Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Sebuah ilustrasi indah digambarkan oleh Jalaluddin Rumi: “Suatu ketika Muhammad kecil hilang di padang pasir, Halimah begitu cemas dan terus-menerus menangisi Muhammad yang tak ada dihadapannya. Namun tiba-tiba ada sebuah teriakan, ‘Tenanglah.! Sesungguhnya Muhammad tidak hilang, justru dunia yang akan hilang dalam dia’”

Bulan Rabiul Awwal mengenangkan sebuah peristiwa yang maha penting bagi kehidupan umat manusia. Bagaimana tidak, bulan itu adalah dimana lahirnya seorang manusia mulia, manusia paripurna, manusia yang didesain khusus oleh Tuhan untuk menyempurnakan akhlaq makhluk-Nya, dan manusia yang setiap sejarah menginduk kepadanya, dialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.

Dunia terkejut akan kelahirannya, roda sejarah berputar ke arahnya, zaman terpana olehnya, dan hari-hari pun berhenti karenanya. Dia tidak tersapu oleh angin, tak terhalang oleh awan, tak terusir oleh air, dan tak tergoyahkan oleh gelombang dalam mengemban tugas suci dari Tuhan untuk menancapkan kebenaran di muka bumi.

Pada bulan ini, bermilayar-milyar ummatnya memperingati hari kelahiran sang Rasul Mulia itu dengan berbagai cara, ada yang dengan pengajian, shalawatan, perlombaan, atau apa pun yang kesemuanya itu bertumpu pada satu tujuan: mengungkapkan kecintaan mereka yang begitu mendalam, serta meluapkan kerinduan yang sangat besar terhadap Baginda Muhammad SAW.

Namun dalam memperingati perayaan Maulid Nabi ini tidak hanya sebatas mengenang ataupun mengingat kelahiran Nabi Muhammad secara ceremonial belaka, melainkan kita pun harus mengenang, memperingati, menghayati, serta mengikuti apa yang pernah dilahirkan Muhammad SAW tatkala beliau masih hidup.

Ia melahirkan kecerdasan berfikir saat merenungi semesta, ia melahirkan sifat amanah disaat dipercaya oleh manusia, ia melahirkan sifat tabligh tatkala diberi tugas untuk menyampaikan risalah Tuhan, ia melahirkan sifat shiddiq disaat ia berbicara dan bertindak, ia melahirkan laku adil jika suatu ketika dipinta memutuskan, ia melahirkan kasih sayang dan cinta yang tak habis-habisnya ia tebarkan ke setiap penjuru, ia melahirkan rasa takut yang sangat disaat mensujudi Tuhan, ia jualah yang melahirkan sebuah pembeda mana hitam mana putih, mana hak mana bathil, dan mana benar mana salah, dan begitu banyak prilaku-prilaku mulia yang ia lahirkan untuk dijadikan acuan umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia.

Dengan kebenaran dia terlahir

Dengan kebenaran dia hidup

Dengan kebenaran dia turun

Dengan kebenaran dia wafat

Dalam keadaan damai dan perangnya

Ridho dan marahnya

Sungguhan dan guraunya

Keterangan dan keputusannya

Dengan kerabat dan orang asing

Musuh dengan kawannya

Laki-laki atau wanita

Dia selalu menancapkan kebenaran

Ya Rabb. Muhammad-Kan hamba