Ketika Ismaya dan Sukma sampai di masjid agung Bandung, mereka langsung melangkahkan kaki ke tempat wudhu, setelah itu menunaikan shalat berjama’ah di lantai dua.

Selesai shalat berjama’ah, tiba-tiba seseorang berdiri di atas mimbar untuk ceramah, dan kebetulan orang itu adalah seorang Kyai yang biasa memberikan ceramah di masjid agung ini. Ismaya dan Sukma tidak langsung pergi, tapi mendengarkan untaian nasihat sang kyai. Kali ini Kyai itu berceramah dengan suara yang lantang menghujat para pelaku maksiat, seperti tukang zinah, mabuk, dan lainnya, ancaman akan dijebloskan ke dalam neraka pun memekik dari mulut sang Kyai.

Ismaya yang mendengarnya sedikit kaget dan risau dengan cibiran dan makian kyai ini. Tanpa basa-basi ia berdiri lalu memohon untuk bicara. Pengurus masjid agung sangat kaget dengan keberanian Ismaya, si Kyai pun mempersilahkan Ismaya untuk berbicara.

“Pak,” Kata Ismaya memulai kritiknya kepada Kyai yang berdiri di atas mimbar, “Seharusnya anda tidak perlu menghujat para pelaku durjana seperti tadi. Apalagi sampai disangkutpautkan ke dalam neraka yang sebenarnya itu adalah hak Tuhan.”

“Lalu apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus memuji mereka? Atau mendo’akan mereka?” Tanya Kyai itu dengan nada yang sangat menyindir,

“Berkat banyaknya kemungkaran dan kemaksiatan,” Ucap Ismaya, “Maka muncullah profesi mubaligh seperti anda ini, dimana anda menjadi sangat mewah hidupnya dengan harta dan rasa hormat orang lain. Karena jika masyarakat sudah berada dalam suasana yang penuh nur dari Allah, maka pekerjaan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menjadi tidak diperlukan.”

 “Jadi?” Tanya Kyai yang tetap menggunakan microfone.

“Menurut saya, setiap mubaligh, kiai, ulama, sangat perlu berterima kasih kepada orang-orang jahat.”

“Kamu mengada-ngada pemuda.” Ujar Kyai, “Kenapa juga aku harus berterima kasih kepada mereka? Sudah jelas-jelas mereka adalah ahli maksiat kepada Allah..”

“Bahkan tidak hanya berterima kasih, Kyai,” Ismaya menyela, “Kalau perlu, orang-orang yang merasa paling suci seperti anda ini, demi etika dan rasa syukur, sebaiknya selalu membacakan surat al-Fatihah setiap sehabis shalat, yang khusus diperuntukan bagi mereka yang tadi anda sebut tukang melanggar hukum Allah itu. Karena mereka telah memberi peluang kepada anda untuk disebut suci, tak suka maksiat, ahli ibadah, dan mendapatkan pekerjaan yang basah ekonominya seperti berceramah dari panggung ke panggung, mesjid ke mesjid, dan TV ke TV.”