Dalam perjalanan pulang ke Kotsan, aku berbincang bersama seorang kawan tentang kecintaanku kepada Baginda Rasulullah SAW, “Aku begitu mencintai Muhammad nabiku, aku rindu kepadanya, aku ingin mencium tangannya. Sungguh akan aku lakukan apa pun deminya.”
Kawanku malah bertanya, “Tolong jawab oleh hatimu kawan.! Seandainya sekarang Rasulullah turun ke bumi, dan ia berada dihadapanmu, lalu ia menyuruhmu untuk mati sekarang juga deminya, apakah kamu siap?”
Aku terdiam, tak bicara sepatah kata pun. Nyaliku menjadi ciut. Kawanku melanjutkan ucapannya, “Antara lidah dan hati memang berjarak sangat jauh.”

Bandung, 13-02-2011