Oleh: Agus Sunyoto

 Sejak sebulan lalu, kampung-kampung di sekitar pesantren sufi digemparkan oleh kemunculan seorang ustadz bernama Sukijo As-Salaf, yang mengajarkan hal-hal aneh yang membingungkan masyarakat. Selain mengharamkan slametan, tahlilan, yasinan, petungan nagadina, maulid, ziarah kubur, diba’an, dan barzanjian, ustadz Sukijo As-Salaf mengharamkan pula televisi, facebook, twitter, menyanyi, menari, bertepuk tangan, bahasa Inggris, filsafat, tasawuf, pengobatan medis, dan aktivitas-aktivitas lain yang dinilai tidak Islami.

         Ustadz Sukijo As-Salaf yang mengontrak rumah tak jauh dari pesantren sufi, dalam pengajian-pengajian yang disampaikannya seperti sengaja menghujat berbagai praktek yang berkaitan dengan amaliah tasawuf yang dijalankan santri-santri sebagai perbuatan bid’ah, khurafat dan takhayul sesat yang membawa kepada kekafiran yang wajib diberantas. Anehnya, ustadz Dul Wahab yang dikenal suka mengecam pesantren sufi, ternyata tidak luput dari hujatan ustadz Sukijo As-Salaf yang menuduh ustadz Dul Wahab dan murid-muridnya telah melakukan amaliah bid’ah karena diam-diam masih suka mendengarkan lagu-lagu ruhani yang dinyanyikan Bimbo, mengisap sisha (rokok Arab), sering kedapatan memakai celana dan jas, dan menghalalkan gaji PNS, yaitu amaliah bid’ah yang akan membawa pengamalnya ke jurang kekafiran. Dan lebih-lebih sewaktu melihat praktek-praktek keagamaan masyarakat kampung, ustadz Sukijo As-Salaf langsung menghukuminya sebagai tindakan sesat kaum kafir dalam mengikuti ajakan setan.

          Sufi tua yang menerima banyak keluhan dari warga kampung sekitar, dengan diiringi puluhan warga kampung mendatangi rumah ustadz Sukijo As-Salaf. Tepat di jalan kampung depan rumah ustadz Sukijo As-Salaf, Sufi tua berhenti dikerumuni warga dan menyampaikan ceramah agama. Dalam ceramah tanpa persiapan itu, Sufi tua bercerita tentang makhluk Tuhan paling terkutuk yang disebut Iblis, yang punya kecenderungan khusus: selalu mengucapkan “ana khoiru minhu” – aku lebih baik dari dia. Sebagai akibat dari kecenderungannya itu, Iblis dilaknat Allah dengan cara diusir dari jama’ah ‘hamba Allah’ yang terdekat, terkucil sendiri dengan jiwa diliputi kemarahan, kebencian, sakit hati, dendam, permusuhan, dan keinginan menyesatkan mereka yang dianggap musuh.

            “Jadi saudara,” kata Sufi tua lantang,”Jika ada manusia Iblis di tengah-tengah kita, maka watak dan sifatnya tidak akan jauh dari watak dan sifat Iblis: hatinya selalu panas dan jiwanya bergolak terus diaduk-aduk kemarahan, kebencian, sakit hati, dan permusuhan terhadap orang-orang yang dianggap sesat dalam menjalankan amaliah yang tidak sama dengannya. Itulah ciri manusia Iblis, yang selalu ditandai sifat-sifat panas api berupa marah, benci, sakit hati, sombong, merasa suci, menjadi yang tertinggi, dan menampik siapa pun yang dianggap lebih tinggi dan lebih mulia darinya.”

             Ustadz Sukijo As-Salafi yang membuka pintu rumah karena merasa tersinggung, seketika dituding oleh Sufi tua sebagai orang kafir yang mengalami gangguan jiwa. Ketika ustadz Sukijo As-Salaf akan berteriak menantang, warga kampung serentak berteriak,”Wong kafir! Sukijo kafir! Wong edan! Sukijo edan! Sukijo gendeng!”

            Sadar keadaan tidak menguntungkan, ustadz Sukijo As-Salaf menutup pintu rumah dengan hati dibakar amarah. Melihat itu, Sufi tua sambil ketawa-ketiwi meninggalkan tempat diikuti warga yang merasa puas telah melampiaskan kekesalan mereka. Sambil berjalan di tengah kerumunan warga Sufi tua memberitahu, bahwa warga masyarakat sebagai golongan mayoritas hendaknya bersatu-padu melawan golongan minoritas yang sewenang-wenang. “Jadi kalau ada segelintir orang menuding kita yang mayoritas sebagai orang-orang kafir, maka kita sebagai mayoritas harus membalikkan tudingan itu kepada mereka. Kalau minoritas menghalalkan darah mayoritas, maka mayoritas pun harus menghalalkan darah minoritas,” kata Sufi tua mengajari warga kampung.

              Tindakan Sufi tua yang ceramah di depan rumah ustadz Sukijo As-Salaf itu tidak disukai Guru Sufi. Namun seperti tahu jika akan ditegur Guru Sufi, sepulang dari acara ceramah dadakan itu Sufi tua tidak kembali ke pesantren, melainkan menghilang seperti tertelan bumi. Namun tindakan berani Sufi tua yang mereaksi sikap dan tindakan ustadz Sukijo As-Salaf itu menjadi perbincangan warga kampung selama berhari-hari.

               Peristiwa singkat seputar ‘ceramah dadakan’ Sufi tua di jalan kampung depan rumah ustadz Sukijo As-Salaf, ternyata tidak berhenti pada kegiatan warga untuk membincang peristiwa itu. Entah siapa yang memulai, terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka: pada saat ustadz Sukijo As-Salaf kedapatan berjalan keluar rumah, puluhan anak-anak kecil dengan beriringan mengejeknya dengan teriakan,”Orang gila! Orang gila! Orang gila!” dengan satu-dua orang anak melemparinya dengan batu-batu kecil.

                Tidak cukup diolok-olok oleh anak-anak kecil sebagai orang gila, sewaktu ustadz Sukijo As-Salaf lewat jalan kampung, para ibu cepat-cepat menutup pintu keras-keras dan meneriaki anak-anaknya agar menghindari berpapasan dengan orang gila. Bahkan warga yang kepergok berpapasan dengan ustadz Sukijo As-Salaf, buru-buru memalingkan muka sambil meludah seperti melihat sesuatu yang najis dan menjijikkan. Dan yang paling tak terduga, warung-warung peracangan di kampung menolak menjual barang dagangan mereka kepada ‘orang gila’ dan keluarganya yang dianggap memperoleh kekayaan atas bantuan Iblis.

                 Ustadz Sukijo As-Salaf yang tidak menduga bakal memperoleh resistensi dari warga kampung, berusaha untuk tetap bertahan dengan keyakinan bahwa Nabi Muhammad Saw pada masa lalu pun mengalami perlakuan yang lebih keras dari itu. Namun pertahanan ustadz Sukijo As-Salaf mulai goyah sewaktu isterinya menunjukkan gejala-gejala tekanan mental yang sangat berat dalam menghadapi reaksi masyarakat yang dianggapnya kelewatan itu. Dan pertahanan ustadz Sukijo As-Salaf pun bobol sewaktu anaknya pulang dari sekolah menangis tersedu-sedu karena dikucilkan oleh kawan-kawannya dan dituding sebagai anak gila karena ketularan bapaknya yang gila. Demikianlah, dengan hati dibakar amarah, kebencian, sakit hati, dan dendam kesumat, ustadz Sukijo As-Salaf meninggalkan rumah kontrakannya. Warga yang bersukacita dengan kepindahan ustadz Sukijo As-Salaf, mengiringi truk dan colt bak yang mengangkuti barang-barang milik  ustadz Sukijo As-Salaf itu, dengan ramai-ramai bersujud syukur serentak di sepanjang jalan kampung.

          Seiring pindahnya ustadz Sukijo As-Salaf – yang oleh penduduk diistilahkan “minggat” – ternyata menguak rahasia menghilangnya Sufi tua dari pesantren. Sebab ternyata, selama menghilang itu, Sufi tua menginap di rumah ustadz Dul Wahab.

           Dalam sebuah perbincangan setelah ustadz Sukijo As-Salaf “minggat”, ustadz Dul Wahab sempat bertanya tentang alasan Sufi tua mengambil tindakan reaktif yang pastinya tidak disukai Guru Sufi. Sambil menyeruput kopi Arabica, Sufi tua menjawab singkat,”Untuk membuat kanal-kanal yang bisa mengalirkan air kemarahan massa ke muara yang benar.”

          “Maksudnya kanal-kanal bagaimana?” tanya ustadz Dul Wahab belum faham.

          “Ketahuilah, wahai saudara, bahwa warga masyarakat di Nusantara ini khususnya orang Jawa, memiliki prinsip 4 Nga, yang jika tidak bijaksana menyikapinya bisa menjadi fenomena AMOK dalam skala massal,” kata Sufi tua.

           “Prinsip 4 Nga?” sahut ustadz Dul Wahab mengerutkan kening,”Apa itu penjelasannya?”

             “4 Nga adalah prinsip Ngalah, Ngalih, Ngamuk, Ngawur,” kata Sufi tua menjelaskan,”Yang disebut Ngalah adalah tindakan selalu mengalah ketika dizhalimi termasuk saat dituduh kafir, sesat, ahli neraka, pemuja setan, pengamal bid’ah; yang disebut Ngalih (hijrah) adalah tindakan meninggalkan kediaman untuk menghindari konflik yang makin tajam; prinsip Ngamuk (marah) adalah sebuah ledakan emosi sewaktu di tempat baru pun, orang masih terus dizhalimi, di mana wujud kemarahan itu berupa tindakan anarkis yang dikenal dengan sebutan AMOK; prinsip Ngawur adalah keadaan jiwa di mana dalam AMOK massa itu tidak jelas siapa yang akan dijadikan sasaran dan kapan berakhirnya keadaan marah tersebut.”

             “Adakah contohnya?” tanya ustadz Dul Wahab.

             “Tahun 1960-an, ketika orang-orang PKI menghujat kyai-kyai sebagai setan desa dan setan kota yang harus digempur, tidak cukup terjadi resistensi secara terbuka terhadap aksi-aksi sepihak PKI yang dipimpin Arab badui bernama D.N.Aidit itu. Aksi-aksi penodaan agama dilakukan secara semena-mena dengan kemarahan-kemarahan terpendam. Nah, saat kemarahan itu meledak, terjadi semacam AMOK massa dalam bentuk melampiaskan amarah kepada semua pimpinan dan anggota PKI. Semua yang terindikasi partai PKI ditangkapi untuk disembelih dalam antrian panjang, karena orang-orang PKI sudah dianggap kafir yang halal darahnya,” kata Sufi tua menjelaskan.

                “Jadi..?”

                 “Tindakanku justru telah menyelamatkan Sukijo goblok itu dari prinsip 4 Nga yang sewaktu-waktu mengancam nyawanya dan nyawa keluarganya,” kata Sufi tua.

             “Itu benar kang,” kata ustadz Dul Wahab mengangguk-angguk,”Murid-muridku sebenarnya sudah berencana akan mengeroyok Sukijo di dekat pasar setelah terlebih dulu diteriaki maling!”

               “Walah, itu lebih kejam, bro.”