Sanghyang Mughni Pancaniti

Orang munafik selalu membungkuk-bungkuk, tapi sebenarnya ia sedang pasang jurus untuk mengambil alih kemerdekaan dan sejarah saudaranya. Ia bersikap ramah sopan santun, tapi sebuah belati berkilat-kilat terselip di pinggang kemunafikannya. Pantas salah satu guruku pernah memperingatkan tentang orang munafik,
“Sehubungan dengan lebih besarnya kemarahan Tuhan kepada orang munafik dibandingkan kepada orang kafir, mungkin bisa kita logikakan seperti ini: jika kamu melihat kobaran api, kemudian disaat diidentifikasi itu benar-benar api, tinggal kamu panggil pemadam kebakaran untuk memadamkan apa itu, maka semuanya akan selesai. Namun jika kamu melihat api, kemudian kamu panggil pemadam kebakaran dan menyediakan ember yang berisi air, namun ternyata itu bukanlah api..! susahnya bukan main.

Lebih baik kamu melawan seribu penguasa yang kejam, berperang melawan pemimpin yang dzalim, daripada bersahabat dengan orang yang kamu anggap ulama, ternyata adalah penipu, kamu anggap dia sebagai tokoh teladan, ternyata ia adalah maling kelas kakap, kita anggap dia sebagai panutan, ternyata ia adalah tikus besar yang menggerogoti kekayaan kita. Saya yakin kamu akan memilih berteman dengan Fir’aun, daripada bersahabat dengan orang yang kamu sangka sebagai Musa, ternyata ia lebih Fir’aun daripada Fir’aun.”