SINEMATEK INDONESIA: PUSAT JUTAAN DATA TENTANG PERFILMAN INDONESIA

 

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Tepat pukul 07.00 WIB tanggal

14 Maret 2011, dibimbing oleh Dosen, saya dan teman-teman mahasiswa di Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung berangkat menuju Jakarta untuk berkunjung ke

Sinematek Indonesia (SI) serta Taman Mini Indonesia Indah (TMII), kunjungan ini dimaksudkan sebagai sebuah aktifitas akademik pada mata kuliah Tekhnik Produksi Film Dakwah.

Sesampainya di gedung Sinematek Indonesia yang terletak di Jl. H.R. Rasuna Said Kuningan Jakarta, kami langsung dibawa ke preview room, sebuah ruangan yang biasa digunakan untuk memutar film.

Di ruangan itu kami disuguhi sebuah film tentang perjalanan seorang ‘sineas sejati’, yang dianugrahi puluhan penghargaan karena karyanya di bidang film, dialah H. Usmar Ismail. Dan dia pula lah yang kala itu berani berteriak kepada semua insan perfilman, “Bagus tidaknya sebuah film bukan tergantung kepada filmnya, melainkan tergantung kepada si pembuat film”.

Selesai menyaksikan film tentang perjalanan H. Usmar Ismail, kami dipandu oleh Pak Woodi, dosen mata kuliah Tekhnik Produksi Film Dakwah, untuk berdiskusi dengan pimpinan Sinematek Indonesia, H. Berty Ibrahim. Beliau menceritakan kepada kami mulai dari sejarah dan kiprah Sinematek Indonesia dari era 70-an sampai sekarang, serta apa saja yang dikoleksi oleh Sinematek Indonesia.

Sinematek Indonesia merupakan lembaga arsip film pertama di Asia Tenggara yang dirintis sejak tahun 1970, serta resmi berdiri menjadi Sinematek Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1975, yang berfungsi sebagai pusat studi dan pusat aktifitas pengembangan budaya sinema. Dari semenjak tahun 1995, Sinematek Indonesia bergabung dalam FIAF (Federation Internationale des Archives du Film), dan juga bergabung dalam SEAPAVAA (South East Asia-Pacific Audio Visual Archives Ascociation). Sehingga bisa dikatakan bahwa Sinematek Indonesia ini memiliki hubungan internasional yang luas.

Biasanya, lembaga film pada umumnya hanya mengkoleksi berbagai karya yang bermutu dan berkualitas tinggi, namun Sinematek Indonesia menghimpun semua karya film dalam negeri, yang dibuat oleh putra Indonesia tanpa terkecuali. Dan inilah yang membedakan lembaga film Sinematek Indonesia dengan lembaga film yang ada di seluruh dunia. Bahkan sekarang, Sinematek Indonesia sedang mengumpulan video-video pernikahan. baik yang dibuat secara amatir, maupun professional. “Dalam video pernikahan, ada nilai sakral yang luar biasa. Sebuah upacara yang langsung disaksikan Tuhan.” Tandas H. Berty Ibrahim dalam diskusi tersebut.

Sebagai pusat informasi perfilman Indonesia, Sinematek Indonesia memiliki ribuan koleksi, bahkan jutaan tentang kiprah perfilman di Indonesia. Mulai dari film non-cerita, buku mengenai film, video, dan komunikasi, scenario film cerita, foto atau peristiwa perfilman, majalah film dalam dan luar negeri, kliping, biografi, data organisasi perfilman, peralatan film, data perusahaan film, sampai informasi arsip film dunia.

Kini, Sinematek Indonesia telah diakui sebagai pusat data, dokumentasi, dan informasi terlengkap tentang dunia perfilman. Sehingga pantas jika Sinematek Indonesia menjadi pusat kegiatan penelitian mengenai film dan perfiman Indonesia oleh mahasiswa, peneliti, atau bagi siapa saja dan tanpa dipungut biaya. Dan dalam kepemimpinan H. Berty Ibrahim, mahasiswa jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN SGD Bandung adalah pengunjung pertama yang bersifat formal atau akademik.