Memahami Sikap Romantis Tuhan

Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Satu hari saya di Jakarta, menjenguk paman yang istrinya yang sedang hamil besar, menunggu kehadiran sang buah hati. Bibi iparku yang satu-satunya anak dari orang tua kaya raya itu ternyata sedang dirundung kegelisahan dan kesedihan mendalam, rumah tangganya bersama sang paman sedang diterpa badai yang tidak dia sangka akan datang menghampiri. Di usia kehamilannya yang menginjak delapan bulan, bibi dan paman sering bertengkar diakibatkan hal-hal sepele maupun ‘besar’. Saya dijadikan teman curhatnya ketika paman sedang tidak ada di rumah. Saya perhatikan dan saya terus pahami tentang ‘curhatan’ bibi. Saya memang sedih, tapi juga bahagia. Sedihnya karena paman dan bibi sedang asyik-asyiknya berlaku romantic yang ‘tak biasa’. Bahagianya, karena dengan badai semacam itu, rumah tangga paman dan bibi akan dipindahkan dari satu kosmos nilai ke kosmos nilai lainnya yang lebih baik dan hebat.

Kita merasa marah dan sedih jika pasangan kita bersikap berbeda dari biasanya, wajar memang. Manusia memang lebih focus kepada hal-hal yang tidak membuatnya enak, dibandingkan mensyukuri banyak hal yang masih membuatnya bahagia dan damai. Bukankah kita sering lebih mengaduh ketika salah satu gigi kita sakit, dibanding mensyukuri puluhan gigi dan anggota badan lain yang masih sehat?.

Dalam menunjukan sikap romantic-Nya kepada hamba-Nya, Allah tidak melulu memberikan sesuatu yang membuat hamba-Nya merasakan kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, atau pun keindahan. Namun terkadang Allah menunjukkan sikap romantic-Nya dengan cara memberikan sesuatu yang membuat hamba-Nya merasa sesak dada, sumpek, sempit, marah, jengkel, mengeluh, tersiksa, merasa dimiskinkan, bahkan merasa putus asa dalam menjalani hidup. Tapi semuanya itu bukan karena Allah benci dan marah, melainkan didasarkan atas cinta dan kasih-Nya. “Dalam Tuhan tidak ada kemelaratan. Sesuatu yang engkau anggap kesedihan adalah wujud awal dari kebahagiaan yang sengaja Dia samarkan” tutur Emha Ainun Nadjib.

Saya menghibur bibi ipar dengan berkata bahwa untuk sementara waktu mungkin paman sedang ingin menunjukan sikap romantisnya dalam hal yang berbeda, walau sikap romantisnya itu membuat bibi ipar sedih dan merasa tidak tenang. Tapi di lain waktu isyaaallah paman akan kembali memperlihatkan sikap romantisnya seperti biasa. Ketika saya kembali pulang ke Bandung, di tengah perjalanan saya mengirimi bibi ipar sebuah pesan, “Saya hanya bisa mendo’a kepada Sang Maha Pendengar Pengharapan hamba-Nya agar Dia selalu menyematkan kasih-Nya kepada setiap perjalanan hidup bibi dan paman, agar yang sedang menimpa rumah tangga bibi dan paman sekarang tidak mengakibatkan kehancuran yang benar-benar lebur, kekacauan yang permanent, dan kedzaliman yang mengkarat. Semoga apa yang sedang bibi dan paman alami sekarang hanyalah sebuah hembusan angin yang siap berlalu untuk mengelus tubuh-tubuh yang lain..”