Sanghyang Mughni Pancaniti

      Lapangan sepakbola yang ada di kampung Tumaritis digegerkan dengan penemuan sebuah mayat anak kecil. Puluhan warga pun dan beberapa polisi sedang mengerumuni mayat anak itu yang katanya masih kelas 3 SMP. Tubuh anak itu tergeletak lemah tak bernyawa, setelah ia menghabisi dirinya sendiri dengan gantung diri. Luka dileher bekas tali tambang jelas terlihat, matanya terbelalak, mulutnya menganga, dan badannya yang kaku sudah benar-benar berbau busuk. Ayah dan ibu si anak tak bisa menahan kesedihannya, mereka meraung-raung bagai gemuruh, tangis dan sesekali gelak tawa begitu miris terdengar oleh telinga para warga yang melihat kejadian itu. Banyak selentingan yang mengatakan bahwa anak itu terpaksa menggantung dirinya dikarenakan tidak lulus ujian akhir.

Beberapa tahun terakhir ini, dengan ancaman ketidaklulusan jika tidak mencapai nilai standar yang ditentukan pemerintah, banyak para pelajar harus meregang nyawa oleh tangannya sendiri ketika melihat kenyataan bahwa dirinya terdaftar di deretan siswa yang tidak lulus ujian nasional.

Kang Cepot dan Kang Dawala hanya melihat-lihat dari kejauhan. Kang Dawala begitu jengkel dengan orang-orang yang mendahului takdir Tuhan dengan bunuh diri seperti ini. Tapi Kang Cepot yang berdiri di sampingnya justru menangis tersedu-sedu melihat kejadian ini, dia bagaikan seorang kakak yang kehilangan adiknya tercinta. Kang Dawala tak tahu apa yang tengah kakaknya pikirkan, apakah karena tak tega? Atau mungkin marah sepertinya? Entahlah.

“Kenapa ada orang yang harus membunuh dirinya karena kemalangan hidup?” Kang Dawala berkomentar kepada Kakaknya, “Dan menganggap bahwa dengan jalan itulah masalah mereka selesai.  Mereka telah mendahului ketentuan Allah. Mungkin hanya nerakalah yang pantas bagi orang-orang seperti itu. Apalagi penyebabnya adalah sesuatu yang tak ada kaitannya sama sekali dengan penjaminan kebahagiaan hidup, yakni lulus ujian.”

Kang Cepot menyeka air matanya ketika mendengar ucapan adiknya yang berhidung panjang itu. Ia mengajaknya pergi dari tempat itu. Mereka melangkah pelan, menelusuri jalanan Tumaritis yang penuh debu gedung karena sedang membangun masjid baru.

“Kalau kamu mau mengkajinya lebih dalam, demi Allah mereka membunuh dirinya untuk kita semua.” Kata Kang Cepot, matanya menatap Kang Dawala tajam.

“Lho kenapa?” sanggah Kang Dawala cepat, “Apa hubungannya orang yang bunuh diri dengan kita?”

Sambil terus berjalan Kang Cepot menjawab, “Prilaku bunuh diri adalah puncak dari kritik social paling radikal yang bisa mereka lakukan. Mereka membunuh dirinya dengan resiko siap diadili Allah, dan rela dihujat serta dicaci-maki sesamanya di dunia, demi supaya kita mau belajar menghargai kehidupan.”

Kang Dawala terdiam mendengar kata-kata kakaknya yang memakai iket itu. Tak pernah ia pikirkan bahwa mereka membunuh dirinya untuk orang-orang yang masih hidup. Ketika Kang Dawala hendak berkomentar, Kang Cepot sudah berjalan jauh dari hadapannys. Kang Dawala duduk di pinggir jalan, menyulut rokok cerutu pemberian ayahnya, Abah Semar. Ia langsung melamun

“Orang yang bunuh diri bisa saja justru mencari kehidupan yang sejati,” kata Abah Semar tiba-tiba sambil tangannya diacungkan ke belakang, yang entah kapan Sang ayah berada disisinya. Muncul tiba-tiba merupakan kebiasaan jelek ayahnya yang tak ia sukai. Abah Semar sering membuatnya kaget seperti ini. Namun karena di negeri ini banyak kaget demi kaget yang ia rasakan, jadi ia acuh saja.

“Pak,” Bentak Kang Dawala kepada ayahnya, “Mati hidup itu urusan Tuhan. kenapa mereka yang bunuh diri mengambil hak-Nya dan mendahului keputusan-Nya.?”

Abah Semar menundukkan kepalanya, rokok yang tersemat di jemarinya ia hisap dalam-dalam, lalu berkata, “Mungkin mereka justru menyebrang ke wilayah kehidupan yang sejati. Ia berpindah dari tempat dimana kehidupan dibuat menangis oleh kesengsaraannya, oleh ketimpangan kesejahteraan yang membuatnya tidak lagi merasa bahwa itu adalah kehidupan.”

“Kata-kata Bapak terlalu mengada-ngada.” Kilah Kang Dawala sambil melayangkan pandangan ke tempat warga yang masih berkumpul melihat mayat anak SMP itu.

“Apabila tidak seorangpun mendengarkan pekikan lapar mereka, apakah  namanya itu kehidupan?” ujar Abah Semar dengan nada meninggi, “Kalau seseorang membuat kursi singasana antarpulau dan lainnya makan tanah, kehidupankah itu namanya? Dan orang-orang yang kita beri mandat untuk mengurus dan memperhatikan perut, nafas, dan pendidikan kita, tapi malah merampas tanah kita, membuntu nafas kita, dan memperbodoh akal kita, Apakah itu yang namanya kehidupan?”

Kang Dawala mengganggukan kepala, sudah mulai memahami apa yang dikatakan ayahnya. Di lokasi bunuh diri semakin menumpuk orang berkerumun disana, mereka menghujat si korban. Mencibir karena anak itu putus asa dari Tuhannya, dengan bertindak hal yang bodoh seperti ini.

Abah Semar kembali berkata, “Barangkali memang hanya mereka yang mengambil keputusan bunuh diri itu pada saat mereka sudah tak mampu lagi menyangga semua itu. Namun Tuhan Maha Tahu bahwa sebagian dari kita yang masih hidup, sesungguhnya telah dibunuh oleh yang kita sebut kehidupan,”

“Maksud Bapak? Dibunuh bagaimana?” Tanya Kang Dawala tak faham apa yang dikatakan Abah Semar.

Abah Semar tak menjawab pertanyaannya, dan tiba-tiba menghilang entah kemana.

Beberapa meter dari tempatnya duduk, mata Kang Dawala melirik ke arah Kang Cepot yang baru membeli rokok. Ia memanggil-manggil, namun kakaknya itu tak menghiraukan.

Kang Cepot berlari menghampiri kerumunan orang-orang yang sedang melihat mayat anak kecil di lapangan sepakbola. Ia langsung berdiri di atas bangku penonton, dan menghadap kepada puluhan warga, ia berteriak keras-keras seperi orator yang sedang berpidato kepada ribuan masanya,

“Kasus bunuh diri seperti ini segera kita kotak dalam bingkai teori psikologi-sosial tentang ketidakmatangan mental atau keterdesakkan ekonomi. Tetapi secara keseluruhan baik kita para pengutuk, para penilai, maupun para pelaku bunuh diri itu sesunguhnya terlibat dalam ketidakfahaman global tentang makna-makna paling substantive dari kehidupan dan kematian.”

Semua mata memandang ke arah Kang Cepot yang lantang berteriak-teriak seperti orang gila. Pak polisi pun menghentikan proses identifikasi terlebih dahulu. Ada yang menggeleng-geleng kepala, ada yang berdecak kagum, bahkan ada yang meludah, karena orang dekil seperti Kang Cepot mau kelihatan so pintar,

Tak sampai disitu Kang Cepot orasi, ia kemudian memekik semakin keras, “Sejak dahulu pendidikan tentang kehidupan dan kematian itu membeku. Yang kita tahu kematian adalah berhentinya fungsi jantung. Kita tidak peduli kepada seribu kematian lainnya yang berlangsung dalam kehidupan kita.”

Benar-benar kasihan mayat anak kecil itu, dia sekarang diacuhkan. Karena semua mata kini telah tertuju ke sesosok makhluk tak bersandal itu.

“Kematian apa yang Akang maksud?” Tanya salah satu diantara mereka kepada Kang Cepot

Kang Cepot melayangkan wajahnya ke arah langit yang berwarna jingga, lalu menjawab bak seorang penyair,   “Kematian akal, kematian otak, kematian moral, kematian ruhani, serta kematian fungsi-fungsi sesunguhnya dari Allah yang dimaksudkan-Nya sebagai kehidupan.”