Kakek yang rumahnya terpaksa digusur oleh sebuah proyek pembangunan mall di dekat rumahku itu menangis tersedu-sedu, rumahnya hanya dibayar dengan harga yang jauh dari harapannya. Ia merasa dianiaya,  merasa diperlakukan tidak adil.

Kini sehabis sebahyang, ia selalu melantunkan selaksa do’a yang terus ia ulang-ulang,

“Tuhanku, Engkau bisa melenyapkan para durjana dan penggusur itu dalam sekejap. Tapi kenapa Engkau tidak melakukan itu semua? Tidak membantuku? Apakah rahasianya, Tuhan? Sehingga Engkau memilih diam dalam kesunyian itu? Mungkinkah Engkau merasa ragu atas keyakinanku? Sehingga Engkau biarkan saya semakin tegang untuk melawan diri sendiri, melawan keraguan ini? Sementara Engkau begitu tenang, tanpa memihak perjuangan saya.