Oleh: Agus Sunyoto

Usai pengajian Aboge, saat  para sufi  minum kopi sambil makan singkong rebus,  tiba-tiba Dullah menuturkan sebuah cerita   yang diungkapkan kakeknya sebelum meninggal. Cerita itu, menurut Dullah, sengaja disimpan kakeknya karena dianggap cerita sepenggal yang tanpa kelanjutan. Di samping itu, cerita itu menyangkut orang-orang  yang sudah meninggal dunia seperti Kyai Kholil Bangkalan dan Ustadz Al-Kasan Wahab Bandung. Rangkaian ceritanya, ringkasnya seperti ini:

Tahun 1930-an umat Islam di Hindia Belanda diguncang tuduhan sebagai kaum muslimin yang terjangkit penyakit TBC (Tachayul-Bid’ah-Khurafat) akut yang harus disembuhkan. Sebab penyakit TBC yang akut akan menjadikan penderitanya sesat di dunia dan akhirat, sehingga takdir penderitanya akan berakhir di neraka.  Salah seorang tokoh pemberantas penyakit TBC yang termasyhur saat itu adalah ustadz  Al-Kasan Wahab, asal Bandung,  Jawa Barat. Sejumlah tokoh agama tradisional di sejumlah kampung  yang didatangi dan diajak berdebat  “adu resep obat” penghilang TBC, membuat nama Al-Kasan Wahab semakin melambung di penjuru Hindia Belanda.

            Ustadz Al-Kasan Wahab  sadar bahwa dengan cara berdebat dari kampung ke kampung akan memakan waktu yang sangat lama dan itu memberi kesempatan bagi perkembangan kuman-kuman TBC untuk menyebar  lebih luas ke berbagai  daerah. Untuk itu, ustadz  Al-Kasan  Wahab  akan mengajak debat “adu resep obat” penyembuh TBC melawan  Kyai Kholil Bangkalan yang dikenal sebagai seorang tokoh  kyai yang menjadi sumber penyebar kuman TBC, yang jadi panutan para kyai penyebar TBC di Hindia Belanda. Dengan debat “adu resep obat” itu Ustadz  Al-Kasan  Wahab  juga punya maksud untuk mengingatkan umat Islam agar tidak mengkultuskan kyai Kholil sebagai wali, terutama menolak ajaran tarekat yang diajarkan Kyai Kholil.

             Untuk rencananya yang bakal menghebohkan itu, ustadz  Al-Kasan  Wahab mengutus  seorang muridnya untuk menghadap Kyai Kholil. Kepada Kyai Kholil murid Al-Kasan Wahab itu  menyampaikan maksud gurunya yang mengajak sang kyai untuk  debat secara  terbuka  tentang  kebenaran agama Islam sesuai yang diteladankan Nabi Muhammad Saw, termasuk di dalamnya  usaha-usaha  memberantas penyakit TBC yang menjangkiti umat Islam Hindia Belanda. Namun baru saja murid ustadz Al-Kasan Wahab menyampaikan maksudnya kepada Kyai Kholil yang sedang mengajar mengaji santri-santrinya, Kyai Kholil menyambutnya dengan  tertawa dan menyatakan setuju sekali dengan rencana pertemuan terbuka itu apalagi disaksikan oleh masyarakat umum. “Tapi saya tidak mau debat loh. Karena debat itu akan merusak hati,” kata Kyai Kholil .

            “Kalau pertemuan terbuka tidak ada debat, lalu bagaimana kyai? Apa acara utamanya?” tanya murid ustadz Al-Kasan  Wahab heran.

            “Saya ini orang bodoh, Tuan. Saya tidak  punya ilmu apa-apa. Shalat saja, saya merasa belum benar. Jadi dalam pertemuan dengan guru sampeyan nanti, saya justru akan belajar shalat kepada beliau. Saya ingin guru sampeyan mengajari saya bagaimana shalat yang benar menurut contoh Rasulullah Saw dari mulai berdiri, takbir,  rukuk,  sujud, duduk tasyahud sampai salam,” kata Kyai Kholil.

            Heran dengan rencana Kyai Kholil yang ingin  belajar shalat secara terbuka kepada gurunya, murid ustadz Al-Kasan  Wahab itu saat kembali langsung  melaporkan apa yang dikemukakan Kyai Kholil itu kepada gurunya. Ternyata, ustadz  Al-Kasan Wahab menerima  laporan muridnya itu dengan wajah merah padam dan nafas tersengal-sengal serta dada naik turun. Ia kelihatan geram sekali. Kemudian dengan suara keras  ia menghardik sang murid, ”Sudah jangan pernah ke sana lagi.”

            Sementara itu, para santri Kyai Kholil yang menunggu kapan acara guru mereka belajar shalat kepada ustadz  Al-Kasan  Wahab secara terbuka itu diadakan, ternyata harus kecewa karena  mereka tidak pernah mendapati acara itu terselenggara. Sebagai santri, mereka tidak berani menanyakan masalah itu kepada Kyai Kholil. Mereka hanya yakin bahwa guru mereka lebih tahu, apa sesungguhnya yang terjadi dengan acara debat terbuka yang tak pernah terselenggara itu. Mereka tidak berani bertanya,  bahkan sampai saat Kyai Kholil wafat. Meski peristiwa itu sudah berlangsung puluhan tahun, dan sampai saat mereka tua dan beranak-pinak, peristiwa kedatangan murid ustadz Al-Kasan Wahab itu tetap menjadi misteri tak terpecahkan. Dan peristiwa misterius itu, pada gilirannya hanya menjadi dongeng tak terpoecahkan ketika dikisahkan  para santri tersebut  kepada anak dan cucunya. Dengan polos,  para santri itu menyatakan bahwa mereka tidak  pernah mengetahui gerangan apakah yang menyebabkan ustadz Al-Kasan  Wahab mengurungkan niatnya untuk mengadakan pertemuan  secara terbuka dengan Kyai Kholil dalam rangka membincang kebenaran Agama, khususnya rencana Kyai Kholil belajar shalat kepada ustadz Al-Kasan Wahab.

            Usai mendengar penuturan Dullah, semua diam. Hanya Guru Sufi yang tertawa tetapi setelah itu tidak berkomentar apa pun.

            Dullah yang penasaran, buru-buru bertanya,”Saya yakin, guru mesti tahu jawaban dari cerita misterius kakek saya itu. Apa kira-kira yang menyebabkan ustadz Al-Kasan Wahab mengurungkan niat untuk mengadakan pertemuan dengan Kyai Kholil?”

            “Sudahlah, tidak elok membicarakan yang kurang baik pada beliau-beliau yang sudah meninggal. Rasulullah Saw melarang kita membincang aib orang mati. Jadi sebaiknya ditutup saja cerita itu,” kata Guru Sufi berkomentar.

            “Tapi guru, kira-kira apa yang menyebabkan acara itu batal?” tanya Dullah mulai menangkap makna di balik ucapan Guru Sufi,”Apa karena menyangkut sesuatu hal di mana ustadz Al-Kasan Wahab tidak bisa memenuhi permohonan Mbah Kyai Kholil, mengajarkan shalat dengan sempurna sesuai contoh Nabi Muhammad Saw?”

            “Ya kira-kira begitulah jawabannya menurut penafsiranku,  yang belum tentu benar,” sahut Guru Sufi meninggalkan ruangan dengan tetap meninggalkan tanda tanya bagi sebagian santri yang belum menangkap makna di balik perbincangan Guru Sufi dengan Dullah.