Sanghyang Mughni Pancaniti

Baru selesai buka bersama di masjid Kalimusada, Ismaya dan Sukma terduduk di pinggir bedug sambil menikmati rokok dan buah korma pemberian Ibu Darsih. Mereka berbincang, ketawa-ketiwi, dan sesekali menceritakan pengalaman puasa mereka di bulan suci Ramadhan sewaktu nyantri bersama di pesantren Cupumanik beberapa tahun silam.

Dari sekian banyak obrolan, Ismaya terhenti ketika mengingat banyak orang muslim yang mengatakan kalau Ramdhan adalah bulan yang suci dan mulia dibandingkan bulan yang lain.

“Bingung sekali aku.” Tukas Ismaya sambil merapihkan rambut panjangnya yang terurai.

“Jangan terlalu banyak bingung, nanti gila.” Kata Sukma seraya tangannya mengambil satu buah korma yang ada di depannya, “Apalagi yang membuatmu bingung?” sambungnya.

Ismaya mulai bertuutur, “Kita menghormati bulan Ramadhan dengan menyebutnya bulan suci..”

“Mungkin karena Ramadhan memang khas.” Sela Sukma sebelum Ismaya melanjutkan kata-katanya.

“Ya, aku tahu itu,” Kata Ismaya, “Dalam bulan Ramadhan ada malam seribu bulan. Bulan kehusyuan. Dalam bulan ini al-Qur’an diturunkan, dan Allah sendiri begitu membedakan laku puasa dengan mengatakan bahwa ibadah yang satu ini khusus untuk-Nya.

“Itu benar sekali, Bung.” Sukma menyetujui ucapan kawannya.

“Lalu apakah boleh kita menyebut bulan selain Ramadhan itu bulan yang tidak suci?” Ujar Ismaya sambil menatap Sukma, “apakah Syawwal bukan bulan yang suci? Padahal bulan itu adalah bulan dimana manusia kembali kepada kefitriannya setelah menjalankan puasa. Apakah bulan dilahirkannya Muhammad itu bulan yang tidak suci? Apakah bulan yang didalamnya terdapat peristiwa Isra’ Mi’raj itu tidak suci? Apakah ada tahun, bulan, minggu, jam, menit, sekon atau waktu ciptaan Tuhan yang tidak suci?”

“Ah ucapanmu selalu membuatku pusing.” Pungkas Sukma seraya berdiri dan berjalan ke tempat wudhu meninggalkan Ismaya.

“Apa sesungguhnya konsep dan pengertian tentang kesucian itu?” lirih Ismaya pada dirinya sendiri.