PLAGIATOR

Agung Waskito

Pada tayangan sinetron tertulis caption, kurang lebih begini “Cerita ini fiksi, kalau ada kesamaan cerita, tokoh dan kejadian hanyalah kebetulan semata”. Sepintas tulisan itu sangat santun, tapi jangan salah, itu adalah pembelaan plagiator untuk melegalkan pencuriannya. Dengan bersembunyi pada kalimat itu seorang produser kalau ketahuan menjiplak akan mengatakan; “Lho, ini kan hanya kebetulan!”. Mungkin pembelaan itu sangat bisa dimaklumi kalau hanya 1 atau 2 produksi atau maksimal 5 produksi, tapi bagaimana kalau kesamaan cerita, kejadian dan karakter tokoh terjadi puluhan judul cerita bersambungi, bahkan sampai ribuan episode, bisa dibilang kebetulan semata kah? Kita hitung saja berapa kali tayangan sinetron, sebut saja 4 stasien TV setiap hari selama 4 kali tayang sinetron striping pada pukul 18.00 s/d 22.00, berarti 16 episode. Sebulan, 480 episode. Setahun, 5760 episode. Lima tahun, 69.120 episode. Luar biasa!

Kita semua teriak marah, tidak terkecuali para politikus yang hebat-hebat itu, karena negara serumpun mencuri dan mengklaim beberapa karya bangsa kita. Namun harus kita ingat, karya kita yang di klaim tidak lebih dari sepuluh biji, sedangkan kita mencuri karya asing puluhan ribu! Sungguh plagiator yang hanya segelintir manusia itu telah mencoreng moreng harga diri dan kehormatan bangsa! Puluhan ribu tayangan plagiat selama minimal 5 tahun tidak ada satupun tuntutan hukum. Produser2 plagiat tetap aman di singgasananya masing2. Direktur2 Program Acara stasien TV swasta nasional ongkang2 kaki, nggak ada satupun yang masuk penjara meskipun telah membodohi ratusan juta rakyat Indonesia. Pemerintah diam saja, DPR RI bungkam, lembaga-lembaga terkait seperti KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) nggak bertindak apa-apa, BSF (Badan Sensor Film) tetap saja meluluskan film-film maling karya asing, Departemen Komunikasi Informasi dan Penyiaran pura2 nggak tahu apa memang benar-benar nggak tahu?

Seorang produser ngomong, begini: “Semua cerita film di muka bumi ini hampir semua saling meniru, saling pengaruh mempengaruhi. Film-film Mandari bisa dibilang hampir 80% menjiplak dari film-film Hollywood. Film-film India lumayan, menjiplaknya cuma 90%. Jadi nggak salah dong kalau kita menjiplak cerita fim Mandarin dan India karena mereka juga menjiplak dari Hollywood”.

Dalam arti yang lain Produser itu secara gamblang mendudukan Hollywood sebagai pusat perfilman dan persinetronan dunia. Nggak hanya ceritanya, tapi juga teknik penggarapannya, dst. Kenapa Produser plagiat itu nggak mau mengakui, bahwa Mandarin dan India cara menirunya sangat canggih tidak hanya copy paste semata yang dilakukan produser2 kita? Mereka bisa dibilang mengadabtasi dan bukan menjiplak mentah-mentah. Atau kenapa mereka nggak bicara tentang revolusi kecil-kecilan di dunia persinetronan Korea dan Taiwan.?

Dalam dua dekade terakhir ini Korea dan Taiwan membuat sinetron-sinetron bersambung yang luar biasa bagusnya. Tampak jelas mereka mempunya ghiroh atau semangat nasionalis yang kuat untuk membuat film-film bermutu. Alur ceritanya begitu mengikat, dramatikanya terbangun kuat sehingga membuat kita yang menontonnya sampai mencucurkan air mata ber kali-kali. Pastilah sebelum memproduksi film-film itu mereka kerja keras mendiskusikannya, mencari teknik bertutur yang bisa mengharu-biru penonton, mungkin juga melibatkan dan berkonsultasi dengan pakar-pakar psikologi, dll. Para produser kita bukannya meniru hasil kerja keras mereka, tapi dengan enaknya menjiplaknya mentah-mentah. Sebagian kecil ada yang dengan ijin, sebagian besar maling!

Beberapa sutradara sinetron kita pernah mengaku disodori skenario hasil translate dan setumpuk VCD sinetron asing. Produser memerintahkan mereka untuk menggarap skenario plagiat itu sesuai dengan dengan setumpuk VCD yang akan dijiplak, nggak hanya adegan dan penggarapan karakter tokohnya semata, bahkan sampai pada detail shot-shotnya. Artinya, sutradara itu hanya diperlakukan bukan sebagai seniman, tapi sebagai tukang, nggak beda jauh dengan tukang bangunan.

Bagaimana kalau mereka menolak dan ingin berkreasi sendiri? Dengan tanpa lasan yang jelas sutradara itu dirumahkan. Nggak kerja lagi di PH sang produser, celakanya sutradara sudah terlanjur kontrak eksklusif nggak bisa lagi kerja di PH lain. Tidak ada pilihan bagi sang sutradara untuk 100% ngikut apa maunya produser kalau masih ingin kerja. Lalu ketika sutradara membikin karya jiplakan itu apakah kemudian seperti yang dimaui sang produser? Tentu saja tidak mungkin! Kenapa? Karena sutradara hanya dikasih waktu 1 hari mengerjakan sinetron itu, dari pagi sampai pagi untuk 1 episode, dan langsung tayang 2 hari kemudian setelah sehari di edit.

Jangankan membuat shot-shot yang sama seperti aslinya, bisa terambil semua scene saja sudah lumayan. Belum lagi berurusan dengan artis2 yang terlambat datang ke lokasi, dst. Makanya hasil jadi sinetron2 itu cuman cover2 melulu. Tempel sana tempel sini. Seringkali terjadi dialog dua pemain, tapi keduanya nggak ketemu di lokasi. Pemain satu datang diambil mukanya saja, suruh ngomong ini itu sesuai dengan skenario, beberapa jam pemain satu lagi yang telah datang digituin juga, kemudian dalam proses edit dialog 2 pemain itu yang sebetulnya tidak pernah bertemu itu dipertemukan. Jangan tanya soal geografis lokasi, establishing shot, warna budaya, dll. Asal sinetron itu bisa ditonton, bungkus, sodorin ke stasien TV, tayangin!

Dan apakah kemudian sang sutradara telah dianggap sukses kalau sudah bisa membuat sinetron seperti yang diharapkan sang produser? Belum tentu. Kalau dalam beberapa kali tayangan rating tidak memadai, tidak terdongkrak, tapi malah turun…. sang sutradara dirumahkan, dianggap tidak membawa hoki dan diganti dengan sutradara lain. Terlepas dari sutradara itu sebenarnya memang punya kualitas atau tidak.

Sudah tahu begitu dan telah berlangsung selama bertahun-tahun, tapi kenapa para pengambil keputusan, terutama para direktur program acara TV swasta nasional diam saja dan setiap hari terus saja menjejali ibu-ibu rumah tangga, remaja-remaja, dan anak-anak dengan sinetron-sinetron jiplakan? Jangan salah, justru mereka yang menyuruh para produser yang memiliki PH-PH besar untuk menjiplak karya-karya asing. Bahkan mereka ikut menyodorkan setumpuk VCD/DVD sinetron-sinetron asing pada produser pemilik PH untuk digarap dalam versi Indonesia (istilah halus untung makar (maling karya), karena lebih dari 90% tanpa ijin).

Kalau produser dan direktur program TV nggak merasa bersalah maling karya asing, mereka merasa tidak melanggar hukum, lalu siapa yang salah dong? Pemerintah punya banyak perangkat penyiaran seperti BSF (Badan Sensor Film), KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), bahkan ada juga Menteri Informasi dan Penyiaran… apa ya kira-kira fungsinya? Lalu bagaimana dengan Para Anggota DPR RI yang terhormat dan gajinya gede itu? Apa perlu ada Undang-Undang Anti Plagiat, terutama untuk menangkal Para Maling Karya Asing? Atau mungkinkah MUI (Majelis Ulama Indonesia) memberikan label “haram menonton” sinetron-sinetron plagiat itu, sama seperti mereka begitu sibuknya ngasih label “halal” makanan-makanan yang beredar di Indonesia?

Apakah Pemerintah beserta dengan perangkat-perangkatnya, DPR RI, kalangan agama yang diwakili MUI dan Ormas-ormas agama yang begitu banyak, tidak tahu kalau maling itu haram hukumnya?