Oleh Mochamad Ziaulhaq

Perempuan dari tempat orang Sunda berasal, atau perempuan Pasundan, memiliki posisi penting dan terhormat dalam perikehidupan Sunda. Dia bersifat mandiri dan mampu melindungi diri dalam eksistensinya bersama laki-laki.

Bahkan dalam mitos asal usul hari atau Dongéng Poé, laki-laki dianggap pelengkap. Karena awal hari adalah perempuan bernama Robayah atau Rebo, lalu hari menjadi sempurna sebagai hasil perkawinan primordialnya dengan Jumantawal dari Ujung Lautan, Salasa dari Baratang Geni dan Kemis dari Nagara Atas Angin. Lalu lahirlah Senen, Ahad dan Saptu.

Dalam alam Kahiangan menurut kepercayaan Sunda Buhun, tokoh sentalnya adalah perempuan bernama Sunan Ambu yang memiliki sifat keibuan, sebagai ambu atau ibu. Sosok yang penuh kasih sayang dan tempat mengadu semua tokoh pantun.

Dari Pantun Budak Manyor, perempuan menjadi pusat eksistensi bagi seorang raja. Kebaikan Agan Sumur Agung dari Nagara Kuta Tandingan menjadi rebutan para pangeran. Sosok perempuan sangat bernilai bagi sebuah kerajaan, hingga harus bertapa selama tujuh tahun di bawah Kiara Jingkang Dopang Malang agar bisa menikahinya. Perkawinannya dengan Ratu Sungging dari keturunan Pajajaran, membuat Nagara kuta Tandingan pancér (pusat) bagi empat kerajaan lain.

Penghargaan tinggi pada perempuan tidak menjadikannya lemah. Kaum perempuan memiliki pribadi mandiri dan pejuang gigih. Pantun Nyi Sumur Bandung mengisahkan perjuangan seorang perempuan mempertahankan Nagara Bitung Wulung. Mulai dari serangan dua kakak laki-lakinya, penculikan anaknya, pembuangannya ke Hutan.

Dia bangun kembali kerajaannya di sebuah tempat asri dan indah, bernama Nagara Kerta Yuga. Setelah bertemu kembali dengan putrinya, Nyi Mas Atji Bangbang Sumega Wajang, mereka mengalahkan intimidasi Nagara Kuta Waringin. Kemudian wilayah kerajaannya dikenal menjadi Bandung.

Kecantikan perempuan Pasundan terlihat dalam sosok Dewi Asri di Kuta Pandak dalam Pantun Mundinglaya di Kusumah. Kecantikannya membuat jatuh hati para pangeran : Nagara Kuta Ayunan, Nagara Kuta Pandak, Nagara Kuta Kanjéré, Nusa Lumayu dan Meladatar. Serta syarat bisa menikahinya, harus mendapatkan Parahu Sorong Kancana dan Langlayangan Domas yang dijaga Guriang Tujuh di Sajabaning Langit.

Seperti peribahasa Sunda tentang kecantikan perempuan, Juru Pantun mengungkapkan jelitanya Dewi Asri : Atuh taarna bulan tumanggal/halisna ngadjelér paéh/damis kanu sapasi/waosna gula gumantung/taktakna taraju emas/panangan bentik ngagondéwa/lamun seug ditilik : ti gigir lenggik/ ditinggal ti tukang lenjang/ diteuteup di hareup sieup/lamun angkat lir macan teunangan.

Datangnya Radén Sunten Jaya dari Pelabuhan Nusa Kapal dengan harta berlimpah tidak membuat Dewi Asri gelap mata. Pilihannya adalah calon suami yang memenuhi syarat demi kehormatannya. Lalu dilapalkan mantera sirep agar bisa lari dari Kuta pandak : sang kama rasa sang kama ningkem/kembung-kembung bumi sajagat/ret meneng ret meneng/turu sajagat kabeh!

Setelah lama bertapa dengan menutup Aji Pancadria : neneda kanu kawasa/nyepi diri nutup adji pantjadria/panca lima dria angen-angen/kanyataannana nutup lima palawangan/… /tjengeng manteng ka nu kawasa/sidakep sinuku tunggal/atuh geuning mudji dikir/agé-agé ka pitjarogeeunnana. Akhirnya Dewi Asri bertemu dengan suami pilihannya sendiri, Mundinglaya setelah mengalahkan Guriang Tujuh.
Bercermin kepada Dyah Pitaloka

Bagaimana perempuan menjaga kehormatannya? Dyah Pitaloka menjadi cermin teladan dalam sejarah masyarakat Sunda. Bersama ayahnya, Prabu Linggabuana (1350-1375 M), Dyah Pitaloka pergi menuju Majapahit hendak diperisteri resmi sebagai permaisuri oleh Hayam Wuruk. Berangkatlah rombongan pengantin sebanyak kurang dari 100 orang.

Setelah berlabuh di Pantai Utara ibukota Majapahit dan berkemah di alun-alun Bubat, mereka disambut oleh pasukan perang Patih Gajah Mada yang meminta putri raja sebagai upeti. Rombongan Sunda bermusyawarah dan sepakat menghadapi musuh.

Perkawinan tidak terjadi, malah rombongan Sunda itu gugur dalam pertarungan sengit. Melihat ayahanda, para pembesar Sunda dan rombongan satu persatu gugur. Putri yang dijuluki wajra (permata) memilih mati-bela demi kehormatan diri, keluarga dan rakyat Sunda daripada menjadi perhiasan nafsu kekuasaan.

Perempuan dalam tantangan zaman

Sejarah selalu menoreh tinta perjuangan perempuan di setiap zaman. Seperti dibuktikan Lasminingrat yang memberantas ketertinggalan intelektual perempuan. Serta semangat R.A Kartini untuk memperjuangkan kaum perempuan yang terus diteriakkan sampai detik ini.

Waktu selalu menantang kaum perempuan. Menuntut mereka supaya lebih baik, disertai kemandirian yang mantap dan kehormatan yang selalu terjaga. Butuh kekuatan lebih untuk menapaki pergumulan hidup ini, bukan sekedar mantera dan doa tetapi usaha dan karya nyata.

Sekata dengan Kofi Annan, menghormati dan mendidik kaum perempuan sama saja membangun satu generasi ke depan. Bahkan dalam ajaran Islam : diantara kedua orang tua kita, sosok perempuanlah yang lebih diutamakan. Tetaplah berjuang perempuan Indonesia. Teguhlah berjuang, Ibu!