Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

     Sudah hampir dua bulan Ismaya diam di pondok Pesantren al-Mahabbah. Tapi dia merasa kurang setuju dengan salah satu Ustadz yang biasa memberikan ceramah kepada para santriwan dan santriwati. Ustadz itu selalu berkata bahwa jika kita memberikan satu, maka Allah akan memberi sepuluh. Jika kita memberi sepuluh, Allah akan memberi seratus. Jika kita beribadah, maka Allah akan memberikan syurga. Sebaliknya, jika kita terus maksiat, maka Allah akan menjerumuskan kita ke dalam neraka.

     “Ustadz, kenapa anda selalu mendidik kami untuk hanya mencari laba dihadapan Allah, seakan-akan Dia adalah Bandar. Padahal yang dicari oleh jiwaku bukanlah pahala, bukan syurga, bukan apa pun, melainkan Allah itu sendiri.” Suatu ketika Ismaya memberanikan diri untuk bertanya.

     “Kalau begitu untuk apa Allah mengiming-imingi hamba-Nya yang beribadah akan diberikan pahala dan syurga?” Tanya sang Ustadz

    “Justru arti kehidupan adalah antara lain menaklukan iming-iming. Seolah iming-iming syurga itu suatu kesengajaan agar manusia melakukan penjernihan atasnya, kemudian mencari, merindukan, dan kemudian mengejar sesuatu yang lebih hakiki, sejati, serta kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya, yakni hidup bersama Allah di rumah-Nya.” Tukas Ismaya dengan suara amat pelan dan penuh takdzim