Oleh: Agus Sunyoto

 Gara-gara kampungnya diserbu ulat bulu, isteri Sukirin yang phobi ulat membawa tiga orang anaknya untuk mengungsi ke pesantren.  Sekalipun tidur beralas tikar, kamar pesantren terasa seperti surga daripada kasur empuk dirayapi ulat bulu yang mengerikan. Baru sehari tinggal di pesantren, tiga-empat orang kerabat isteri Sukirin  menyusul dengan alasan sama: phobia ulat!

Bermula dari cerita-cerita mengerikan tentang ulat-ulat bulu yang dibawa para perempuan phobia ulat itu, dalam pengajian Asapon malam Aboge Guru Sufi banyak dicecar jama’ah dengan  pertanyaan-2  sekitar pageblug ulat bulu. Bahkan tidak kurang yang mengkait-kaitkan pertanyaan dengan barisan bencana yang beriring-iringan seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, angin puting beliung,kecelakaan massal, ulat bulu. Sebagaimana lazimnya orang awam yang suka otak-atik mathuk, rangkaian peristiwa yang seperti susul-menyusul itu dihubungkan dengan azab Tuhan. Sukirin yang tertekan akibat maraknya ulat bulu, meminta penjelasan Guru Sufi tentang peristiwa-peristiwa yang membingungkan itu. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Kyai, dengan bencana-bencana yang seperti berbaris mendatangi bangsa kita ini. Apakah semua ini fenomena  alam  biasa atau azab Tuhan?” tanya Sukirin ingin penjelasan.

            Guru sufi yang tidak mau menilai suatu peristiwa berdasar cara pikir otak-atik mathuk menjawab bahwa ia tidak bisa menentukan sikap untuk menilai apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peristiwa bencana yang terjadi secara beruntun itu. “Terus terang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah semata. Hanya Allah yang tahu apakah peristiwa bencana itu fenomena alam biasa atau azab. Saya tidak tahu apa-apa, karena saya bukan Tuhan,” kata Guru Sufi apa adanya.

            “Tapi Pak Kyai,” sahut Sukirin terus bertanya berusaha memperoleh jawaban,”Pernahkah dalam kisah Agama ada peristiwa seperti sekarang ini? Maksud saya, adakah kisah umat-umat terdahulu yang diserbu  bencana susul-menyusul dan sambung-menyambung seperti dialami bangsa kita sekarang ini?”

            “Kalau cerita Agama ada,” jawab Guru Sufi tak bisa mengelak.

            “Kisah tentang umat Nabi siapakah yang pernah ditimpa bencana berurutan seperti sekarang ini, wahai Pak Kyai?” tanya Sukirin ingin jawaban pasti.

            “Itu kisah terjadi pada masa Nabi Musa AS dan dicurahkan atas Fir’aun dan rakyat Mesir.”

            “Maaf Pak Kyai, setahu saya Fir’aun itu diazab Allah dengan ditenggelamkan ke dasar laut bersama-sama dengan pasukannya,” sahut Sukirin ingin tahu.

            “Sebelum Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan, Allah terlebih dulu menjatuhkan sepuluh tulah atas Fir’aun dan rakyat Mesir. Karena tetap bergeming diingatkan dengan tulah, akhirnya Fir’aun dan balatentaranya ditenggelamkan di di laut,” kata Guru Sufi menjelaskan.

            “Sepuluh tulah?” Sukirin mengerutkan kening,”Apa sajakah kesepuluh tulah itu, pak Kyai?”

            “Pertama-tama, “ Guru Sufi mulai menjelaskan,”Air di seluruh mesir berubah menjadi darah. Ikan-ikan di sungai mati. Air sungai berbau busuk. Tapi tukang sihir Fir’aun meyakinkan bahwa itu adalah peristiwa alam biasa. Yang kedua, berpuluh-puluh juta katak merayap dari sungai memasuki istana, rumah pegawai, rumah rakyat, bahkan merayap di pemanggangan roti. Bangkai katak bertumpuk-tumpuk seperti bukit-bukit kecil menimbulkan bau busuk dan penyakit. Fir’aun yang ngeri menyaksikan kemunculan katak-katak itu memohon kepada Musa AS agar berdoa kepada Tuhan  supaya Tuhan menyingkirkan katak-katak itu. Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS. Namun setelah Musa AS memenuhi keinginan Fir’aun, raja Mesir ketawa-ketawa menertawakan kebodohan Musa AS yang gampang dibohonginya.”

          Tulah yang ketiga, Allah menaburkan bermiliar-miliar nyamuk  ke segenap  penjuru negeri Mesir laksana tebaran debu. Dengan ganas nyamuk-nyamuk itu  mengerumuni binatang dan manusia. Orang-orang bergelimpangan mati akibat penyakit yang disebar nyamuk. Bangkai hewan yang tewas dikerumuni nyamuk bergelimpangan menebarkan bau busuk. Para tukang sihir menyatakan bahwa nyamuk-nyamuk itu menyerang sebagai  tindakan Tuhan. Namun Fir’aun bergeming mengakui kesalahan.”

             “Tulah yang keempat, Allah menghamburkan berpuluh miliar lalat pikat memenuhi negeri Mesir. Desa-desa sampai istana penuh lalat pikat. Rakyat Mesir sangat menderita, karena telur-telur lalat pikat itu saat menetas menjadi bermiliar-miliar ulat sebelum jadi lalat. Fir’aun memanggil Musa AS dan Harun AS. Fir’aun meminta agar dua bersaudara itu memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan lalat-lalat pikat itu. Seperti biasa, Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS, membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan saat nyamuk menghilang, Fir’aun ingkar janji dan  menertawakan lagi Musa AS yang kena lagi dibohonginya.”

            “Tulah yang kelima, Allah menurunkan kuman dan bakteri campak yang menyerang seluruh binatang orang Mesir. Kuda, keledai, unta, lembu, domba, kambing, dan hewan peliharaan lain bergelimpangan mati terkena campak. Bangkai hewan bergelimpangan menebarkan bau busuk. Tulah yang keenam, Allah menebarkan bara ke seluruh penjuru negeri Mesir. Debu yang berterbangan di seluruh mesir dari hitam menjadi merah menyala. Tapi Fir’aun bergeming.”

            “Tulah yang ketujuh, Allah menurunkan hujan es yang membinasakan ternak dan segala tumbuhan. Orang-orang Mesir pun bergelimpangan tewas dihantam hujan es. Lalu Fir’aun meminta agar Musa AS berkenan berdoa kepada Tuhan agar hujan es redah. Fir’aun pun seperti hobby-nya, berjanji akan mengabulkan keinginan Musa AS, yaitu membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Namun saat hujan es berhenti, Fir’aun kembali terkekeh-kekeh menertawakan kenaifan  Musa AS yang lagi-lagi kena ditipunya.”

                “Tulah yang kedelapan, Allah mendatangkan bermiliar-miliar belalang yang menutupi permukaan bumi hingga orang tidak lagi melihat tanah. Seluruh tumbuhan habis dimakan belalang. Mesir tidak ada lagi pohon hidup. Fir’aun yang takut, meminta lagi agar Musa AS memohon kepada Tuhan untuk menghalau belalang-belalang itu. Fir’aun pun berjanji akan memenuhi  keinginan Musa AS, melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan seperti pepatah Jawa – Ciri wanci ginowo mati – untuk kali ke sekian setelah belalang-belalang hilang dari Mesir, Fir’aun berbohong lagi. Kembali ia ketawa-ketiwi, menertawakan kepolosan Musa AS yang masih bisa dibohonginya.”

            “Tulah yang kesembilan, Allah membuat Mesir gelap gulita selama tiga hari. Orang tidak bisa melihat apa pun saat itu, bahkan melihat tangannya sendiri pun tidak bisa. Tapi Fir’aun tetap bergeming. Lalu Allah pun menjatuhkan tulah kesepuluh, yaitu membunuh seluruh anak sulung Mesir. Demikianlah, anak sulung Fir’aun pun mati. Anak sulung pelayan Fir’aun mati. Seluruh anak sulung mesir mati, termasuk anak sulung hewan.  Musa AS yang tidak percaya lagi dengan apa pun yang diucapkan pembohong besar seperti Fir’aun tak menggubris apa pun yang dikatakan  maharaja dusta  itu. Demikianlah, Musa AS atas permintaan rakyat Mesir, meninggalkan Mesir bersama Bani Israil.”

            “Pak Kyai,” kata Sukirin penasaran,”Saya baru tahu sekarang ini kalau Fir’aun itu selain sombong, suka dipuja-puji, mencitrakan diri sebagai yang paling suci, ternyata juga seorang pembohong nomor wahid. Pantas negerinya dijatuhi tulah oleh Allah, karena kelakuannya sangat mencederai citra seorang raja yang wajib menjauhi sifat-sifat tercela terutama: BOHONG!”

            “Tapi Anda tidak bisa menimpakan kesalahan atas tulah itu semata-mata kepada Fir’aun,” kata Guru Sufi menukas,”Sebab rakyat Mesir telah ikut bersalah, telah menjadikan dan mendukung Fir’aun sebagai junjungan mereka. Itu sebabnya, mereka juga terkena tulah Tuhan karena telah dengan sengaja menjadikan PEMBOHONG besar sebagai raja mereka.”

            Gara-gara kampungnya diserbu ulat bulu, isteri Sukirin yang phobi ulat membawa tiga orang anaknya untuk mengungsi ke pesantren.  Sekalipun tidur beralas tikar, kamar pesantren terasa seperti surga daripada kasur empuk dirayapi ulat bulu yang mengerikan. Baru sehari tinggal di pesantren, tiga-empat orang kerabat isteri Sukirin  menyusul dengan alasan sama: phobia ulat!

              Bermula dari cerita-cerita mengerikan tentang ulat-ulat bulu yang dibawa para perempuan phobia ulat itu, dalam pengajian Asapon malam Aboge Guru Sufi banyak dicecar jama’ah dengan  pertanyaan-2  sekitar pageblug ulat bulu. Bahkan tidak kurang yang mengkait-kaitkan pertanyaan dengan barisan bencana yang beriring-iringan seperti tsunami, gempa bumi, tanah longsor, kebakaran, angin puting beliung,kecelakaan massal, ulat bulu. Sebagaimana lazimnya orang awam yang suka otak-atik mathuk, rangkaian peristiwa yang seperti susul-menyusul itu dihubungkan dengan azab Tuhan. Sukirin yang tertekan akibat maraknya ulat bulu, meminta penjelasan Guru Sufi tentang peristiwa-peristiwa yang membingungkan itu. “Apa yang sebenarnya terjadi, Pak Kyai, dengan bencana-bencana yang seperti berbaris mendatangi bangsa kita ini. Apakah semua ini fenomena  alam  biasa atau azab Tuhan?” tanya Sukirin ingin penjelasan.

            Guru sufi yang tidak mau menilai suatu peristiwa berdasar cara pikir otak-atik mathuk menjawab bahwa ia tidak bisa menentukan sikap untuk menilai apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan peristiwa bencana yang terjadi secara beruntun itu. “Terus terang, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah semata. Hanya Allah yang tahu apakah peristiwa bencana itu fenomena alam biasa atau azab. Saya tidak tahu apa-apa, karena saya bukan Tuhan,” kata Guru Sufi apa adanya.

            “Tapi Pak Kyai,” sahut Sukirin terus bertanya berusaha memperoleh jawaban,”Pernahkah dalam kisah Agama ada peristiwa seperti sekarang ini? Maksud saya, adakah kisah umat-umat terdahulu yang diserbu  bencana susul-menyusul dan sambung-menyambung seperti dialami bangsa kita sekarang ini?”

            “Kalau cerita Agama ada,” jawab Guru Sufi tak bisa mengelak.

            “Kisah tentang umat Nabi siapakah yang pernah ditimpa bencana berurutan seperti sekarang ini, wahai Pak Kyai?” tanya Sukirin ingin jawaban pasti.

            “Itu kisah terjadi pada masa Nabi Musa AS dan dicurahkan atas Fir’aun dan rakyat Mesir.”

            “Maaf Pak Kyai, setahu saya Fir’aun itu diazab Allah dengan ditenggelamkan ke dasar laut bersama-sama dengan pasukannya,” sahut Sukirin ingin tahu.

            “Sebelum Fir’aun dan pasukannya ditenggelamkan, Allah terlebih dulu menjatuhkan sepuluh tulah atas Fir’aun dan rakyat Mesir. Karena tetap bergeming diingatkan dengan tulah, akhirnya Fir’aun dan balatentaranya ditenggelamkan di di laut,” kata Guru Sufi menjelaskan.

            “Sepuluh tulah?” Sukirin mengerutkan kening,”Apa sajakah kesepuluh tulah itu, pak Kyai?”

            “Pertama-tama, “ Guru Sufi mulai menjelaskan,”Air di seluruh mesir berubah menjadi darah. Ikan-ikan di sungai mati. Air sungai berbau busuk. Tapi tukang sihir Fir’aun meyakinkan bahwa itu adalah peristiwa alam biasa. Yang kedua, berpuluh-puluh juta katak merayap dari sungai memasuki istana, rumah pegawai, rumah rakyat, bahkan merayap di pemanggangan roti. Bangkai katak bertumpuk-tumpuk seperti bukit-bukit kecil menimbulkan bau busuk dan penyakit. Fir’aun yang ngeri menyaksikan kemunculan katak-katak itu memohon kepada Musa AS agar berdoa kepada Tuhan  supaya Tuhan menyingkirkan katak-katak itu. Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS. Namun setelah Musa AS memenuhi keinginan Fir’aun, raja Mesir ketawa-ketawa menertawakan kebodohan Musa AS yang gampang dibohonginya.”

          Tulah yang ketiga, Allah menaburkan bermiliar-miliar nyamuk  ke segenap  penjuru negeri Mesir laksana tebaran debu. Dengan ganas nyamuk-nyamuk itu  mengerumuni binatang dan manusia. Orang-orang bergelimpangan mati akibat penyakit yang disebar nyamuk. Bangkai hewan yang tewas dikerumuni nyamuk bergelimpangan menebarkan bau busuk. Para tukang sihir menyatakan bahwa nyamuk-nyamuk itu menyerang sebagai  tindakan Tuhan. Namun Fir’aun bergeming mengakui kesalahan.”

             “Tulah yang keempat, Allah menghamburkan berpuluh miliar lalat pikat memenuhi negeri Mesir. Desa-desa sampai istana penuh lalat pikat. Rakyat Mesir sangat menderita, karena telur-telur lalat pikat itu saat menetas menjadi bermiliar-miliar ulat sebelum jadi lalat. Fir’aun memanggil Musa AS dan Harun AS. Fir’aun meminta agar dua bersaudara itu memohon kepada Tuhan untuk menyingkirkan lalat-lalat pikat itu. Seperti biasa, Fir’aun berjanji akan memenuhi keinginan Musa AS, membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan saat nyamuk menghilang, Fir’aun ingkar janji dan  menertawakan lagi Musa AS yang kena lagi dibohonginya.”

            “Tulah yang kelima, Allah menurunkan kuman dan bakteri campak yang menyerang seluruh binatang orang Mesir. Kuda, keledai, unta, lembu, domba, kambing, dan hewan peliharaan lain bergelimpangan mati terkena campak. Bangkai hewan bergelimpangan menebarkan bau busuk. Tulah yang keenam, Allah menebarkan bara ke seluruh penjuru negeri Mesir. Debu yang berterbangan di seluruh mesir dari hitam menjadi merah menyala. Tapi Fir’aun bergeming.”

            “Tulah yang ketujuh, Allah menurunkan hujan es yang membinasakan ternak dan segala tumbuhan. Orang-orang Mesir pun bergelimpangan tewas dihantam hujan es. Lalu Fir’aun meminta agar Musa AS berkenan berdoa kepada Tuhan agar hujan es redah. Fir’aun pun seperti hobby-nya, berjanji akan mengabulkan keinginan Musa AS, yaitu membebaskan Bani Israil dari perbudakan. Namun saat hujan es berhenti, Fir’aun kembali terkekeh-kekeh menertawakan kenaifan  Musa AS yang lagi-lagi kena ditipunya.”

                “Tulah yang kedelapan, Allah mendatangkan bermiliar-miliar belalang yang menutupi permukaan bumi hingga orang tidak lagi melihat tanah. Seluruh tumbuhan habis dimakan belalang. Mesir tidak ada lagi pohon hidup. Fir’aun yang takut, meminta lagi agar Musa AS memohon kepada Tuhan untuk menghalau belalang-belalang itu. Fir’aun pun berjanji akan memenuhi  keinginan Musa AS, melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Dan seperti pepatah Jawa – Ciri wanci ginowo mati – untuk kali ke sekian setelah belalang-belalang hilang dari Mesir, Fir’aun berbohong lagi. Kembali ia ketawa-ketiwi, menertawakan kepolosan Musa AS yang masih bisa dibohonginya.”

            “Tulah yang kesembilan, Allah membuat Mesir gelap gulita selama tiga hari. Orang tidak bisa melihat apa pun saat itu, bahkan melihat tangannya sendiri pun tidak bisa. Tapi Fir’aun tetap bergeming. Lalu Allah pun menjatuhkan tulah kesepuluh, yaitu membunuh seluruh anak sulung Mesir. Demikianlah, anak sulung Fir’aun pun mati. Anak sulung pelayan Fir’aun mati. Seluruh anak sulung mesir mati, termasuk anak sulung hewan.  Musa AS yang tidak percaya lagi dengan apa pun yang diucapkan pembohong besar seperti Fir’aun tak menggubris apa pun yang dikatakan  maharaja dusta  itu. Demikianlah, Musa AS atas permintaan rakyat Mesir, meninggalkan Mesir bersama Bani Israil.”

            “Maaf Pak Kyai,” kata Sukirin penasaran,”Saya baru tahu sekarang ini kalau Fir’aun itu selain sombong, suka dipuja-puji, selalu  mencitrakan diri sebagai yang paling suci dan mahakuasa, ternyata juga seorang pembohong nomor wahid. Jika boleh tahu, dari sumber manakah Pak Kyai mendapat informasi jika Fir’aun itu seorang pembohong besar?”

            “Aku memperoleh sumber dari Bible-nya Yahudi, kitab Keluaran,” kata Guru Sufi

            “Berarti shahih  sumber itu. Pantas negerinya dijatuhi tulah oleh Allah, karena kelakuannya sangat mencederai citra seorang raja yang wajib menjauhi sifat-sifat tercela terutama: BOHONG! Memalukan ada raja kok suka BOHONG!”

            “Tapi Anda tidak bisa menimpakan kesalahan atas tulah itu semata-mata kepada Si Fir’aun, pembohong,” kata Guru Sufi menukas,”Sebab rakyat Mesir yang juga  ikut bersalah, karena telah menjadikan dan mendukung Fir’aun sebagai junjungan mereka. Itu sebabnya, rakyat Mesir ikut  terkena tulah Tuhan karena mereka telah dengan sengaja menjadikan seorang pembohong sebagai raja mereka.”