Sanghyang Mughni Pancaniti

    Setelah pulang mengantar sang kekasih, Sukma mendatangi Abah Wiranta yang terkenal nyentrik dan sedikit nakal pikirannya. Sesampai di rumah Kyai itu,Sukma pun menyodorkan satu bungkus rokok yang sengaja ia beli untuk Abah.

‘‘Apakah ada yang bisa Abah bantu, nak?” Tanya Abah membuka percakapan.

“Ada yang hendak saya tanyakan pada kyai.” Jawab Sukma sambil menyalakan rokok.

“Apa itu? Mudah-mudahan Abah bisa menjawab pertanyaanmu, kalau tidak bisa berarti kita akan mencarinya sama-sama” sambung Abah Wiranta

“Abah, gimana supaya azab Tuhan itu tidak berkepanjangan? gempa, tsunami, kebakaran, banjir, dan bencana-bencana lain?” tanya Sukma kepada Sukma yang mulai menyalakan rokonya.

“Sebaiknya penduduk Indonesia jadi kafir saja semua, biar lebih selamat.” Abah menjawab sambil sedikit tertawa.

“Kenapa Abah jawab seperti itu?” tanya Sukma dengan penuh kegeraman.

Abah Wirata balik bertanya kepada Sukma, “Ma, jika suatu saat nanti kamu punya anak perempuan, kamu maunya tidak dikawini orang, tidak dicintai orang sampai tua, atau anakmu dikasih I Love You, dinikahi, tapi dimain-mainkan, kamu pilih yang mana?”

Sukma pun menjawab, “mending anak saya tidak dikawini sampai tua, daripada dikawini tapi dimain-mainkan.”

“Begitu pun sifat Tuhan, lebih baik kamu jadi kafir.! Dosanya hanya satu. Daripada kamu menjadi muslim atau orang yang beragama, tapi main-main sama Tuhan”Tukas Abah Wiranta sambil mematikan rokoknya.