Sanghyang Mughni Pancaniti

      Abah Wiranta mengalami sakit komplikasi yang membuatnya terpaksa harus minum obat setiap hari. Abah Wiranta yang merupakan sesepuh kampung Tumaritis adalah seorang lelaki yang amat berjasa dalam pembangunan desanya itu. Sudah puluhan tahun ia mengabdikan diri kepada Tuhan melalui berkasih sayang dengan sesama hamba.

     Ismaya yang tiga hari ini menemani Abah Wiranta tengah membuatkan segelas susu untuk ayahnya itu. Ketika membawakan susu dan hendak menanyakan sesuatu, ia menemukan ayahnya sedang shalat. Dia pun duduk di belakang sang ayah untuk menunggunya sampai selesai.

     “Ada apa, Is?” Tanya Abah Wiranta yang sudah selesai shalat. Ia meminta Ismaya membawakan susu pesanannya.

     Sambil memberikan susu Ismaya mulai bertanya, “Sudah puluhan tahun kita hidup miskin, Bah”

     “Memangnya kenapa?” Abah Wiranta memotong, “Kamu bosan dibawa hidup miskin oleh Abah?”

     “Bukan, Bah” sanggah Ismaya cepat, “Hanya saja aku selalu bingung dengan prilaku Abah.”

     Seperti biasa Abah Wiranta hanya terkekeh-kekeh mendengar sebuah ungkapan lucu yang meluncur dari siapa pun, dan kini dari anaknya. Bagi Abah Wiranta, kebingungan itu ada karena setiap masalah selalu didramatisir berlebihan, padahal biasa-biasa saja. Dan amat sepele.

     “Memangnya kenapa?” Kata Abah Ismaya sambil menyeruput susu hangatnya.

     “Kemiskinan kita bukan disebabkan karena takdir atau kemalasan, tapi terkadang setiap rizki yang datang selalu Abah tampik.” Tutur Ismaya tenang, “Banyak orang-orang yang begitu ingin memberikan Abah harta karena jasa Abah, tapi Abah tolak.”

     Ismaya menyulut sebatang rokok, dan Abah Wiranta begitu serius mendengarkan ucapan anak semata wayangnya.

     “Tapi saya kagum pada Abah,” Kata Ismaya melanjutkan, “Abah tidak pernah terbuai oleh gemerlap dunia serta senang menikmati kesederhanaan. Abah hanya terus dan terus beribadah kepada Allah. Abah hanya sibuk mengejar akhirat.”

     “Kamu salah sangka, Is,” Abah Wiranta menyela

     “Salah sangka bagaimana, Bah.” Ismaya terheran

     “Kalau Abah beribadah, Abah tak pernah mengejar akhirat. Dan tak pernah sekali pun mengharapkannya.” Tukas Abah Wiranta tenang

     “Lantas Abah mengejar dan menginginkan apa dengan ibadah selama ini?”

     “Allah, hanya Allah yang Abah harapkan. Abah tidak ingin bersujud kepada dunia, dan Abah tidak mau menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir. Abah hanya ingin menatap wajah-Nya, dan hidup bersama-Nya. Kerinduan Abah sudah amat tua dan sakit.”