(Catatan Perjalanan Seorang Pemuda Tolol)
Oleh: Sanghyang Mughni Pancaniti

      Malam semakin malam, sedangkan aku hanya mengusap perut di atas kasur, aku lapar. Dari pagi sampai pukul dua belas malam begini, hanya beberapa bungkus rokok dan tiga gelas kopi susu yang masuk memenuhi lambungku. Sedangkan nasi atau makanan yang seharusnya dilahap, semua terlupakan. Suara-suara aneh dari dalam perut sangat jelas terdengar di telingaku, semua rakyat yang ada di tubuh seakan memekik-mekik ingin haknya dipenuhi.

     Ketika aku membuka meja makan, tinggal piring kotor dan bekas makan keluargaku saja yang bisa dilihat. Dengan langkah gontai, aku berjalan dan kemudian duduk di kursi ruang tamu, sambil tetap menikmati geliat lapar ini.

Disaat kantuk mulai menyergap mataku yang lelah karena seharian kuliah, tiba-tiba ada suara piring yang dipukul sendok, pedagang mie tek-tek. Ya, pedagang mie tek-tek memang berdagang sampai jam dua pagi.

     Aku segera keluar rumah dan menghentikan tukang mie tek-tek itu, lalu bergegas mengambil piring dari dapur.

     “Mang, saya minta dibuatkan satu mie kering.” Aku memberikan piringku kepadanya yang sudah duduk di atas sebuah bangku kecil miliknya., “Jangan pake pedas.”

     Dengan sigap ia mengipasi arang yang ada di dalam sebuah kaleng supaya bara apinya membesar. Pedagang ini tidak memikirkan mahalnya minyak tanah, atau takut gas meleduk, karena dia masih memakai arang dan kaleng. Satu tangannya bertugas mengipasi arang, dan tangan lainnya mengaduk-aduk telur, mie, dan bumbu-bumbunya. Aku menikmati harum masakannya.

     Ketika ia membuatkan mie untukku, aku tidak masuk ke dalam rumah, melainkan duduk di depannya. Karena aku orang yang banyak bicara dan senang mengobrol dengan siapa pun, aku bertanya kepadanya,

     “Baru keluar dagang, Mang?”

     “Iya, Mas,” Logat jawanya sangat kental, “Saya biasanya sampai shubuh berkeliling.”

     Kalau dia berwatak maling, pasti ia tak akan pernah mau capek-capek berkeliling sepanjang malam untuk menjajakan dagangannya. Aku yakin kalau ketaqwaannya kepada Allah sangatlah besar, karena dia percaya bahwa rizki Allah tidak hanya di siang hari, dan aku berprasangka baik bahwa orang sepertinya selalu yakin jika Allah juga memberikan rizki-Nya kepada seekor nyamuk sekali pun.

     Aku sedikit mencandai si Mang tersebut, “Mang tahu nggak siapa presiden Indonesia?”

     “Nggak tahu, Mas.” Jawabnya sambil senyum-senyum.

     “Mang bercanda, ah?” Aku cukup kaget mendengar kalau ada rakyat Indonesia yang tidak tahu nama presidennya, tapi wajah kagetku tidak terlalu ditampakkan di hadapannya.

     “Bener, Mas. Saya nggak tahu.” Wajahnya tampak serius, “Saya nggak punya TV di rumah, jadi nggak pernah tahu  siapa presiden Indonesia.”

     Keterlaluan sekali, fikirku saat itu, manusia yang sudah menjabat kurang lebih enam tahun, dan sering nongol di TV atau spanduk-spanduk yang dipajang sepanjang jalan, tetap saja masih ada yang tidak mengenalinya. Kasihan sekali pak presiden, padahal ratusan juta bahkan milyaran rupiah telah ia habiskan, demi supaya senyum dan wajah ramahnya dikenali oleh rakyatnya. Kalau aku bandingkan dengan Kanjeng Nabi, beliau tidak pernah digambar wajahnya, tidak pernah dipotret oleh fotografer ternama, tidak pernah menyebarkan selembar kertas berisi yang ada wajah dan yel-yelnya. Dan meski beliau tidak punya akun facebook atau twitter, tapi milyaran manusia mendendangkan namanya saban hari. Milyaran manusia mengikuti tapaknya, dan milyaran manusia berharap bisa bertemu dengannya, dan rindu ingin bersanding di sisinya.

     “Jadi Mang nggak pernah tahu orang kesatu negeri ini? Atau paling tidak, Mang pernah memikirkannya?” Aku masih tidak percaya kepadanya, maka kembali kutanyai dia.

     “Buat apa, Mas, saya memikirkannya, toh dia juga pasti tidak pernah memikirkan saya. Yang penting buat saya, bagaimana saya sekarang bekerja keras dan mendapatkan uang untuk anak istri saya di rumah, biar mereka bisa makan, dan Gusti Allah tidak menuntut saya di akhirat kelak.”

     “Ya setidaknya Mang tahu lah tentang pemimpin kita, paling tidak namanya.” Aku masih tak berhenti berbicara, dan dia sibuk menyajikan mie tek-tek buatannya di piringku.

     “Saya tidak pernah mewajibkan diri untuk tahu atau memikirkan orang yang sedikitpun tidak ada pengaruhnya buat kehidupan saya dan keluarga saya.”

     Aku bukannya tidak mau melanjutkan perbincangan itu, namun perutku sudah tidak mampu lagi menahan lapar.

Bandung-29-Oktober-2011