Sanghyang Mughni Pancaniti

Warung kopi bi waro yang terletak di depan kampus memang merupakan tempat yang nyaman. Para pedagang banyak yang istirahat disana untuk sekedar berbincang atau makan. Aku dan kawanku Doni asyik membicarakan tentang Iblis yang dulu tidak mau bersujud kepada Adam, sedang seluruh malaikat mau bersujud kepada khalifah pertama itu. Aku dan Doni sepakat bahwa Iblis adalah makhluk yang begitu sombong dan angkuh, ia merasa dirinya paling tinggi dibandingkan Adam yang hanya terbuat dari tanah, sedangkan ia tercipta dari api. Dan mungkin kalau dulu ia mau bersujud kepada nabi Adam, mungkin ia tak akan mendapatkan laknat berkepanjangan.

Tapi tiba-tiba seorang kakek yang dari tadi mendengarkan ocehan-ocehan kami menimpali, “Kepada kakek , si Iblis berbisik, ‘Kami sengaja tidak bersujud kepada Adam, kami minta satu periode zaman saja kepada Tuhan untuk membuktikan argumentasi kenapa kami tidak bersujud kepada Adam’. Hari ini kakek nyatakan: Tidak relevan Iblis bersujud kepada Adam, karena anak turunan Adam sekarang terbukti sangat beramai-ramai dan kompak bersujud kepada Iblis.”

Aku terpancing untuk mendiskusikan masalah makhluk terlaknat itu dengan si Kakek. Sementara si Doni pergi keluar untuk memompa sepedah motornya yang tadi kemps tertusuk paku.

“Kek, Iblis ini kan makhluk terkutuk. Berarti kita harus memusuhinya, karena Allah pun memusuhinya.” Ujarku kepada si Kakek

Lelaki tua yang rambutnya sudah dipenuhi uban malah tertawa mendengar kata-kataku, ‘Kata siapa Iblis dimusuhi Allah?” Tanya si Kakek sambil terkekeh-kekeh. Giginya yang sudah ompon sungguh tak enak dipandang

“Itu kan dinyatakan dalam Ta’awudz.” Tukasku cepat

“Bagaimana bunyi Ta’awudz itu, dan apa artinya.?” Kata si Kakek pura-pura tidak tahu.

“Audzubillahiminasyaitonni rojim, artinya, aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Ini menandakan kalau Allah itu mengutuk dan juga memusuhinya, jadi pantas kalau manusia pun memusuhinya.”

“Yang terkutuk itu godaannya atau syetannya?” kejar si Kekek menanyaiku teru-terusan

“Ya, setannya atuh, Kek.!”

“Ah kalau benar Allah itu memusuhi syetan, buat apa Dia menciptakannya? Sudah saja dari dulu syetan itu ditiadakan, kalau hanya untuk dikutuk. Lucu sekali kalau Allah membuat sesuatu, lalu setelah tercipta lantas dimusuhi-Nya.” Kata si Kakek sambil tertawa dengan nada yang keras dibandingkan tadi. orang-orang yang meihat hanya terdiam melihat ulah Kakek itu

Tapi yang dikatakan si Kakek menurutku masuk akal juga. Buat apa Allah menciptakan iblis kalau pada akhirnya Dia memusuhinya.

“Kalau begitu yang terkutuk itu siapa atuh, Kek?” Tanyaku lebih lanjut. Aku menyeruput kopi susu dan langsung menyulut sebatang rokok.

“Bagaimana kalau kakek beri contoh? Biar kamu mengerti.” Kata si Kakek sambil tangannya mengambil bala-bala yang masih hangat.

“Boleh, Kek.”

“Aku berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Begitu kan Ta’awudz itu?”

“Benar.”

“Siapa namamu?”

“Mughni, Kek.”

“Punya adik?”

“Punya. Adik saya laki-laki.”

“Nah coba dengarkan kakek. ‘Aku berlindung kepada Allah dari gangguan adik mughni yang galak’. Siapa yang galak?”

“Adik saya.”

“Ada bedanya nggak arti dari Ta’awudz dengan contoh yang kakek sebutkan tadi?”

“Tidak ada. Sama persis.”

“Berarti yang terkutuk itu siapa? Syetan atau godaannya?”

“Kalau melihat contoh tadi. godaan adalah adikku, dan syetan adalah aku. Jadi yang terkutuk adalah godaannya, bukan syetannya?.”

“Benar. Jadi jangan sampai godaan itu manunggal dengan diri kita. Godaan syetan itu misalkan zinah, korupsi, mabuk, dan perbuatan jahat yang lainnya. Misalkan kamu sekarang korupsi, berarti godaan syetan itu telah menyatu dalam diri kamu. Siapa yang akan dikutuk oleh masyarakat? Syetannya atau kamu?”

“Saya yang pasti dikutuk, Kek.”

Gila juga otak si Kakek. Tak menyangka pembelaannya kepada syetan itu membuat pandanganku terhadap sesosok syetan itu jadi berubah. Jangan-jangan si Kakek yang giginya ompong itu guru atau barangkali muridnya setan.