Sanghyang Mughni Pancaniti

Mata Marwi terus memperhatikan wajah Ismaya dengan rasa yang tak bisa ia bayangkan kebesarannya. Tapi matanya ia hentikan ketika melihat sendal jepit yang tak pernah lepas dari kaki kekasihnya itu. Tak peduli apakah ketika kuliah, masuk gedung para pejabat, dan kemana pun.

“A.. kenapa sih tidak suka pakai sepatu?” Tanya Marwi aneh karena Ismaya belum pernah ia lihat memakai sepatu kemana pun pergi.

Ismaya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Marwi yang menurutnya lucu.

“Kenapa malah tertawa? Bukannya jawab.!” Gerutu Marwi.

“Karena aku tidak punya alasan kenapa harus memakai sepatu.” Jawab Ismaya tenang

“Pakailah sepatu, A, karena bukan hanya mengikuti peraturan kampus, tapi yang paling utama adalah karena sepatu bisa melindungi kaki Aa dari kotoran, duri, dan barang-barang tajam lainnya.” Marwi mengingatkan.

Ismaya tertunduk, tak menjawab apa-apa.

Dengan nada yang begitu lembut Marwi kembali berkata, “Tapi sebelum pakai sepatu, pakailah kaos kaki.”

“Gunanya untuk apa, Nenk?” Ismaya bertanya, ia mulai kebingungan

“Untuk melindungi kakimu dari sepatu,” Kata Marwi, “Karena nanti kaki Aa bisa langsung bergesekkan dengan sepatu, dan itu bisa membuat luka kaki Aa…” 

Ismaya benar-benar bingung dengan fungsi sepatu ini. Ia bertanya lagi, “Jadi, sepatu itu sebenarnya melindungi atau mengancam kakiku?”

Sekarang Marwi yang kebingungan. Cukup lama ia terdiam memikirkan yang dikatakan Ismaya. Dan ia tidak bisa menjawab, kecuali hanya tersenyum malu.

“Tidak usah melamun begitu, Nenk” Ismaya mengejutkan kekasihnya, “Pertanyaanmu padaku tentang sepatu sudah dilontarkan oleh guru SD-ku dulu. Dan mereka pun sama persis denganmu, tidak bisa menjawab pertanyaannku apa sebenarnya fungsi sepatu. Dan sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaanku itu. Tapi jujur saja, diam-diam aku memang menikmati tiadanya jawaban itu. Sebab ternyata dalam kehidupan ini banyak ‘sepatu-sepatu’.”

“Maksud Aa?” tanya Marwi tidak faham

“Misalnya pemerintah, negara, industri, kemajuan tekhnologi, orde-orde, reformasi, demokrasi, organisasi-organisasia, pemimpin, kyai, parpol, kelompok, mazhab, pengajian, aliran, serta seribu ‘makhluk’ lain yang hakikatnya mirip sepatu: seolah-olah melindungi, tapi ternyata mengancam.”

“Tapi bisa saja dia itu seperti mengancam, padahal melindungi.” Sergah Marwi.

“Itu terserah. Yang pasti Aa lapar, mending sekarang kita makan.”

“Siap.”