Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Di sebuah forum bedah buku ‘Islam Sontoloyo’ karangan Ir. Soekarno  di kantor desa kampong sebelah, Sukma diminta oleh beberapa pemuda untuk menjadi narasumbernya. Ia sangat bahagia dan bangga karena merasa mendapat kehormatan dari Negara tetangga tersebut.

     Dia sudah berangan-angan kalau dirinya akan menjadi focus perhatian masyarakat desa sebelah, bukan hanya oleh para pemuda, pun para pemudinya yang terkenal cantik dan ‘nyantri’. Tapi rasa optimis itu diluar dugaannya, 70% para peserta diskusi itu tidak memperhatikannya, malah mereka asik membuat forum di dalam forum.

     “Saya, aneh kepada anda semua,” Kata Sukma yang sudah tidak tahan dengan para peserta diskusi yang tidak memperhatikannya, “Bukankah anda sendiri yang mengundang saya kesini untuk menjadi narasumber? Kenapa anda tidak memperdulikan dan tidak memperhatikan saya?”

     Para peserta tak bergeming dengan peringatan Sukma, mereka terus asik dengan kegiatannya masing-masing. Karena merasa tidak dihargai, Sukma naik pitam dan berteriak keras sambil berdiri,

     “Bagaimana kalian bisa dihormati oleh orang lain, jika kalian sudah tak mau menghormati orang lain?”

     Ismaya yang kebetulan hadir dalam forum tersebut tiba-tiba berdiri, menatap tajam ke arah Sukma yang mukanya mememerah menahan marah, dengan suara kerasnya Ismaya membalas peringatan Sukma,

     “Kenapa kamu harus marah atau malu karena dilalaikan dan tidak diperhatikan oleh orang-orang disini? Sedangkan Tuhan pun yang memberi saham seratus persen atas segala produksi sejarah hamba-hamba-Nya saja sudah sangat diabaikan dan diacuhkan. Apa hakmu untuk merasa menderita dan terhina seperti itu? Padahal kamu tidak pernah memberi kontribusi apa pun atas kehidupan ini. Segala apa yang ada padamu, segala ilmu yang muncul dari mulutmu, segala mutiara hikmah yang meluncur dari lidahmu, itu bukan karyamu, melainkan semata-mata penyaluran anugrah dari milik-Nya juga.”