Sanghyang Mughni Pancaniti

     Sore itu, Ismaya dan Jang Ohok menyusuri jalan Braga-Bandung. Alhamdulillah tidak sambil bergandeng tangan. Braga merupakan tempat yang tak bisa lepas dari sejarah terbentuknya kota Bandung. tempat yang begitu indah dan rapih. Terlihat para pelukis dan pemahat patung yang membuat Braga semakin ramai, ditambah para remaja yang duduk-duduk di tepan toko, serta kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang tak cepat.

Dengan rokok terselip di jari jemari masing-masing, Jang Ohok dan Ismaya berjalan pelan-pelan. Dan mata mereka berdua mengitari alam sekitar yang dulunya merupakan toko-toko tradisional, tapi sekarang telah berubah menjadi toko-toko modern.

“Indah sekali jalan Braga ini.” Ismaya mulai membuka mulut

“Benar, Is” Sahut Jang Ohok refleks

Tiba-tiba Ismaya memegang tangan Jang Ohok dan mengajaknya menuju sebuah lukisan seorang wanita setengah telanjang yang ada di depan salah satu toko. Ismaya meraba-raba lukisan itu, dia bagai seorang pecinta lukisan yang sedang memahami makna tersirat dari lukisan itu. Padahal jangankan melukis, menggambar gunung yang tinggal menjajarkan dua segitiga, ia tak mampu.

“Apa maksudmu membawaku ke tempat lukisan ini? Gambar wanita telanjang lagi,” Tanya Jang Ohok sedikit kesal

“Coba kamu lihat lukisan ini,” Tangan Ismaya meraba-raba lukisan tersebut, “Apakah si seniman bekerja keras dan sangat mencintai lukisan karyanya ini?”

“Sudah tentu, Is.” Tukas Jang Ohok, “Karena dialah yang membuatnya.”

“Kalau ada yang menghina apalagi sampai merusaknya, siapa yang pertama kali marah dan sakit hati?”

“Ya si pelukis.” Jawab Jang Ohok cepat, lalu ia terdiam memperhatikan kawannya itu yang sepertinya begitu nikmat memandangi lukisan tersebut, “Kenapa kamu bicara tentang lukisan dan pelukisnya?’

“Karena ini mengingatkanku kepada Tuhan…” Ujar Ismaya

“Maksudmu?” potong Jang Ohok

“Tuhan menciptakanmu, Dia mencintaimu dan bertanggung jawab atas setiap kebutuhan hidupmu. Jika ada orang yang menghinamu, merusakmu, membencimu, menindasmu, menginjak-injak nasibmu, maka yang menciptakanmu itulah pihak pertama yang tidak rela dan sakit hati.” Tutur Ismaya menjelaskan.

Jang Ohok mengangguk pelan

“Siapa yang menciptakanmu?” kembali Ismaya bertanya

“Ya Tuhan lah, masa tukang bakso.!!”

“Baguslah kalau masih ingat.”

“Hah.. sialan kamu.!!”