Sanghyang Mughni Pancaniti

     Sehabis shalat ashar, Ismaya terduduk di beranda masjid Kalimusada yang ada di desa Tumaritis. Dia terduduk cukup lama sambil memegangi dagunya, ada sesuatu yang ia renungkan kali ini, sampai ia tidak menyadari bahwa dari jarak sekitar tiga meter Sukma terus memperhatikan dirinya.
Sukma yang penasaran melihat tingkah sahabatnya itu segera menghampiri,
“Apa yang sedang kau fikirkan, Dulur..?” Tanya Sukma mengejutkan Ismaya.
“Eh, kau.” Kata Ismaya sedikit terkejut dengan kedatangan Sukma yang tiba-tiba.
      “Apa kau punya masalah?” kembali Sukma bertanya sambil menyodorkan satu bungkus rokok.
“Tidak.” Tandas Ismaya. Tangannya mengambil satu batang rokok dan menyulutnya penuh nikmat.
“Lalu apa yang kau fikirkan? Serius sekali.” Sukma sedikit mendesak.
“Kau lihat bayanganku itu?” Kata Ismaya seraya tangannya menunjuk kepada bayangan dirinya sendiri.
“Ya.” Jawab Sukma.
“Sedari tadi sehabis shalat Ashar aku memperhatikan bayangan diriku sendiri. Yang membuatku aneh adalah, semakin lama bayanganku itu semakin panjang saja. Padahal aku tetap duduk disini tak bergerak.” Ismaya menjelaskan apa yang sedang difikirkannya.
“Ah aku kira kau memikirkan apa.” Sukma tertawa terbahak-bahak, “Itu karena matahari semakin merendah. Tak perlu juga kau menghabiskan waktumu hanya untuk memikirkan sesuatu yang tak ada gunanya seperti bayangan itu.”
“Siapa bilang tak berguna?” Kilah Ismaya dengan nada yang agak meninggi,   “Bayang-bayang ini seperti sedang mengajakku bicara tentang suatu hal yang maha indah dan dahsyat. Tapi sayang, aku terlalu bodoh sehingga sulit sekali bicara kepadanya dan tak pernah mengerti apa yang selama ini diungkapkannya. ”
Tawa Sukma kali ini lebih keras dari sebelumnya, lantas ia berkata, “Kalau kau tidak mengerti semua itu, atau tentang suatu hal, buat apa kau mengajaknya bicara dan berdialog?”
“Dalam hal ini aku tidak butuh pengertian,” Tukas ismaya, “Karena aku sangat mencintai cintanya dalam mengikutiku kemana-mana.”