Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

Filsuf teragung sekolong langit tiada lain adalah Nabi kita Muhammad SAW. Dari tarikh kita bisa tahu bahwa pada umur 7 tahun beliau telah bertanya kepada pamannya tentang hakikat penciptaan semua yang ada ini. pertanyaan Muhammad inilah yang kemudian oleh Ibnu Sina disebut al-Hads, yaitu kemampuan potensial yang sangat kuat dalam jiwa manusia yang sedang belajar.

Kita pun tahu bahwa Muhammad suka merenung di Gua Hira sampai pada akhirnya ia menerima wahyu Ilahi di sana. Sebelum ia diangkat menjadi Rasul, tepatnya pada usia 35 tahun, dengan kecerdasan berfikir yang mengagumkan, ia telah mendamaikan pertikaian di kalangan suku Quraisy. Ketika setiap golongan merasa berhak menyimpan Hajar Aswad ke tempat asal mulanya pada bangunan ka’bah yang baru diperbaiki, ia terpilih menjadi pendamai. Coba dengarkan kecerdasannya ketika ia berkata, “Serahkan kain sorban kepadaku dan kemarilah masing-masing kepala golongan, pegang ujung-ujung kain itu oleh kalian, kemudian angkatlah bersama-sama.” Maka Muhammad menyimpan batu hitam itu ke tempat asalnya. Itulah yang disebut Filsuf sejati. Filsuf sejati bukanlah mereka yang sanggup berfikir tentang sesuatu yang besar, melainkan mereka yang gelisah melihat realitas di sekitarnya yang dipenuhi oleh permasalahan, seperti: penindasan kaum perempuan, perampokan, penggusuran tanah kaum miskin, merajalelanya pelacuran, riba, judi, dan tindakan makar lainnya. Filsuf sejati akan mencari pencerahan apakah gerangan yang menyebabkan itu semua terjadi, bagaimana cara mengatasinya, bagaimana mengubah serta menjauhkan masyarakatnya dari jurang kehancuran dan kegelapan, menuju masyarakat yang penuh dengan kedamaian, damai, dengan penuh kebijaksanaan.

            Wahyu yang pertama turun adalah kalimat, ‘Iqra!’ (Bacalah). Ketika Muhammad menerima wahyu Tuhan ini jelas bukanlah satu perintah untuk membaca buku seperti kita sekarang ini, karena ia adalah seorang yang ummi, melainkan perintah untuk membaca kenyataan yang berjalan dengan didasari kesadaran transcendental. Kemampuan Muhammad ini jelas sekali berkaitan dengan kecerdasannya yang mampu melampaui tataran fisik, al-Hads seperti yang diungkap oleh Ibnu Sina.

            Muhammad pun resmi menjadi utusan-Nya pada usia 40 tahun. Dalam menyampaikan Kata-kata Tuhan, seperti dapat kit abaca dalam sejarah Islam, ia menggunakan pendekatan yang berbeda dalam dua periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Ketika di Mekkah ia menekankan tauhid yang menjadi pokok fundamental ajaran-Nya. Pendekatan ini ia tanamkan karena memang pada waktu itu Mekkah dipenuhi oleh ajaran yang menyembah karya manusia, berhala-berhala, jika dalam bahasa sekarang mungkin disebut Teologi Kebendaan. Teologi Kebendaan yang merusak masyarakat inilah yang ingin ia hancurkan. Pola piker inilah yang menyebabkan mereka ada dalam kebodohan, kegelapan, penindasan kaum perempuan, semangat kesukuan yang berlebihan sehingga menyebabkan peperangan, bahkan ketika beribadah pun mereka telanjang, dan lain sebagainya. Ia kemudian membangun Teologi Ketuhanan yang sangat hebat dan menjadi sumber inspirasi tidak hanya bagi orang Arab Mekkah, tapi bagi semua manusia, baik ilmuan, maupun seniman, la ilaha illa Allah

            Setelah Teologi Ketuhanan tertancap kuat di akar kaum muslimin, pada periode kedua, Madinah, ia mengubahnya menjadi pendekatan structural dan juga proses tranformasi ajaran Tuhan ke dalam tataran social. Pendekatan kedua ini sangat tepat ia tanamkan. Pendekatan kedua ini merupakan cabang-cabang yang tumbuh dari akar akidah. Manusia bukan hanya perlu keyakinan yang kuat kepada Tuhan, melainkan memerlukan juga aturan main untuk menjalani hidup ini dengan sesame manusia, alam semesta, dan dengan Tuhan tentunya. Bagaimana agar kebutuhan manusia akan berhubungan dengan yang tiga tadi, Muhammad mengajarkannya dalam syari’ah (hukum).

            Kehebatan dalam membaca realitas dan mencari solusi dari segala masalah kehidupan inilah yang membuat Hart dalam buku Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah menempatkannya diurutan pertama. Muhammad SAW telah berhasil membangun satu peradaban yang paling indah dan damai sepanjang sejarah. Peradaban yang dibangunnya dikenal dengan sebutan “Peradaban Islam Klasik”. Marshal G.S Hodgson, ahli sejarah dunia asal Amerika, memuji peradaban Islam klasik dalam The Venture of Islam dengan, “Apabila sejarah dunia kita ibaratkan sebagai roda, maka sumbunya adalah peradaban Islam klasik”. Buku Hodgson ini mengutip ayat al-Qur’an sebagai motonya, “Engkau telah menjadi umat terbaik yang pernah dimunculkan untuk umat manusia, seraya memerintahkan ma’ruf dan melarang munkar, dan yang percaya kepada Tuhan”.

Daftar Pustaka

Fauz Noor, Tapak Sabda, LKIS, Yogyakarta, September 2004.

Micheal H Heart, Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah, Format Ebook, media.isnet.org

Karen Amstrong, Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis, Risalah Gusti, Surabaya, Juni, 2006.