Oleh : RIZKY SOPIYANDI

“Orientasi dipandang perlu sebagai langkah awal para Mahasiswa Jurusan KPI menempuh jalur kompetensi yang ada di jurusan tersebut”. Begitu kira-kita bait awal Term Of Reference  PKM OMBAK 2011 yang saya rancang dan yang tak lama ini telah digulirkan di Garut, 27-30 Oktober 2011.

Sejak dipinta menjadi konseptor sekaligus penanggungjawab tim seleksi kepanitiaan oleh sahabat Rizal Khairul Ihsan, Ketua HMJ KPI (yang sebelumnya dipercaya menjadi Ketua Organizing Commite sebelum dialihkan ke Sahabat Erik) memang agak segan mengingat pribadi sudah beranjak semester yang kurang layak ketika masih bergulat langsung kewilayah teknis kegiatan, namun disamping itu tanggungjawab moral sebagai seorang Mahasiswa KPI yang dipinta loyalitasnya menjadi alasan bagi pribadi penulis menjalankan lamaran officio kepanitiaan waktu itu.

Konsep yang penulis bentuk dan tuangkan dalam Term Of Reference OMBAK KPI pada hakikatnya bermuara kepada 2 tujuan yang menjadi cita-cita bersama mahasiswa KPI. Yakni PENEGASAN KOMPETENSI JURUSAN dan SILATURAHMI ANTAR ANGKATAN. Kolaborasi Tema memang menjadi fokus utama penulis, mengingat 2 hal tersebut merupakan hal yang urgen bagi mahasiswa KPI hari ini.

Setelah konsep terbentuk, sebelumnya penulis merasa kecewa ketika para panitia mengindikasikan kekeliruan dalam menerjemahkan konsep yang penulis buat. Diskordinasi antar panitia, awamnya individu-individu kepanitiaan terkait mekanisme organisasi, ditambah momentum pemilihan ketua HMJ KPI memang menjadi tantangan bagi mereka. Namun, semangat dan totalitas mereka membuat permasalahan-permasalahan internal panitia yang ada seakan menjadi hidden agenda. Dan suksesnya kepanitiaan meyakinkan para calon peserta terkait pentingnya mengikuti OMBAK KPI 2011 menjadi nilai lebih bagi kepanitiaan kali ini, mengingat begitu sulitnya menjalankan program tersebut berdasarkan pengalaman penulis mengikuti OMBAK dan terjun langsung baik secara teknik maupun sebagai Concepting Maker dalam kurun waktu 3 tahun kebelakang.

Teriakan Sadis Sang Komdis

Bagendit, Kamis 21.00-04.00

Konsep tegas namun bukan keras, menjadi salah satu yang beda dari OMBAK kali ini. Jika sebelum-sebelumnya atau 3 tahun kebelakang OMBAK dibentuk dengan tema akrabisasi dan pemenuhan gizi intelektual kemahasiswaan kali ini berlangsung beda namun tek lepas dari cita-cita bersama menjadikan KPI satu.

Hal tersebut terlihat sejak awal mereka meninjakan kaki di Garut, tepatnya ditempat pariwisata Situ Bagendit. Panitia yang didominasi oleh Komdis (Komisi Disiplin) yang dimotori sahabat Andre selaku koordinator komdis sudah melakukan tindak tegas kepada peserta. Dimulai dengan kelengkapan yang sebelumnya sudah ditugaskan, hingga kontrak belajar yang dibuka secara ruang demokratis semua dilakukan secara tegas oleh panitia sehingga otomatis para peserta pun stress. Bagaimana tidak, lelah selama perjalanan Bandung-Garut ditambah teriakan-teriakan para Komdis menghentak mental mereka, ditambah suasana yang kurang mendukung kenyamanan bagi para peserta.

Dan sebagai catatan, konsep tegas yang dilakukan bukan semata sebagai momentum balas dendam panitia yang sebelumnya sempat jadi peserta atau semata para panitia ingin menunjukan diri bahwa mereka lebih superior dari peserta namun semua itu dilakukan sebagai strategi menjadikan OMBAK kali ini lebih berkesan, tidak terkesan flat.

“seorang pendaki baiknya merasa bersyukur ketika melihat tebing tinggi didepannya,

karena setelah melewati itu ia akan melihat sesuatu yang tidak semua orang bisa merasakannya,

yakni sensasi”. -Rizqisme89-

“Maaf Intan..”

Sebelumnya, penulis sempat kebingungan menamakan subtema kedua ini. Namun, subtema ini hanya sebatas judul cerita, tanpa bermaksud menghidupkan kembali cerita-cerita yang sebenarnya kurang layak untuk diceritakan.

Bagendit, Jum’at 04.00-18.30

Cerita dimulai ketika hari kedua rombongan OMBAK KPI di Situ Bagendit. Disaat semua sedang asyik menikmati materi kompetensi yang disuguhkan panitia, dan kebetulan hari itu penulis diamanati oleh panitia untuk menyampaikan materi “Teknik Produksi Film dan Program TV” dikelompok I’lam bagian Film, dan juga materi “Teknik penulisan Berita dan Feature” dan juga “teknik Reportase dan Wawancara” dikelompok Kitabah.

Bagendit, Jum’at 18.30-04.00

Saat waktu menjelang isya, semua sontak kaget saat salah satu panitia berteriak-teriakan aneh, padahal saat itu sedang akan dilakukannya shalat isya berjama’ah. Dan ternyata salah satu panitia tersebut diindikasikan mengalami kejadian spiritual yang hingga saat ini saya tak tau menamakan tepatnya seperti apa, namun hal tersebut seringkali dikatakan sebagai “kesurupan”.

Situasi mencekam, udara sontak terasa panas padahal logikanya tempat tersebut adalah pesisir danau yang cukup luas dan berangin, teriak dan tangis ketakutan para peserta maupun panitia mulai menjadi-jadi sehingga tak lama setelah kejadian kesurupan pertama, beruntun terjadi kepada peserta dan panitia yang lain. “ini karena mereka panik, sehingga sugesti jelek masuk ke alam bawah sadar mereka”. Begitu kata Mang Sam, pelukis sekaligus penjaga kios yang kami tempati sebagai tempat istirahat disela-sela kejadian.

Bagendit, Sabtu 04.00-11.30

“This is the real stressing” komentarku terhadap salah satu status facebook peserta yang menuliskan tentang kejadian tersebut. Bagaimana tidak, kejadian yang tak sedikit pun terpikirkan oleh para panitia, namun menjadi agenda bersama antara panitia dan peserta, dan jika kita ambil hikmahnya dan jika kita sadar pada saat itu tidak ada tingkatan dalam kegiatan. Semua menjadi subjek dan semua mencari solusi bersama, dan mungkin itulah salah satu indikasi kesuksesan dalam acara OMBAK yakni menjadikan KPI satu, mungkin itu maksud Allah.

Dan terakhir, meskipun hanya sebagian orang yang akan mengerti akan hal ini, penulis hanya ingin mengucap “maaf Intan, hatiku sudah kesurupan cinta perempuan yang lain”.

Spekulasi Beraksi

Bagendit, Sabtu 11.30-13.00

Setelah kejadian di Situ Bagendit panitia dan saya sendiri selaku konseptor acara tersebut memang dibingungkan antara 2 pilihan, memulangkan peserta mengingat psikologis peserta setelah kejadian malam tersebut atau melanjutkan kegiatan sebagai bentuk tanggung jawab kepada peserta. Dan beruntung pilihan kami salah, mungkin karena dalam keadaaan panik kami pun memutuskan untuk memulangkan peserta, hingga Rizal atas rekomendasi Sahabat Ipank, tamu dari jurusan Ilmu Hukum, merekomendasikan agar peserta tetap mengikuti hingga selesai OMBAK KPI dengan alternatif memindahkan tempat kegiatan dari Areal Situ Bagendit ke Pondok Pesantren Al-Washilah, Cipanas Garut.

Mendengar alternatif tersebut panitia langsung bergerak cepat ditengah kekhawatiran situasi yang sebenarnya bersifat spekulatif terkait perpindahan tersebut, apakah tidak akan terjadi lagi kejadian semalam, atau sama saja. Namun, Allah menjawab itu semua dengan akhir kegiatan yang sangat indah.

Full Ekspresi KPI

Al-Washilah, Sabtu 13.00-19.30

Setelah mendengar rekomendasi dari salah satu tamu terkait perpindahan kegiatan OMBAK panitia pun langsung mengadakan survei tempat, gerak cepat tataran kepanitiaan memang pantas diacungkan jempol. Sehingga acara yang sebenarnya sudah tak berharapan tersebut hidup kembali. Para panitia yang sebelumnya dilanda kelelahan dan kepanitian terlihat semangat kembali. Begitu juga ekpresi para peserta yang sebelumnya dipenuhi dengan ekspresi malas, takut, dan berbagai hal yang bersifat negative berubah ketika pertama kali datang di areal Pondok Pesantren Al-Washilah, Garut.

Tempat yang juga bersejarah bagi para mahasiswa angkatan 2007 ini mengingat di tempat inilah angkatan 2007 melasungkan OMBAK terasa sejuk dan Asri. “naha sih teu ti kamari didieu, enakeun didieu mah hawana positif” ucap salah satu korban kejadian malam situ bagendit kepada penulis.

Kegiatan di Al-washilah dibuka dengan aksi rangkaian pos tentang sejauh mana peserta mencintai jurusan ini, dan juga pelatihan mental bagi para peserta yang dibawa fun, lucu dan menghibur. Di pos ekspresi, semua peserta dibawa enjoy, dibawa gila-gilaan, joget hingga tertawa meskipun tanpa alasan. Post ekspresi yang ditukangi oleh para senior seperti Kang emot, dan Kang Ipung memang serasa menjadi post penyelamat bagi para panitia. Bagaimana tidak, dengan tingkah laku kocak kang emot dan kang ipung para peserta seakan melupakan kejadian yang belum lama mereka alami di situ bagendit. “nuhun kang emot, nuhun om ipung” ucap erik, ketua OC OMBAK disela-sela kegiatan.

Al-Washilah, Sabtu 19.30-00.30

“senior beraksi” mungkin itu menjadi tema untuk subcerita yang satu ini. Disela-sela kegiatan dialog antar generasi dengan pembicara Om Ipung dan Kang Emot (2004), The Ai (2005) Saya, Iwang (2007) ditambah generasi aktif Taruno (2008), Andre (2009) dan Ufroh (2010) senior dan beberapa panitia yang diwakili sahabat Andre dan Rizal mengadakan suatu hidden agenda. Dengan scenario para senior yang diwakili sahabat Samsul memarahi para panitia yang bersikap tidak professional didepan peserta. Panitia yang tidak menerima dengan aksi tersebut (Andre dan rizal) –dan sebenarnya mereka pun masuk dalam scenario- pun mengadakan perlawanan kepada senior-seniornya, termasuk kepada penulis.

Baku hantam dalam ruang dialog antar generasi tak terelakan antar pelaku drama tersebut. Sontak para peserta dan juga panitia yang tidak tau acara skenario tersebut. Tangis ketakutan, hingga ekpresi marah terlihat dari wajah mereka. Hingga akhirnya om ipung membuka scenario tersebut dengan nyanyian lagu “selamat ulang tahun”. Sontak orang-orang yang tidak tau keheranan pada awalnya, hingga mereka ngeuh jika perkelahian tersebut hanyalah sandiwara senior dan beberapa panitia sebagai uji mental dengan konsep management konflik.

Haru, ekspesi lega, hingga tawa-tawa keakraban muncul dari setiap indivudu. Terlihat, akrabisasi mulai terasa dalam setiap individu, panitia hingga peserta. Semua melebur, kekakuan mencair, dan semua menjadi satu  yakni “DULUR KPI”.

Dan dipenghujung malam pun panitia melangsungkan acara pengukuhan peserta. Acara yang berisi pentas seni setiap kelompok, pemutusan kelulusan peserta dalam mengikuti ombak dengan simbolisasi pemberian kaus dan pin KPI hingga nyanyi dan joget dangdut bersama dimana semua merasakan kehangatan malam dengan alunan music dangdut yang dialunkan oleh sinden KPI sahabati Dede Dirosh (2010) sontak membuat semua lupa akan kegiatan dan menikmati malam.

“hayu ah goyang kabeh” ucap samsul dan sehan, angkatan 2007, saat mengajak yang lain untuk bergoyang bersama. Dan tak lupa acara musyafahah pun dilaksanakan dalam momentum malam pengukuhan tersebut.

Menyerah atau Berdarah

Al-Washilah, Minggu 07.30-13.30

Agenda terakhir yang dilaksanakan pada rangkaian OMBAK KPI 2011 ini adalah simulasi Aksi. Dengan pemateri sahabat Ruhi (2007) acara simulasi sebenarnya berjalan tidak efektif. Peserta kebingungan ketika pelaksanaan kegiatan tersebut. Intruksi dari pemateri tak terlalu diterjemahkan dalam lapangan dengan benar. Managemen massa mereka terlihat buruk ketika pantia mulai mengganggu massa aksi. Namun semua berubah ketika aksi dibubarkan.

ket : saat berlangsungnya simulasi aksi

Mungkin sudah menjadi budaya. Acara akhir OMBAK KPI rasanya tak lengkap jika para peserta tidak mengerjai Ketua OC atau Ketua HMJ. Namun perbedaannya dengan OMBAK kali ini, bukan hanya OC dan Ketua HMJ, tapi semua jajaran kepanitiaan dan senior menjadi korban “balas dendam” peserta. Semua dilempar ke kolam yang tak jauh dari tempat kegiatan. Tawa lucu, hingga teriakan-teriakan para panitia saat dibawa paksa peserta untuk dilemparkan ke kolam tersebut mewarnai ujung OMBAK. Sehingga sak sedikit panitia yang dilemparkan dan mencoba melawan terkena batu-batu tajam yang ada di dasar kolam. Sehingga munculah kata “menyerah atau berdarah”. Dan selesai acara ceremonial tersebut para peserta dan panitia segera menyiapkan diri untuk agenda pulang.

Sebuah Pengakuan

Buah-batu, senin 19.00-21.00

Begitu banyak kesan, drama, dan cerita. Itu yang mungkin menjadi kata yang dapat mewakili hati ini ketika ditanya tentang OMBAK 2011 ini. OMBAK terbaik yang penulis rasakan selama 4 tahun mengikuti acara OMBAK.  Rasa bercampu aduk, begitu banyak pelajaran baru bagi pribadi penulis dalam kegiatan yang sebenarnya sudah biasa penulis ikuti. Ini luar biasa, bukan hanya keluarbiasaan penulis sebagai organisatoris di KPI tapi ini pengalaman luar biasa selama penulis menjadi Mahasiswa.

Dan diujung catatan ini penulis sampaikan selamat dan sukses bagi para peserta OMBAK 2011 dan ucap bangga yang luar biasa bagi tataran panitia yang sebenanya mereka baru dalam sejarah perjalanan Organisasi KPI namun sudah memberikan kesan yang luar biasa, dan terutama bagi Ketua OC sahabat Erik dan Ketua HMJ Sahabat Rizal. Tak lupa orang-orang yang ikhlas membantu pelaksanaan kegiatan ini hingga suksesnya terlaksana. Sahabat Ruhi, Samsul, Uje, Mugnie, Om Ipung, Kang emot, teh Ai, Iwank, jeni, Mang Sandi, Gaga, Ipank, Koi, mang Sam sekaligus pribumi Situ Bagendit dan jajaran pemerintahannya dan tak lupa teman-teman Orda Permata Intan yang saya tak tau namanya, saya mewakili para panitia mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas suksesi OMBAK 2011 ini.

sampai jumpa dalam malam Apresiasi dan Inagurasi KPI.

Dan sangat terakhir mari kita teriakan “HIDUP KPI”

Buah-batu, 31 Oktober 2011

Rizky Sopiyandi