FILM DAKWAH: APA DAN BAGAIMANA

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Perjalanan saya bersama mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam tidak berhenti di Sinematek Indonesia, perjalanan dilanjutkan menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Disana, dua narasumber telah menunggu kedatangan kami, Gunawan Panggaru yang berprofesi sebagai Sutradara, juga Pak Emby sebagai pengamat film. Dalam kesempatan itu, kami diajak berdiskusi mengenai apakah film bisa dijadikan sebagai media dakwah? Serta bagaimana yang dimaksud film dakwah itu?

Secara teoritis dan praktis, dakwah adalah segala jenis aktivitas yang bertujuan untuk melakukan perubahan social dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik dan seterusnya. Kewajiban berdakwah tidak memiliki batasan ruang dan waktu. Kapan pun dan dimana pun dakwah harus terus ditegakkan dengan berbagai metode dan sarana. Berkaitan dengan media dakwah, sejak dulu para penegak dakwah sudah menggunakan produk tekhnologi sebagai alatnya untuk menyiarkan nilai-nilai agung, apakah itu lewat media cetak, radio, televisi, dan media masa lainnya.

Menurut Gunawan Panggaru, dalam pembuatan film, maka si pembuat film pasti ingin menyampaikan sesuatu kepada khalayak, maka dari itu film bisa dijadikan sebagai media untuk menyiarkan ajaran-ajaran Tuhan. Pak Emby pun sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Gunawan Panggaru, bahwa film adalah sarana yang efektif untuk dijadikan sebagai media dakwah, dikarenakan manusia Indonesia adalah termasuk salah satu penonton film terbanyak yang ditayangkan di bioskop-bioskop maupun televisi.

Yang  jadi permasalahan, apakah film dakwah itu harus berarti ada ungkapan-ungkapan al-Qur’an atau pun hadits secara ‘Vulgar’? dan harus ada symbol-simbol Islam?, Bagi Pak Woodi, seperti pernah dikatakan ketika perkuliahan, film dakwah tidak harus menonjolkan symbol-symbol Islam, yang penting ada nilai-nilai kebaikan yang kita propagandakan kepada penonton melalui film tersebut. Saya sangat setuju dengan ungkapan dosen saya ini, karena kalau kita terlalu memperlihatkan symbol Islamnya dalam hal apa pun pasti primordial, tidak universal, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jama’ah peradaban dunia. Dan saya yakin bahwa Tuhan tidak akan sakit hati jikalau ajaran-Nya kita bahasakan menggunakan ungkapan budaya kita masing-masing.