Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Rasa takut yang teramat telah mengenggam jiwa Sukma, setelah ia dinasihati Ismaya akan prilakunya yang sering menyakiti ibu. Ia buru-buru pulang untuk meminta maaf dan berjanji tak akan mengecewakan sang ibu lagi.

     Ketika sampai di rumah, Sukma mendapatkan ibunya tengah berdo’a sambil menangis tersedu-sedu. Sukma semakin takut kalau tangisan ibunya diakibatkan pertengakaran tadi malam dengan dirinya.

     Di balik tirai kamar, Sukma mendengar apa yang ibunya ucapkan, “Ya Allah. Aku titipkan anakku kepada-Mu..”

     Mendengar do’a wanita yang dikasihinya, Sukma pun tak mampu menahan air matanya seraya bergumam, “Ibu, do’amu mengangkat tanganku untuk menampar mukaku sendiri yang hina. Do’a ibu lugu dan bersungguh-sungguh. Ibu tak tahu slogan, namun do’a ibu memantulkan hidup ibu. Kata-kata ibu melambangkan keringat ibu.”

     Sukma memasuki kamar ibunya, dan langsung tersungkur di hadapan sang ibu.

     “Maafkan Sukma, Bu.” Kata Sukma sambil menciumi lutut ibunya, “Sukma mohon jangan pernah ibu menyimpan rasa marah kepada anakmu yang tolol ini. Jika ibu marah kepadaku, tentu Tuhan tak akan mau menengokku dan memperhatikanku lagi. Kebahagiaan dan Syurgaku ada di telapak kakimu, Bu.”

     Ibu menyeka air mata bekas do’anya, kemudian mengusap-usap kepala anaknya sambil berkata, “Syurga memang Allah simpan di telapak kaki ibu. Tapi itu tak akan ibu jadikan sebagai kebanggaan dan rasa berkuasa atasmu. Melainkan menjelmakannya menjadi kasih sayang tak terhingga, dan mengolahnya menjadi kelapangan hati serta persediaan maaf yang tak akan pernah habis.”