Oleh: Fauz Noor

Entah sudah berapa kali saya mendengar seorang mubaligh mengutip surat Al-Baqarah ayat 208, “Masuklah kalian semua kepada Islam secara menyeluruh (kaffah).” Tafsir yang sering saya dengar dari mereka, masuklah kepada Islam secara konvensional; dimanapun, kapanpun, sedang bagaimanapun, berprilaku dengan aturan Islam. Entah, kitab Tafsir apa yang mamaknai ayat itu demikian, para mubaligh juga tak suka mengutip ulama tafsir, mereka menafsirkan sendiri. Tak jarang, seperti yang baru-baru ini saya dengar, ayat ini dimaknai dengan keharusan menegakkan perda syari’ah. “Agar kita bisa berislam secara kaffah, salah satunya adalah berhukum dengan hukum Islam, syari’ah Islam. Kita berdagang dengan aturan Islam, masa bernegara tidak dengan syariah Islam. Ini tidak kaffah namanya,” ujar mubaligh itu.

Mubaligh kita ini berangkat dari pemahaman, seperti ia utarakan, Islam adalah agama sempurna, agama yang bisa dan harus mengatur segala aspek kehidupan manusia, baik urusan personal maupun urusan sosial. Kaum muslim, menurut ia, harus berprilaku sesuai dengan aturan Islam yang sempurna tersebut. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan sampai masuk toilet harus memakai aturan Islam. Pokoknya, full time harus ber-Islam, tidak boleh satu detik pun tidak memakai aturan Islam.

Jika benar bahwa kita harus full time dalam beragama, satu detik pun tidak boleh keluar dari aturan Islam, bagaimana dengan ayat ini, (yang dicetak miring adalah terjemahan teks Al-Quran), “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Artinya, Allah tahu bahwa kesanggupan manusia itu berbeda satu sama yang lainnya. Maka, dia mendapat pahala dari kebajikan dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Mereka berdoa, “Ya Tuhan kami janganlah Engkau hukum kami jika lupa atau bersalah. Ini ungkapan jujur bahwa manusia suka lupa dan salah. Artinya, mereka tak akan sanggup secara full time beragama. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana kepada orang-orang yang sebelum kami. Ini ungkapan jujur bahwa kita memerlukan keringanan tuntutan Allah atas kita. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tak sanggup kami pikul. Kita khawatir jika beban yang Allah pikulkan tak sanggup kita laksanakan. Berilah maaf kami semua, ampunilah kami semua, rahmatilah kami semua. Jika akhirnya kita tak bisa melaksanakan apa yang Allah pikulkan, kita masih memohon ampunan dan rahmatnya. Ini satu ungkapan bahwa kita benar-benar tahu bahwa diri kita lemah, tempat lupa dan salah. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami atas kaum kafir. Kita sadar bahwa keberdosaan atau kesalahan kita terkadang disebabkan jebakan kaum kafir, maka kita mohon pertolangan Allah atas itu. (Q.S. Al-Baqarah: 286).

Jika Allah tahu kelemahan dan kekuatan manusia berbeda-beda, kenapa Dia menyuruh kita semua untuk masuk Islam secara kaffah? Jawaban bijak dilontarkan, “Allah menyuruh ber-Islam secara kaffah, justru ingin mengukur kekuatan dan kelemahan iman manusia, itu sebanya Dia akan memberi pahala atas kebajikan dan memberi siksa atas kejahatan.” Baik demikian, tapi apakah konsep masuk kepada Islam secara kaffah menjadi utopis kalau begitu? Sebab, toh tidak akan ada yang sanggup untuk melaksanakaan aturan agama secara full time? Hemat saya, Allah tidaklah akan bertindak demikian. Al-Quran kitab yang bertujuan untuk membawa manusia kepada kabahagiaan dunia-akhirat, maka Al-Quran tidak akan pernah membawa manusia kepada kehidupan utopis yang tidak akan sanggup manusia lakukan.

Bisa jadi, secara Ulumul-Qur’an, Al-Baqarah: 208 dan Al-Baqarah: 286 berada dalam posisi ta’arud (bentrok). Solusi yang bisa diberikan “mungkin” nasikh wa mansukh. Al-Baqarah: 208 menghapus Al-Baqarah: 286, atau sebaliknya. Saya tak akan mengulas ini, karena saya juga menulis hanya sebatas “bisa jadi” atau “mungkin”.

Hemat saya, sering para mubaligh mengutip Al-Baqarah: 208 tidak dengan melihat asbabun-nuzul. Dan, menurut saya, posisi sebab turunnya ayat ini sangat penting untuk mengetahui pemaknaanya secara tepat dan benar.

Menurut Tafsir Al-Kasaf karya Az-Zamakhsyari, pengertian ‘Hai orang-orang beriman’ dalam ayat ini adalah Ahlul-Kitab yang telah beriman kepada Rasulullah dan Al-Quran. Kejadiannya begini: Abdullah bin salam, Taslabah, Said bin Umar, Qais bin Zaid dan yang lainnya, orang-orang Yahudi yang sudah masuk Islam, namun mereka masih suka menjalankan ritual-ritual agama lamanya, mereka masih melakukan ritual sabat dan membaca Taurat dalam shalat. Lalu, turunlah ayat ini. (Tafsir Al-Kasaf, 1: 251. LIhat juga, Khasih Shawi ‘ala Tafsir Jalalain, 1: 133, Tafsir Ibnu Katsir, 1:249, Tafsir Baidhawi, 1:492, dan yang lainnya).

Jadi, Al-Baqarah: 208 adalah ayat untuk menyerukan keyakinan yang total, artinya tidak setengah-setangah, tidak sinkretis. Ayat ini diperuntukkan kepada para mu’alaf yang sudah masuk Islam dan masih ingin atau suka melakukan ritual keyakinan lamanya. Sungguh keliru jika ayat ini kita gusur maknanya kepada sikap keberagamaan yang full time, sebab jika demikian maka Islam menjadi agama yang sangat utopis.

Islam bukanlah agama yang mengajarkan full time dalam beragama. Bukan pula agama yang menyerukan part time. Islam adalah agama yang menyerukan sikap realistik. Islam tahu bahwa manusia itu makhluk lemah, maka Allah tidak membebani mereka melainkan sesuai kemampuannya. Ini sangat realistik, artinya “beban” (sebenarnya bahasa yang patut diucapkan manusia bukan beban, melainkan  aturan agama. Kata “beban” hanya pantas diujarkan Allah) pasti sesuai dengan kemampuan manusia. Mereka mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya. Namun, karena manusia suka melampaui batas, suka akan dosa-dosa, maka dia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Islam juga agama realis, itu sebabnya ajaran pokok Islam adalah ketulusan (ikhlas). Secara realis, setiap manusia pasti tergetar oleh ketulusan. Islam adalah agama realis, ajaran Islam punya pondasi mendasar, tidak ada paksaan dalam agama. Islam adalah agama realis, Rasulullah bersabda, “Kalian semua lebih tahu urusan dunia kalian.” Islam adalah agama realis, itu sebabnya dalam ushul fiqih ada kaidah, taghayyuri al-ahkam bi taghayyiri az-zaman, hukum bisa berubah karena ada perubahan zaman.

Nah, menurut saya, inilah yang tak dipahami mubaligh kita itu. Ia memandang Islam secara utopis sampai-sampai mewajibkan perda syari’ah. Bukankah ketika perda syari’ah diketuk palu, pondasi ketulusan dalam beragama, pondasi tidak ada paksaan dalam beragama, menjadi rusak? Mungkin, karena cita-cita ingin menjiplak kehidupan Rasulullah dan para sahabat 14 abad yang lalu, padahal zaman telah berubah, ia sampai lupa pondasi mendasar dalam ajaran Islam. Mungkin, karena terlalu berambisi mendirikan Negara Islam, ia rela menafsirkan Al-Quran dengan membawanya ke dunia utopis dan lupa saudara-saudara kita yang berbeda agama dengan kita. Mungkin sebaiknya ia tidak pernah hidup di dunia, tapi di hutan atau surga saja[].

Wallahu ‘alam.