.Hidayat Suryalaga

1. Dalam judul wacana di atas, ada satu “kalimat” yang mungkin terasa masih agak asing dalam pengertian kita yaitu “NGERTAKEUN BUMI LAMBA”. Istilah tsb terambil dari Naskah Kuno SANGHIYANG SIKSA KANDA’NG KARESIAN (Th 1518 M), ketika pemerintahan  Sang Prabu Siliwangi (Jaya Dewata, Sri Baduga Maharaja, Keukeumbingan Raja Sunu, Sang Pamanah Rasa – 1482 – 1521 M) di kerajaan Pajajaran. Dalam naskah tsb. dikatakan bahwa tugas manusia hidup di dunia adalah untuk Ngertakeun Bumi Lamba yang artinya MENJEJAHTERAKAN KEHIDUPAN DI DUNIA  dan ini sepemaknaan dengan konsep RAHMATAN LIL ALAMIN.

2. Setiap komunitas manusia, bagaimanapun kecilnya pada awalnya akan mempunyai tatanan berkehidupan yang selaras dengan alam di sekelilingnya. Sejalan dengan itu timbullah mithos-mithos arkais, yang pada intinya selalu mencoba membuat hubungan yang mesra antara keberadaan manusia dengan lingkungan alamnya. Mithos-mithos ini tumbuh sebagai bawaan alamiah perjalanan ruhani manusia dalam mencari “jalan yang lurus” untuk mencapai “Kerinduan abadi terhadap Sang Pencipta”. Perjalanan ruhani inilah yang diistilahkan dengan Shirath (Islam), Jawidan Khirad (Iran), al Hikmah Muta’aliyah (Mulla Sadra), Akal Ilahiah (Al-Kindi), Sangkan Paraning Dumadhi (Jawa) atau RAWAYAN JATI (Sunda) dan dalam konsep Kebudayaan Barat disebut dengan Perennial.

3. Karena manusia adalah makhluk yang berfikir/berakal, kadang-kadang  “fikiran/akal” itu sangat mendominasi cara berperilakunya. Terlebih dengan faham yang mendudukkan manusia sebagai “satu-satunya mahluk” yang  mewarisi seluruh alam ini bagi kepentingan dirinya sendiri.. Maka timbullah dominasi manusia atas alam.       Alam telah dianggap sebagai sesuatu yang harus dikalahkan, digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin untuk memuaskan nafsu keserakahannya. Dominasi keserakahan manusia inilah yang menyebabkan meledaknya jumlah penduduk, kurangnya “ruang bernafas”, kekumuhan di kota dan keterlantaran di desa, kemacetan penataan publik, hancurnya keindahan dan fungsi alam, pengurasan segala sumber kehidupan tanpa tanggungjawab yang pada gilirannya munculnya penyakit mental individu dan masyarakat.

4. Keserakahan manusia ini bila dilihat dari kajian BUDAYA (BUDHI = nurani, ruhani yang tercerahkan; DAYA = semangat, kekuatan karsa cipta dan rasa), tidak hanya  karena motif ekonomi saja, tetapi terutama karena  telah kehilangan relasi kemesraan yang bersifat  “religius sakral” dengan alam. Alam yang kita sebut dengan  “IBU PERTIWI” atau dalam budaya Sunda disebut sebagai “indung rahayu,  bali geusan ngajadi, lemah cai” kini telah kehilangan kesakralannya. Tentang keadaan ini ada ungkapan yang sangat sarkastis dari Seyyed Hossein Nasr (dalam buku Antara Tuhan- Manusia dan Alam :29) bahwa “alam telah dijadikan pelacur yang dikuras sampai ketingkat yang paling brutal demi keserakahan manusia

5. Bagi manusia yang berbudaya, alam tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang “natural” tetapi alam selalu penuh dengan KABERKAHAN YANG ILAHIAH, bersifat spiritual religius dan selalu dikaitkan dengan Kehendak serta Keagungan Sang Maha Pencipta. Alam adalah  sebuah keteraturan bukan sesuatu yang kacau (khaos). Penampakan “berkebudayaan yang ilahiah” ini tentu saja akan sangat heterogin sesuai dengan lingkungannya, malah ekspresi dalam berkebudayaannya pun mungkin ada yang di luar pesan yang secara eksplisit terkandung dalam wahyu Tuhan. (pa-bid’ah-an)

6. Sebenarnyalah kerusakan hubungan mesra antara Alam dan Manusia dimulai dari kepongahan manusia dengan abad science yang tak terkenadali atau tidak berjalan dalam Shirat yang Mardhotillah. Arogansi science ini digulirkan dari pemikiran dan penemuan manusia Barat. Sejak itulah keserakahan science berujung pada ‘TUJUAN MENCAPAI KENIMATAN RAGAWI HIDUP MANUSIA YANG SEKULER PROFAN”, yaitu kenikmatan  ragawi tanpa landasan religi. Pandangan hidup yang mempertuhankan kenikmatan ragawi ini ditularkan pula di masyarakat peradaban Timur (termasuk tatar Sunda). Akhirnya segala macam KEARIFAN TRADISONAL MASYARAKAT SUNDA YANG SAKRAL PUN TERLIBAS HABIS.

Padahal kemesraan pemaknaan yang sakral  (Rasionalisasi-religius) antara manusia dengan alam bisa disimak dari adat kebiasaan/perilaku masyarakat Sunda lama, semisal:

ü  Tata letak perkampungan adat.

ü  Fungsi dan makna hutan larangan, tutupan, baladahan

ü  Fungsi dan makna sungai sebagai  aliran darah tubuh manusia dan simbolisasi keturunan.

ü  Fungsi dan makna gunung sebagai perwujudan dunia mikro insan.

ü  Fungsi dan makna flora sebagai “pemberi makna” (mnemotik) bagi manusia.

ü  Fungsi dan makna sejarah, mithos, legenda, babad, toponimi dsb.

ü  Fungsi dan makna kabuyutan, kapamalian (sebagai hukum konvensi)

ü  Fungsi dan makna pernikahan , berumah tangga dan pendidikan.

Fungsi dan makna kehidupan sakral ini kini tergeser olehn konsep-konsep hedonisme yang sangat ekstrim.

7. Proses DESAKRALISASI alam secara radikal menyebabkan hilangnya kesadaran dan pemahaman bahwa  ALAM DAN KEHIDUPAN ADALAH KARYA AGUNG ALLAH SWT. Manusia telah menyalahgunakan fikiran dan akalnya (baca science tanpa religiusitas dan keserakahan ekstrim) untuk mengeksploitasi alam secara habis-habisan tanpa mengindahkan kearifan yang diamanatkan dalam wahyu Allah SWT.

8. Sebagai akhir wacana,  pada kegiatan sekarang diupayakan pendekatan NUR HIDAYAHAN yaitu seni Termbang Sunda yang bernuansakan Religius-Ilahiah, dengan harapan dapat menyentuh relung nurani yang paling dalam setelah bergelut pada tataran IQ-EQ dan SQ. Semoga TAREKAH (AQ= Aksional Quotient) kita ini dalam mengarifi kehidupan yang memenuhi Penataan Ruang dan Permukiman yang humanis- religius sakral akan dapat memacu masyarakat Jawa Barat dalam ikut  mewujudkan masyarakat Indonesia yang MADANI MARDHOTILLAH.      Amin!