Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Sukma yang baru saja digugat oleh Ismaya di forum bedah buku, merasa malu dan amat terhina ketika Ismaya berteriak-teriak memarahinya. Tapi bagaimana pun, apa yang dikatakan Ismaya itu benar, sehingga rasa marah dalam dirinya hanya ketika itu saja.

Di perjalanan pulang, Ismaya melihat wajah Sukma yang ditekuk. Begitu lesu dan gelisah. Ia merasa kalau Sukma masih marah kepadanya akibat kejadian tadi,

 “Kamu masih marah kepadaku, Sukma?” Tanya Ismaya.

“Bukan, Is,” Kilah Sukma, “Aku sudah tidak marah. Justru aku berterima kasih karena kamu sudah memperingatkanku.”

“Lantas kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” Ismaya mencoba memasuki jiwa sahabatnya ini.

“Aku baru saja bertengkar dengan ibuku.” Sukma tertunduk, air matanya sedikit keluar.

Ismaya menyesap rokoknya dalam-dalam, ia tidak mengomentari kata-kata kawannya itu.

Wajah Sukma yang murung tiba-tiba berubah menjadi seutas senyum yang tersungging di bibirnya,

“Kenapa kamu malah jadi tersenyum? Bukankah kamu baru saja menyakiti ibumu?” Ucap Ismaya.

“Aku memang bersalah, Is,” Sukma menjawab, “Tapi hatiku sudah tenang lagi kalau mengingat bahwa seorang ibu pasti akan memaafkan kesalahan anaknya.”

“Ibu kandungmu adalah ibunda kehidupanmu,” Ismaya menasehati Sukma sambil terus berjalan, “Meskipun ia akan selalu memaafkanmu, jangan coba-coba kamu sakiti hatinya.”

     “Kenapa begitu, Is?”

     “Karena bisa saja setiap pemaafannya atas kesalahan-kesalahanmu itu digenggam erat-erat oleh para malaikat, lalu diusulkan kepada Allah agar dijadikan kayu bakar nerakamu kelak.”