Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Dalam perjalanan pulang dari Masjid Agung Bandung, dan harus sedikit bersitegang dengan seorang Kyai, Sukma mencurahkan isi hatinya kepada Ismaya yang sedang berjalan di pinggirnya. Kali ini ia dibingungkan oleh kebesaran cintanya kepada gadis kampung sebelah bernama Nyi Inoh, dan ia berharap Ismaya bisa memberinya nasihat.

“Is,” Kata Sukma masih tetap berjalan, “Nyi Inoh adalah gadis yang sudah aku cintai selama dua tahun lamanya, bahkan cintaku ini setengah mati, Is. Seringkali dia menyakitiku, tapi tak sedikit pun aku ingin membalas untuk menyakitinya. Aku tak habis mengerti, mengapa kehadiran Nyi Inoh tidak bisa digantikan oleh siapa pun.?”

 Ismaya hanya mengangguk-nganggukan kepala mendengar Sukma berbicara.

“Padahal kalau aku hitung dengan cara matematis,” Kembali Sukma menjelaskan, “Kecantikan Nyi Inoh ini nilainya 5, kelakuan 4, kecerdasan 3, keturunan 4, kekayaan 4, kesupelan 3, jasa 2, nah kalau kebawelan dan kegoblokan nilainya baru 9.”

Pundak Sukma hanya dielus-elus oleh Ismaya.

Sukma ingin meminta penjelasan kepada Ismaya, dan ia berharap sahabatnya ini mau memberikan penjelasan yang panjang dan memuaskan hatinya, “Is, kenapa aku bisa jatuh cinta seperti ini? Padahal banyak wanita yang lebih bagus daripada Nyi Inoh?”

“Cinta itu lain.” Jawab Ismaya sambil berlari, dia kebelet hayang kiih.