Sanghyang Mughni Pancaniti

Satu bulan sekali, Abah Wiranta selalu mengajak Ismaya untuk menziarahi kuburan ibunya yang meninggal tujuh tahun yang lalu, yang terletak di pemakaman umum yang ada di kampung sebelah. Dalam berziarah, setelah berdo’a dan membacakan beberapa ayat al-Qur’an untuk almarhumah ibunya Ismaya, Abah Wiranta akan menceritakan tentang ucapan-ucapan istrinya itu ketika melihat Ismaya yang sedang tertidur.

     Satu hal yang selalu istrinya bilang saat melihat Ismaya, ‘Walau pun Rasulullah pernah bersabda bahwa syurga ada di telapak kaki ibu, namun itu tak akan membuat ibu menjadi bangga serta berkuasa atasmu, melainkan akan ibu jelmakan menjadi kasih sayang tak terhingga, akan ibu olah menjadi kelapangan hati dan persediaan maaf yang tak pernah habis’

     Tapi ada kebiasaan aneh yang Ismaya lihat dari Abahnya setelah menziarahi ibu, Abah Wiranta pasti menghampiri sebuah makam lain yang ternyata itu bukan makam keluarganya. Di depan makam orang itu, Ismaya memberanikan diri untuk menanyakan hal ini kepada Abahnya yang sudah selesai berdo’a,

     “Bah, makam siapakah ini? Setiap selesai berziarah ke makam ibu, Abah pasti akan mendo’akan orang ini. Siapakah dia, Bah?”

     “O.. ini makam guru Abah.” Jawab Abah Wiranta

     “Bolehkah saya ikut menziarahinya, Bah?” Tanya Ismaya

     “Tidak perlu.!” Tukas Abah Wiranta, “Ini makam guru pribadi Abah.”

     “Apakah beliau ini tidak memiliki murid lagi selain Abah?” Tanya Ismaya lagi

     “Dia tidak memiliki murid, karena sesungguhnya dia bukanlah seorang ustadz, guru, ulama, atau apapun yang dianggap guru.” Kata Abah Wiranta menjelaskan

     “Kalau beliau ini bukan seorang guru, mengapa Abah mengangkatnya guru?” Tanya Ismaya yang semakin tidak mengerti.

     “Bukan Abah yang mengangkatnya, melainkan Allah!” jawab Abah Wiranta

     “Bagaimana Allah mengangkat seorang guru untuk Abah, tanpa sepengetahuan Abah?” Tanya Ismaya penasaran

     “Apa yang tidak dapat dilakukan oleh Allah!” sergah Abah Wiranta

     “Maksud saya, bagaimana caranya hal demikian bisa terjadi, Bah?” desak Ismaya ingin tahu.

     “Ketika dulu Abah masih muda, orang yang ada di kuburan ini pernah mengancam akan membunuh Abah. Saking takutnya, Abah berlindung kepada Tuhan dan beribadah sedemikian rupa, sehingga abah dikaruniai keistimewaan dari sisi-Nya, dan kecintaan kepada-Nya sampai sekarang. Bukankah yang mengancam itu yang menjadi guru dalam memperkenalkan Abah kepada Tuhan?”